Bab 1: Iredir, Ueyr dan Ueryel

38 1 0

LANGIT belum terang. Malam sudah beranjak pulang sementara matahari belum lagi datang. Hawa masih terasa dingin namun kesenyapan sudah lama melesap. Bukan hanya kokokan ayam dan kicauan burung saja yang telah menggantikan lolongan anjing dan serigala malam. Bunyi derak pembaringan menandakan seseorang telah terjaga, kucuran air, desis api di atas tungku, obrolan-obrolan ringan dan langkah kaki orang-orang yang sudah mulai beraktivitas telah mengisi hari. Penduduk Gnakam Boh telah terbangun dari tidur malamnya. Begitu pula dengan Iredir, Ueyr dan Ueryel, tiga kakak beradik yang kelak akan membangunkan Gnakam Boh dari mimpi buruknya.

"Ueryel, berikan ramuan ini pada Amua. Nanti Amua marah-marah lagi kalau kepalanya pusing," perintah Iredir, menyuruh adiknya memberikan obat kepada ibu mereka.

"Kenapa harus aku?" tolak Ueryel.

"Karena kau pendek!" sahut Ueyr menyeringai jail.

Iredir adalah anak laki-laki sulung berusia lima belas kali revolusi bumi. Tubuhnya jangkung dan agak kurus. Kedua matanya kecil. Rambutnya dipangkas amat pendek. Dia selalu bersikap tenang dan bisa diandalkan oleh kedua adiknya. Lalu Ueyr, lahir dua revolusi bumi setelahnya. Ueyr memiliki sepasang mata yang tajam. Dia adalah anak laki-laki yang tangkas tetapi agak tidak sabaran, gampang marah-marah. Namun Ueyr memiliki semangat tinggi dan tidak mudah berputus asa. Terakhir Ueryel, adik bungsu mereka. Pipinya agak bulat. Dia membiarkan rambutnya memanjang hingga menggantung di bawah telinga. Ueryel sangat pandai meniru ekspresi wajah dan suara seseorang. Dia punya kebiasaan buruk menendang apa pun yang berada di depannya. Usianya tiga revolusi bumi di bawah Ueyr.

Ketiga bersaudara ini tinggal bersama kedua orangtua mereka. Amu dan Amua (sebutan untuk ayah dan ibu) mereka adalah pembuat pakaian dari kulit pohon. Kebiasaan suku Haedor adalah mewariskan pekerjaan secara turun-temurun kepada anak cucu mereka. Seorang suku Haedor dapat diketahui silsilahnya dilihat dari pekerjaannya. Ada kelompok-kelompok keluarga yang berasal dari keturunan pembuat penganan, peladang, peternak atau penyembuh. Termasuk juga perangkat Gnakam, khususnya kepala Gnakam, diwariskan dari generasi sebelumnya. Iredir, Ueyr dan Ueryel dilahirkan dari keturunan para pembuat pakaian. Namun, menurut cerita lama, nenek moyang mereka dahulu adalah para penyembuh. Akibat perang, banyak hal berubah.

"Eh, Ueryel, sekalian, nih! Berikan pula obat demam untuk Amu!" sambung Iredir seraya melemparkan kendi kecil berisi ramuan dari bayam duri segar. Ueryel menyambutnya lalu menghilang di balik tirai yang memisahkan bilik mereka dari bilik lainnya.

Setelah meramukan obat untuk orangtuanya, Iredir menyiapkan keperluannya. Seperti hari-hari biasanya dia dan adik-adiknya pergi ke hutan Dou untuk mencari tumbuhan yang bisa dimanfaatkan sebagai obat. Sementara itu Ueyr sedang mengasah anak panah miliknya yang biasa dipakainya untuk berburu.

Dahulu, suku Haedor merupakan satu kesatuan yang dikepalai oleh seorang Ekna. Namun sejak peperangan suku Haedor pun terpecah-belah. Sekarang suku Haedor terbagi tiga dan mendiami tiga Gnakam yang berbeda, yakni Gnakam Boh, Gnakam Idori dan Gnakam Alakes. Masing-masing Gnakam dikepalai oleh seorang Ekna.

Dalam peradaban suku Haedor, orangtua berkewajiban mengajari anak mereka sepenuhnya. Anak-anak belajar membaca huruf Haelos dari orangtua mereka. Kelak ketika mereka dewasa, mereka akan menggantikan pekejaan orangtua mereka.

Akan tetapi, tidak semuanya mengikuti kebiasaan itu. Iredir, Ueyr dan Ueryel memiliki minat yang berbeda dari orangtua mereka. Sekalipun dianggap tabu jika tidak meneruskan pekerjaan orangtua, Iredir dan kedua adiknya tidak bisa menolak kemampuan mereka. Ketiganya menyukai ilmu pengobatan. Apalagi setelah mereka mendengar bahwa mereka masih keturunan penyembuh, ketiganya bertekad ingin menjadi Senair.

Banyak yang tidak percaya kalau mereka berasal dari keturunan Senair. Seorang Senair sangat dihormati di kalangan suku Haedor. Oleh karena itu mereka hanya dituduh berbohong. Tetapi mereka punya sebuah rahasia, yakni sebuah kitab pengobatan yang diwariskan oleh kakek mereka, sebelum ia meninggal. Kitab itu mereka rahasiakan karena khawatir orang-orang akan menuduh mereka mencuri. Sebetulnya Amua sangat memegang tradisi yang telah nenek moyang mereka jalani bertahun-tahun, yakni sebagai pembuat pakaian. Walaupun dia juga mengetahui tentang kitab pengobatan itu, dia masih berharap anak-anaknya menerima warisan keterampilan membuat pakaian. Namun Iredir, Ueyr dan Ueryel lebih memilih mempelajari kitab pengobatan itu.

Ramuan Racun AsylarunhBaca cerita ini secara GRATIS!