Weww ... ini pertama kalinya daku bikin cerita Gay. Dari dulu aku pingin banget bikin cerita ini, Rasanya berdebar. Hihihi. Aku emang suka cerita bergenre Gay BoyxBoy, ManxBoy, dan lain yang sejenis itu. Jadi berhubung pertama kali, mohon bimbingannya ya kakk ... apabila ada kesalahan-kesalahan, kritik dan saran sangat diperlukan ^_^. Yaudah selamat membaca. Ditunggu Vommentsnya.

*************

Kau hebat dad, terimakasih sudah membuat diriku harus beradaptasi kembali ... bertemu dengan manusia-manusia aneh dan mencoba bersikap manis kepada mereka. Aku benci bersikap manis. Apapun itu yang menyangkut soal manis, pasti selalu menjijikkan. Yeah ... apapun itu.

"Pagi sayang. Siap untuk hari pertamamu?" beri aku suatu penjelasan. Sudah berapa kali aku mendengar pernyataan itu dalam setahun?

Kurasa ini yang ketujuh!

"Entahlah mom, Kenapa dad selalu saja berpindah-berpindah kerja?" Gumamku frustasi. Aku menusuk-nusuk telur mata sapiku dengan membabi buta. Bisa kulihat kuning telurnya mulai terpisah dengan sisi putih telurnya. Well, Apa tidak ada bacon untuk pagi ini?

"Oh ... lihatlah putramu Raymond, dia menanyakan tentang ada apa dengan pekerjaanmu!" Mom menatap dad dengan pandangan tidak suka. maksudku, karena dad selalu saja cuek ketika membahas persoalan ini.

Dad meneguk kopinya sekali lagi. Dengan ketenangan yang mampu menenangkan seekor gajah yang mengamuk dia berkata, "Apa yang harus kuperbuat sayang? Aku tidak bisa menolak atasan. Kau tahukan bagaimana profesionalnya mereka? Aku janji, akan kuusahakan agar kita tidak berpindah-lagi setelah ini, ya ... kurasa ... supaya kita akan menjadi keluarga bahagia yang menetap dikota yang indah ini." Kemudian, setelah itu Dad menatap Mom dengan penuh kasih. Kedua matanya melebar sangking antusiasnya.

Shit! Apa hubungan antara pekerjaan Dad dengan keluarga bahagia? Aku yakin ini hanya akal-akalan dad saja supaya mom tersipu.

Lagipula, siapa yang bisa mempercayai seorang pria yang sudah tujuh kali pindah kerja dalam setahun? Dan jika kau bertanya seperti itu, jawabannya adalah seorang Lily Walcott. Apa kau sudah kuberitahu siapa itu Lily Walcott? Kalau belum biar kuberitahu, Lily Walcott adalah ibu dari satu-satunya anak bernama Luke Walcott, dan sialnya Luke Walcott itu adalah aku!

Jadi intinya, Raymond Walcott yang sudah menghabiskan waktu setahunnya untuk berpindah-pindah kerja adalah seorang ayah dari Luke Walcott. Dan Lily Walcott, perempuan cantik yang bila kau memandangnya dari satu sisi terang, kau akan menganggapnya sebagai bidadari, dan kalau dari sisi gelap, kau akan memandangnya sebagai malaikat. Dan betapa berungtungnya aku karena dia adalah ibu sekaligus istri dari keluarga Walcott.

Jadi menjadi anak dari pasangan Walcott adalah keberuntungan sekaligus kesialan yang berpadu menjadi sebuah ketidak normalan. Dengan kesialan yang menjadi dominan dan Keberuntungan menjadi resesif.

Sampai sini kau tahu maksudku-kan? Aku tak punya waktu banyak saat ini dan seterusnya, Jadi jangan paksa aku untuk menjelaskannya lagi.

"Oh ... kau sangat manis sayang. Itulah sebabnya kenapa aku memilihmu waktu itu." Mom berucap dengan sangat antusias menanggapi ucapan Dad.

Sial ... drama ini akan terus berlanjut selama beberapa jam kedepan. Thanks God, hari pertama sekolah dan disambut drama spontan oleh orang tuaku. Apa ada yang lebih bagus dari ini? Tentu saja, bukannya nanti aku juga harus berdrama juga? Sekarang aku bertanya kepadamu, apakah hidup itu selalu berkaitan secara spontan dengan opera sabun?

"Em ... Mom, Dad ... aku harus berangkat sekarang!" Ucapku dengan penekanan kata 'sekarang' agar dad tersadar bahwa ada anaknya yang baru berusia 16 tahun disini. Dan kalian tahu mereka membahas apa? Apa aku harus menceritakannya? Aku rasa tidak perlu. Lagi pula aktivitas sex sudah melekat dalam dagingku.

Two Populars (Boy x Boy)Baca cerita ini secara GRATIS!