Dita : Aku Jatuh Cinta

15.7K 612 33

Fiuh! Aku menatap malas ke arah pintu lift, mendongak sedikit dan mendapatkan satu pengetahuan bahwa lift sedang berjalan menuju lantai empat.
Itu berarti, aku harus menunggu lift itu kembali ke lantai satu, tempatku sekarang.
Iya! Aku memang kurang kerjaan, alih-alih menaiki tangga darurat agar paling tidak menyingkat waktu untuk sampai di lantai empat, aku malah bersandar. Ah, lagipula aku sedang malas naik tangga darurat.
Bibirku berkedut sendiri menahan senyum, mengingat mimpi semalam. Astaga! Bagaimana bisa aku mimpi begitu? Haish! Aku menggaruk gemas tembok tempatku bersandar.
Ya ampun Dita! Jangan-jangan ini pertanda....
Ya Allah! Ugh!
Makin gemas, kugaruk lagi tembok itu.
Pipiku memanas, mungkin juga memerah ketika mengingat kembali mimpi semalam.
Aku dan dia bermesraan sebagai suami istri. Kuraba pipi sekilas. Ah rasanya masih terasa bagaimana pipinya menempel ke pipiku. Juga lengan kokohnya yang melingkari pinggangku. Posisi yang cuma bisa kulihat di komik itu benar-benar kurasakan. Duh! Mamah!
Ya... meskipun cuma dalam mimpi, tapi tetep aja kan... bikin bapeeer... apalagi sama diaaaa!
Aku menekan perasaan gembira itu sebisa mungkin. Ini di lingkungan kampus, dan yang semalam cuma mimpi! Tapi... ya Allah... semoga yang semalam bukan hanya sekadar mimpi ya Allah, tapi bakal jadi kenyataan juga! Aamiin!
Ting!
Pintu lift terbuka, aku buru-buru masuk. Ketika membalikkan badan, aku justru hampir kehilangan keseimbangan.
Ada... dia!
Oh ya ampun! Gimana nih? Jantungku berdegup tak karuan. Beneran dia, kan?
Dengan tenang ia juga melangkah masuk ke dalam lift.
Kami... cuma berdua? Di dalam lift?
Jantungku berdetak lagi. Sumpah! Ini bukan adegan dalam film, tapi kok aku mendadak merasa jadi karakter utama begini?
Aku menekan tombol angka empat ketika pintu lift tertutup.
Duh! Kok bisa kebetulan gini, sih? Gimana, ya? Sapa, enggak, sapa, enggak, sapa... haish!
"Mau kemana, Pak?" Itu suara siapa? Astaga! Itu suaraku! Suaraku, lho! Ganbate Dita.
Ia menoleh sekilas, tinggi badannya memang sedikit membuatku terintimidasi sekaligus mendamba! Astaga! Apa, Dit? Coba ulangi sekali lagi? Kakiku bergerak gelisah.
"Eh ada Bu Dita." Jawabnya sambil tersenyum iseng.
Hellow! Emang situ kira dari tadi saya siapa? Hah?
Apa? Dari tadi?
Tunggu! Dia dari tadi juga nunggu lift? Terus dia liat aku garuk-garuk tembok keganjenan, dong! Ya ampun, Dit! Pura-pura mati aja sana!
"Mau ke Lantai empat ketemu Prof. Gandhi, kalau Bu Dita?"
Aku Bu, kamu Pak, lalu di mana anak-anak hasil cinta kita? Huhu siang-siang Dita ngaco!
"Mau ketemu Tanti." Jawabku ringkas. Bahkan ternyata tujuan kita pun sama. Tanti, kan, sekretarisnya Prof. Gandhi. Itu artinya kita akan ke ruangan yang sama. Ya ampun! Jodoh banget sih mamaaaah!
Rasanya ada sesuatu yang ingin kugaruk karena gemas. Tapi urung. Sebab ada Dia, Ragil, lelaki yang kudamba setengah mati saat ini. Juga... ternyata pintu lift sudah terbuka. Kami sudah tiba di lantai empat.
Cepet banget siiih! Hellow bisa nggak bawa kami ke lantai empat puluh aja, biar lamaan dikit kita barengannya. Tapi sayangnya gedung ini hanya empat lantai.
***
Namanya Ragil Tantra, seorang dosen biostatistik yang sangat pintar. Kami memang berbeda departemen. Aku sendiri seorang staff di departemen Epidemiologi. Aku lupa kapan pastinya kami jadi saling mengenal, tapi aku lebih tidak tahu kapan aku mulai merasakan debaran-debaran aneh ketika kami bertemu. Bahkan hanya ketika telingaku menangkap namanya dalam sebuah pembicaraan karyawan atau mahasiswa, aku tak bisa mencegah bahwa ada sesuatu yang berdesir di dadaku.
Parahnya, bukan hanya di lingkungan kerja, aku bahkan mulai memimpikannya. Entah mimpi hanya sekadar figuran atau karakter utama. Ia tetap berkontribusi di setiap mimpi-mimpi malamku. Semalam adalah puncaknya, aku bermimpi sebagai istrinya. Ya Ampun! Jangan-jangan aku memang perlu ke psikolog!
"Tan... lama-lama aku bisa gila! Kenapa dia unyu banget sih, ya, Allah....! Hamba kan jadi lemaaaah...!" Gerutuku lebay sambil menyandarkan kepalaku di tembok.
Tanti, yang ada di hadapanku tampak tak begitu peduli, dan malah asyik memakan lontong sayurnya.
"Unyu? Kata elo doang kali, gue enggak!"
Dih! Nggak sopan! Aku mendesis kesal pada Tanti yang memang selalu tega memberikan komentar yang membuat khayalanku jatuh tiba-tiba.
Tapi iya sih, sebenarnya Ragil memang nggak unyu-unyu banget! Dibandingkan dengan Rai, si ketua BEM fakultas yang selalu dielu-elukan hampir seluruh mahasiswa dan karyawan yang benar-benar perempuan maupun yang 'beranggapan' sebagai perempuan.
Tapi kan tetep aja Ragil yang bertahta di benakku sekarang ini.
"Tan...! Tanti....! Huwaaaa aku nggak tahan kalau begini terus...! "
Tanti melirikku sekilas, kemudian kembali fokus ke makanan di hadapannya. Sumpah! Tanti ini jadi sekretaris professor kok nggak ada anggun-anggunnya sih! Selebor bener. Prof Gandhi juga kenapa tabah banget punya sekretaris selebor begini. Makan lontong sayur di ruang kerja pada jam kerja.
"Aku yang lebih tabah ngikutin ritme kerja beliau yang ampun-ampunan kaya nggak ada pause-nya itu!" Semprot Tanti dulu ketika aku protes tentang keseleborannya.
Kembali ke masa sekarang, Tanti menarik kerah kemejaku hingga aku bisa kembali duduk dekat.
"Gimana mau tahan kalau kamu duduk miring begitu? Salah urat tau rasa!" Omelnya.
Lha? Aku mah nggak tahan bukan masalah posisi duduk!
"Bukan itu, dodol! Maksudku aku nggak tahan lama-lama mendem perasaan ini ke dia."
"Ooh...!"
Ooh?
"Ooh doang?"
Tanti menoleh lagi, "Emangnya kamu mau apa? Lontong sayur?" Tanyanya dengan wajah polos.
Yeee...! Aku lempar aja deh ni bocah dari lantai empat!
"Auk ah bodo amat!" Aku memberengut kesal.
"Yaudah." Jawabnya cuek. Ya ampun! Dosa apa aku malah doyan curhat ke cewek begini? Sama sekali nggak solutif! Tapi memang cuma Tanti satu-satunya orang yang kupercaya untuk menyimpan rahasia ini. Rahasia bahwa aku ada hati dengan Ragil, berikut mimpi-mimpi konyolku.
"Jadi kamu ngapain ke sini?" Astaga! Aku kok jadi lupa mau ngapain ke sini? Hahahaha, aku nyengir sekilas. Deuh gara-gara ketemu dia di lift malah berujung curhat sama Tanti.
Padahal tadi aku dapat tugas dari Bu Tria untuk mengambil beberapa berkas dari Prof Gandhi.
Uh oh! Sudah jam berapa ini? Jangan sampai aku kena semprot Bu Tria gara-gara lelet melaksanakan tugas, padahal jarak gedung departemen epidemiologi ke gedung tempat Prof Gandhi berada tak terlalu jauh.
Aku memaksa Tanti untuk segera memproses kebutuhanku. Sambil menggerutu Tanti bersedia meninggalkan makanannya dan memproses berkas-berkas yang kuperlukan.
Kulirik Ragil yang masih berdiskusi dengan Professor muda itu. Desir-desir lembut mulai mengalun.
Duh Gusti... apa benar aku jatuh cinta padanya?

***
TBC

Note : yuk2 tebak2an, part berikutnya kelanjutan ceritanya gimana? ><

The Chain (Berantai)Baca cerita ini secara GRATIS!