Mozart-alunan yang menuntunku

3.7K 171 10

♪♪♪
Aku menepuk kedua tanganku saat alunan violin yang lembut itu berhenti. Wanita yang memainkannya hanya tersipu malu sambil berusaha menyembunyikan kekhawatirannya.

"Bagaimana permainanku?" Ucapnya gugup.
Aku mengacungkan ibu jariku. "Bagus sekali. Seperti biasa." Ucapku.
"Eh? Seperti biasa? Berarti tidak ada kemajuan, dong?" Ucapnya kecewa.
Aku tertawa. "Tapi permainan mu memang sempurna seperti biasa." Ucapku meyakinkan nya.
Dia terdiam sejenak sampai ia membuka bibirnya.
"...apa kau fikir aku akan menang?" Ucapnya ragu.
Aku mengangguk pelan. "Sudah pasti." Ucapku.
Dia tersenyum kecil. "Kalau begitu aku akan latihan lagi..!" Ucapnya bersemangat.

Ia mulai memainkan lagu chopin yang menjadi penentu kemenangannya di perlombaan musik internasional yang diselenggarakan dua bulan lagi. Ia tidak berhenti berlatih sampai jarinya lecet. Dia memang tidak pantang menyerah.

Namaku Claire Krystabelle. 16 tahun. Tidak ada yang tidak mengenal keluargaku. Orangtua ku memegang saham terbesar di negaraku. Dan Teressa, saudara kembarku, adalah pemain violin terkenal dan sudah memenangkan berbagai macam perlombaan.
Aku dan Teressa kembar yang identik. Tidak ada yang dapat membedakan kami kecuali orangtua kami. Kami kembar dari segi fisik maupun sifat. Kami memakai pakaian yang sama, dengan warna yang sama, dan gaya rambut yang sama. Bahkan kami menyukai hal-hal yang sama. Contohnya makanan kesukaan kami dan jenis film yang kami sukai.
Yang dapat membedakan kami hanyalah satu.
Teressa menyukai musik lebih dari apapun. Untuk itu dia menjadi pemain violin sejak umurnya menginjak 9 tahun. Sedangkan aku? Tidak. Aku sama sekali tidak tertarik dengan dunia musik. Aku hanya menyukai permainan Teressa, selain itu tidak ada.
Walaupun seluruh orang berkata jika kami berdua sangat lah mirip. Tapi tidak menurutku. Teressa bersifat kekanakkan dan mudah bergaul. Bahkan dia mempunyai banyak teman. Sedangkan aku lebih suka mengurung diri dan menjauhkan diriku dari orang-orang. Karena itulah aku tidak mempunyai banyak teman.
Menurutku aku tidak membutuhkan teman. Satu-satunya orang yang dekat denganku hanyalah keluarga ku. Ibu, ayah dan Teressa. Itu saja sudah cukup bagiku.

"Claire..?" Ucap Teressa tiba-tiba.
"...Y-ya?" Ucapku stengah kaget.
"Kau melamun lagi, ya? Aduuhh kapan sih kebiasaan mu itu berhenti..!" Omel Teressa kesal.
"Maaf..," ucapku tertawa.
"Yaya lupakan." Ucapnya. "Apa kau dengar tadi aku bicara apa..?" Lanjutnya.
Aku menggeleng pelan.
"Yaampun dasar kau ini." Ucapnya jengkel. "Jadi begini, tadi aku bertanya apa sepulang sekolah ini kau ingin ketempat les ku atau tidak. Jadi apa jawabannya?" ucapnya.
Aku menatapnya jengkel. "Bukan kah sudah kubilang berkali-kali jika aku sama sekali tidak tertarik dengan dunia musik!" Ucapku.
"Tapi kau kan belum mencobanya! Kau saja menyukai permainan ku!" Ucapnya kesal.
Aku membuang pandanganku.
"Pokoknya aku tidak mau. Titik."
"kenapa, sih? Sebenci itu, ya?" Ucapnya heran.
"Siapa yang bilang aku benci? Aku hanya tidak berminat." Ucapku.
"Kumohon cobalah bermain violin sekali......, saja!" Ucapnya memohon.

Aku menggelengkan kepalaku.

"Kumohon..?" Ucapnya lagi.
Aku menggeleng kepalaku.
Dia menatapku kesal. "Dasar menjengkelkan. Aku tidak akan menyerah!" Ucapnya sambil berlari meninggalkanku.
Aku hanya menatapnya bingung.
"Anak itu kenapa, sih? Kalau mau main musik kan tinggal main saja? Kenapa harus mengajak aku juga? Aneh." Ucapku jengkel.

♪♪♪♪♪
Jam pelajaran berjalan sangat lambat sampai akhirnya bel pulang pun berbunyi. Seluruh murid pun langsung menuju ke kelompok nya masing-masing. Sedangkan aku masih duduk di bangku ku dan menunggu Teressa datang menjemputku.

"Claire....!!!" Panggil Teressa dari luar kelasku. Suaranya begitu keras sampai-sampai seisi kelasku menatap aneh kearah kami berdua.
Aku langsung berjalan menghampirinya dengan wajah kesal.
"Ayo pulang." Ucapnya sambil tersenyum kecil.
"Lain kali bisa kecilkan suaramu, tidak?" Ucapku kesal sambil menariknya pergi.

Summer Air MelodyBaca cerita ini secara GRATIS!