1. Wounded and A Hero

4.2K 196 14


"Gila! Mam benar-benar udah gila! Asma gue kambuh kalau kaya gini ceritanya!" Aku berjalan bolak-balik di hadapan sahabatku, Zeya, yang menatap penuh kebingungan.

"Lo nggak punya penyakit asma, Kate," ujarnya lemas. Aku menatapnya sebal dengan mata melotot.

"Gue bisa aja tiba-tiba kena Asma, Zeya!" Ujarku panik. Zeya menggeleng-geleng resah, ia berdiri dan menarik tanganku untuk duduk di sisi tempat tidur bersamanya.

"Well, kenapa lo nggak terus terang aja kalau lo mau kerja di dunia modeling." Aku shock berat mendengar saran dari sahabat yang sangat ku sayang namun sedikit oon ini.

"Lo udah temenan sama gue hampir seumur hidup lo, dan ternyata lo belum kenal keluarga gue dengan baik. Sebelum sempat gue bunuh diri karena nerima penolakan dari mereka, mereka bakalan mati duluan karena shock." Aku mengatakannya dengan penuh emosi yang memang terkesan seperti ku buat-buat. Tapi percaya atau tidak, kurang lebih seperti itulah kejadiannya jika aku utarakan cita-cita terbesarku ingin menjadi seorang model pada kedua orangtuaku yang berpendidikan tinggi dan menganggap model hanya kumpulan wanita yang bisanya sekedar besolek, berlenggak-lenggok, tidak berpendidikan, meraih uang dengan cara tidak pantas yaitu dengan mempertontonkan keelokannya, dan sebagainya. Kolot? Ya begitulah kira-kira.

"Truth does hurt, honey." Komentar singkat Zeya yang membuatku merebahkan tubuhku ke atas tempat tidurnya yang kurasa sangat nyaman untuk bermalam.

"Malam ini gue nginep sini, ya..." Aku berikan intonasi semanis mungkin pada Zeya yang tengah melihat ke arahku tidak percaya.

"Lo mau nyokap lo lapor polisi lagi dan nyokap gue dengan shocknya nyeramahin gue karena udah nyulik anak orang. Cukup sekali gue alami itu, Kate. Lo baru boleh nginep sini kalau udah dapet restu dari bonyok lo. Kalau nggak, gue sendiri yang bakalan lapor polisi!" Zeya berdiri sambil berkacak pinggang di hadapanku. Mau tidak mau aku duduk dan tertunduk pasrah.

"Mereka memperlakukan gue seolah gue ini masih anak-anak." Ibaku.

"Umur lo emang udah gede, tapi tingkah lo, Kate, gue rasa mereka sedikit pantas memperlakukan lo begini." Suara Zeya merendah.

"Sedikit pantas?"

"Memang pantas!" tegasnya. Aku menghela nafas berat, berdiri dan meraih tas tanganku, beranjak dari kamar Zeya yang mengikuti dari belakang.

"Ke mana lagi gue harus mengadu? Sepertinya gue emang harus ke psikolog yang dengan suka rela mendengarkan segala curhatan gue, tanpa nge-judge, bahkan ngebelain orangtua gue!" Ujarku putus asa. Dengan terseok-seok aku menuruni tangga. Aku mendengar Zeya menarik nafas, aku rasa dia ingin memprotes ucapanku lagi.

"Well, mereka nggak sepenuhnya suka rela dengerin curhatan lo. Lo bayar mereka buat itu, Kate. Dan itu namanya bukan suka rela." Benarkan? Kenapa aku harus punya teman yang cepat berpikir seperti Zeya? Mungkin agar hidupku ini lebih seimbang? Agar selalu ada yang bisa meluruskanku saat otak-otakku mulai bekerja semrawutan. Meski kesal, bagaimanapun aku bersyukur ada Zeya yang masih setia menyandang predikat sahabat bagiku.

***

"Mam, aku pulang..." teriakku dari depan pintu. Tidak melihat tanda-tanda kehadiran Mam yang akan menyambut kedatanganku, aku melangkah masuk. "Aku memutuskan untuk melakukan gencatan senjata." Ujarku seraya mengangkat kedua tangan ketika Mam tiba-tiba muncul bagai hantu di hadapanku.

"Gencatan senjata yang kamu maksud adalah..."

"Lakukan yang mau Mam lakukan." Kataku cepat. Mam mengerutkan keningnya. Aku ralat kalimatku dengan segera. "Maksudnya aku akan lakukan apa yang Mam inginkan."

KATE THE SPYBaca cerita ini secara GRATIS!