Kenikmatan sebuah botol wine yang dibuat tahun 2002 seperti kebahagian kecil tersendiri untuk Soojung, sembari menikmati segelas wine ia mulai menggerakkan tangannya meraih pensil yang biasa ia gunakan untuk membuat pola design interior berikutnya. Bisa dibilang ini kerja sampingannya —ya sebagai designer interior biasa tentunya, sejujurnya Soojung tak perlu menekuni hobinya untuk sekedar mengisi uang sakunya. Ia bisa saja menghubungi ayahnya untuk mengirimkan sejumlah uang yang ia ingin hamburkan. Namun, menghamburkan uang bukanlah kebiasaan Soojung, bahkan ia lebih memilih tinggal diflat sempit dan mencoba hidup yang berbeda —apa salahnya bukan?

Soojung kerap sekali dipanggil si-Mysterious dikantornya, karena ia terus diam dan berada didalam ruangan kerjanya bersama buku sketsa dan berbagai macam jenis potongan kayu maupun besi setiap harinya. Namun ia juga sangat mencintai fashion, ia selalu berpakaian santai bak remaja bahkan banyak yang tak mengira ia seorang gadis berumur 24 tahun bergelarkan sarjana S2 kelulusan Universitas nanbergengsi dan mendapatkan embel-embel Cumlaude dibidang design tentunya. Ia tak pandai berbicara, begitupun dengan tersenyum. Wajahnya yang innocent, mata kecoklatannya yang bulat sempurna, tak lupa daun telinganya yang dihiasi 2-4 piercingan. Tentu tahu apa bila ia tak pandai bicara maka ia tak pandai bersosialisasi? Ya memang benar itu faktanya.

Temannya bisa dihitung oleh jari, namun ia tak merasa itu adalah big deal untuk menjalani hidupnya. Waktu terasa begitu cepat, kini matahari sudah tenggelam dan waktunya Soojung bergegas untuk segera pulang menuju flat-nya.

Sesampainya ia diflatnya, ia menemukan Jongin dikamarnya yang tengah melentangkan badannya pada kasur empuk yang notabenenya milik Soojung, ia menghampiri lelaki itu dan melepaskan jas kantor milik Jongin —ya ini sudah menjadi kebiasaan mereka.

"Kau merokok lagi?" Tanya Soojung setelah ia menemukan bungkusan rokok dijas kantor milik Jongin.

"Ya, hanya 1 batang" Ucap Jongin dengan santai.

"Sampai kapan? Kau mau aku janda?" Soojung mulai menunjukkan muka sedihnya yang dibuat-buat.

"Tenang saja, aku mulai mencoba berhenti untuk calon istriku" ujar Jongin semakin senang menggoda Soojung.

Soojung langsung menatap tajam kearah Jongin.

"Menjijikan, aku bahkan sampai tak terpikir mau menjadi istrimu" Mimik muka Soojung kembali normal, ia merutuki yang iya katakan tadi.

"Siapa yang mau padamu? Badan kurus dan galak mirip anjing tetanggaku" ujar Jongin memandang malas tubuh Soojung.

"Sialan kau" ujar Soojung tengah berkesiap menendang Jongin.

"Kau baru sampai?" Jongin menyela kegiatan nendang-menendang tersebut.

"Kau tak lihat aku masih berpakaian kantor? Matamu dimana bodoh?" Ujar Soojung sambil memutar kedua bola matanya.

"Oke maafkan aku yang tampan ini" Soojung memasang wajah menjijikan setelah mendengar ucapan Jongin.

"Bicara saja pada bokongku" Ujar Soojung dengan mulai bangkit dari tempatnya.

"Bisakah kau buatkanku ramyeon?" Ujar Jongin sambil menempatkan posisi duduknya yang nyaman.

"Kau tidak punya tangan hah? Kau fikir aku pembantumu? Buatlah sendiri! Aku mau mandi"

"Ah kalo begitu kita mandi berdua saja" ujar Jongin dengan santai,

Soojung melebarkan matanya dan memberikan tatapan "kau ingin mati huh?" pada lelaki dihadapannya.

.
.

Begitulah Soojung dan Jongin seperti anjing dan kucing, dibalik itupun sesungguhnya mereka saling mencintai namun tak bisa bersatu akibat kesalahan Jongin yang terdahulu.

Kaistal: LoserBaca cerita ini secara GRATIS!