SHAFIYYAH BINTI ABDUL MUTHOLIB (Bag 2)

1.2K 59 1
                                    

Peran Shafiyyah dalam Perang Khandaq
Setiap kali Rasulullah SAW pergi berperang, beliau selalu meninggalkan para wanita, orang tua, dan anak-anak di tempat yang aman. Pada saat Perang Khandaq, mereka dititipkan dibenteng / tempat tinggal Hasan bin Tsabit yang bangunannya terletak di tempat yang tinggi di atas sebuah bukit. Bangunannya kokoh, berpagar kuat dan sukar ditembus musuh.

Shafiyyah bersama para wanita serta anak-anak berada dalam benteng tersebut bersama Hasan bin Tsabit sang pemilik yang sekaligus ditugaskan Rasulullah SAW untuk menjaga mereka.

Hassan bin Tsabit, adalah seorang penyair yang masih sangat muda. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa urat tangannya putus hingga tak mampu mengayun senjata dan ikut perang. Ketika itu usia Shafiyyah telah mencapai 58 tahun.

Perang Khandak adalah perang yang terjadi antara pasukan Quraisy dari Kota Mekkah dengan kaum muslimin yang bertahan di Kota Madinah. Perang yang disebut juga dengan Perang Ahzab atau Perang Parit ini terjadi pada tahun 5 hijriyah atau tahun 627 Masehi. Pasukan Quraisy yang dibantu oleh yahudi Bani Nadhir dan Bani Wa’il hendak menyerang langsung Kota Madinah.

Untuk bertahan dan melindungi diri dari musuh yang menyerang, kaum Muslimin membuat parit disekeliling Kota Madinah.

Ketika kaum muslimin sedang mempersiapkan segala sesuatu untuk menghadapi kemungkinan serangan dari pasukan kafir Quraisy dan sekutu-sekutunya pada perang Khandaq, keadaan kota Madinah pada waktu itu sangat kritis. Saat itu kota Madinah sedang menghadapi ancaman genting dari dalam dan dari luar.

Kota Madinah tengah dikepung musuh dari berbagai penjuru, yakni pasukan Quraisy yang bersiap menyerang dari luar, di dalam kota Madinah sendiri ada Kaum Yahudi dari bani Quraidhah yang telah megkhianati perjanjian dengan Rasulullah SAW.

Di saat kaum muslimin sibuk di Khandaq, kaum Yahudi dari bani Quroidhah mengutus salah seorang dari mereka untuk memata-matai para wanita. Tujuannya untuk memata-matai dan mengacaukan konsentrasi pasukan muslimin. Apabila tidak ada laki-laki yang melindungi mereka, maka mereka akan dijadikan tawanan, dan bila hal itu terlaksana maka akan menjadi pukulan hebat terhadap kaum muslimin dan menjadi kekalahan yang telak bagi pasukan Islam.

Kaum Yahudi Bani Quraidhah mendatangi pondok tempat para wanita dan anak-anak dikumpulkan. Pondok memang tidak dijaga, lantaran seluruh kekuatan kaum muslimin dikerahkan untuk menjaga Khandaq dan menghadapi musuh yang sangat banyak. 

Ketika Shafiyyah sedang mengamati dan memperhatikan benteng pertahanan, Shafiyyah melihat sesosok bayangan bergerak di keremangan fajar. Ia curiga dengan bayangan yang mengendap-endap itu, ia yakin bahwa itu bukan bayangan pasukan muslimin. Pandangan dan pendengarannya terus mengikuti gerak bayangan itu. Ternyata seorang Yahudi sedang menuju pondok. Orang Yahudi itu bergerak mengelilingi pondok, memeriksa kalau-kalau ada pengawal yang menjaga. Shafiyyah segera mengetahui bahwa orang itu adalah mata-mata.

“Kaum Yahudi Bani Quraidhah melanggar perjanjian damai yang mereka buat dengan Rasulullah. Kini mereka terang-terangan membantu pasukan kafir Quraisy dalam memusuhi kaum muslimin. Seandainya musuh Allah yang satu ini tahu bahwa kami tanpa pengawal, pasti orang Yahudi akan menawan kami dan menjadikan kami hamba sahaya,” gumamnya dalam hati.

Karena khawatir, Shafiyyah segera menemui Hasan bin Tsabit dan berkata kepadanya :

“Wahai Hasan, orang yahudi itu telah mengelilingi benteng. Saya merasa curiga, jangan-jangan ia mata-mata. Ia akan menunjukkan kelemahan dan kekurangan kita kepada orang-orang yahudi. Pergilah dan bunuh orang itu!”

Mendengar kata-kata Shafiyyah, Hasan malah ketakutan. Sebab ia takut berperang, tidak berani menghadapi musuh. Lalu ia berkata,

“Semoga Allah mengampuni dosamu, wahai puteri Abdul Muthalib. Demi Allah, engkau telah tahu sejak dahulu, bahwa aku bukan tipe manusia pemberani. Aku tidak mempunyai keahlian dan kemampuan untuk berperang.”

Mendengar jawaban Hasan, Shafiyyah merasa kecewa namun dia tidak dapat memaksa Hasan untuk melakukan apa yang diinginkannya.

Ketika itu isteri-isteri Rasulullah berada dalam bahaya dan Shafiyyah tidak bisa berdiam diri tanpa berbuat apa-apa. Dengan cepat Shafiyyah berganti pakaian. Diambilnya sebuah tongkat, lalu ia turun mendekati pintu. Direnggangkannya pintu perlahan-lahan, kemudian dari celah-celah pintu itu, shafiyyah mengamati si Yahudi.

Pada saat yang tepat, Shafiyyah memukul kepala si Yahudi dengan tongkat. Orang Yahudi itu langsung jatuh tak sadarkan diri dan dengan sigap, Shafiyyah memburu dan memukulnya kembali dengan pukulan bertubi-tubi, hingga mati.

Shafiyyah kemudian kembali ke dalam rumah dan membuang tongkat pemukul yang dibawanya. Tersirat kegembiraan pada kedua matanya, karena mampu menghabisi musuh Allah yang berarti pula menjaga rahasia persembunyian para wanita dan kaum muslimah dari mereka. Shafiyyah bergegas menemuai Hasan lagi dan berkata,

"Hai Hasan, aku telah membunuhnya, karena ia bukan muhrim saya, pergilah engkau mengambil hartanya, lepaskan pakaiannya dan penggallah lehernya!"

Sekali lagi Hasan tidak bersedia melakukan permintaan Shafiyyah karena keadaannya yang tidak memungkinkan. Jawaban Hasan tetap sama seperti semula.

“Saya tidak berkepentingan untuk melucutinya wahai binti Abdul Muthalib.” Jawab Hasan

Shafiyyah yang kecewa dengan kata-kata Hasan, keluar sekali lagi dari rumah itu. Dia menghampiri mayat si Yahudi, melucuti sendiri barang-barang dan pakaian orang Yahudi yang telah mati itu dengan cepat. Shafiyyah kemudian memotong kepala si Yahudi dan menggelindingkannya ke luar benteng sehingga jatuh ke bawah bukit.

Melihat kepala temannya menggelinding turun dari atas benteng, nyali orang-orang Yahudi menjadi ciut. Salah seorang dari mereka berkata,

“Kita sudah tahu, Muhammad tidak akan meninggalkan kaum wanita dan anak-anak tanpa ada yang menjaga.”

Orang-orang Yahudi yang bersiap menyerang benteng, saling menyalahkan. Mereka pun segera angkat kaki dengan ketakutan.

Demikianlah karena keberanian Shafiyyah, benteng itu akhirnya selamat tanpa ada serangan dari kaum Yahudi. Kaum muslimin mendapatkan kemenangan dalam perang ini dengan ridho dan kasih Allah SWT.

Shafiyyah adalah wanita Islam pertama yang berjaya membunuh musuh Islam. Dia tidak gentar walaupun tiada seorang lelaki pun yang membantunya saat menghadapi Yahudi itu. Kelembutan yang biasanya dicitrakan kepada wanita bukan berarti dia tidak dapat berbuat tegas dan kuat. Apalagi jika menyangkut kehormatan yang harus dijaganya, maka seorang wanita muslim harus harus berani mengambil tindakan dan bertawakal kepada Allah.

Rasulullah SAW merasa senang dengan peran para mujahidah sehingga mereka juga mendapatkan bagian dari rampasan perang.

Penghianatan Yahudi Bani Quraidhah pada perang Khandaq, akhirnya memicu serbuan kaum muslimin terhadap kaum Yahudi tersebut ketika perang usai. Hal itu menyebabkan kaum Yahudi Bani Quraidhah terusir dari Kota Madinah.

Wafatnya Shafiyyah binti Abdul Muthalib
Rasulullah SAW sangat mencintai bibinya, Shafiyyah, dan senantiasa memuliakan beliau. Tatkala Rasulullah SAW wafat, Shafiyyah merasa sangat sedih dan kehilangan. Shafiyyah membuat syair yang indah sebagai bukti kehilangan beliau atas wafatnya pemimpin umat Islam.

Diantara isi syairnya adalah :
Wahai mata, tampakkanlah air mata dan janganlah tidur.
Tangisilah sebaik-baik manusia yang telah tiada.
Tangisilah al-Musthofa dengan tangisan yang sangat.
Yang masuk ke dalam hati laksana terkena pukulan.
Nyaris aku tinggalkan hidup tatkala takdir datang padanya
Yang telah digariskan dalam kitab yang mulia
Sungguh beliau pengasih kepada sesama hamba
Rahmat bagi mereka dan sebaik-baik Pemberi petunjuk
Semoga Allah meridhainya tatkala beliau hidup dan mati
Dan membalasnya dengan Jannah pada hari yang kekal

Sepeninggal Rasulullah SAW, Shafiyyah hidup dengan penuh kewibawaan dan dimuliakan,  semua orang mengetahui keutamaan dan kedudukan beliau.

Tatkala Perang Khaibar pada Masa Khalifah Abu Bakar, Shafiyyah keluar bersama kaum muslimah untuk memompa semangat pasukan kaum muslimin. Mereka membuat perkemahan di medan jihad untuk memberikan perbekalan dan mengobati pasukan yang terluka karena perang.

Pada masa kekhalifahan Umar bin Khaththab, yaitu tahun ke-20 H, Shafiyyah binti Abdul Muthalib wafat pada usia lebih dari 70 tahun. Shafiyyah dimakamkan di Baqi’.

HIKAYAT MUSLIMAH TELADANTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang