Bab. 1

27.9K 1.2K 32

Tin.. suara lift terbuka memperlihatkan sesosok pria bersetelan jas rancangan desainer ternama yang tampak melekat pas dibadannya.. ia berjalan dengan angkuh dan percaya diri sontak membuat orang-orang yang tengah beraktivitas di ruang tunggu salah satu perusahaan elektronik ternama itu terhenti. Mereka yang berada di ruangan itu terpukau karena daya tariknya.. pria itu adalah Sulvian Juan Angelo, pria berumur 35 tahun yang masih single ini merupakan Ceo dari perusahaan ini sejak 3 tahun silam.. ya semenjak sang adik yang dulunya merupakan pimpinan disini tiba-tiba menghilang begitu saja.. setidaknya itulah kabar yang menyebar diantara karyawannya.

Pria ini memiliki wajah yang terbilang tampan dengan mata tajam yang dingin, rambut sedikit panjang sebahu yang selalu terikat rapi dibelakang lehernya, tinggi 193 cm, bentuk tubuh berotot proposional yang tak mampu tertutupi setelan jas mahalnya itu. Ia menatap tajam kepada para karyawan dan membentak.

"LIHAT APA KALIAN! KEMBALI BEKERJA!"

Kemudian dengan angkuhnya ia berjalan kembali ke ruang rapat yang menjadi tujuan awalnya. Ya pria itu mungkin menawan dari penampilanya.. tapi tidak dengan kepribadiaanya.. tolong, maaf dan terima kasih adalah kata-kata taboo baginya. Jadi jangan harap akan mendapat perlakuan baik dari seorang Sulvian Juan Angelo.

●●●

Sulvian Pov.

Setelah membentak orang-orang tak tahu diri itu.. sekarang disinilah aku. Di ruang rapat yang sudah diisi oleh lima orang anggota keluarga Angelo. Ya, ini adalah pertemuan keluarga pertama kami setelah tragedi yang merengut nyawa ratusan anggota keluarga lain 23 tahun yang lalu.. hanya kami berenam yang berhasil selamat, tentu dengan mengkesampingkan adik perempuanku Alexandra yang belum lahir saat itu.

Setelah terdiam sesaat ayah memulai pembicaraan.

"Maksud pertemuan ini adalah untuk mengangkat Sir Juan menjadi kepala keluarga Angelo mengantikan saya yang sudah tidak muda lagi" kata ayahku tegas dan singkat seperti biasanya. Kabar yang tak lagi mengejutkan mengingat umur ayah yang sudah menginjak kepala enam.

Itu jelas bukan pertanyaan atau diskusi, ini adalah pernyataan. Semua yang hadir disini sudah tahu dan menerima keputusan ini dengan baik, karena memang sudah jelas aku sebagai anak laki-laki tertua yang akan mewarisi posisi ayah.

"Memang sudah saatnya kak, saya yakin semua yang ada di ruangan ini telah setuju. Tapi kita punya masalah lain" kata paman Albert adik ayahku yang tak lain adalah ayah dari Dean dan Marvis sepupuku.

"Maksud anda Sir Albert? Masalah apa?" Tanya ibuku.

"Kita sudah punya kepala keluarga baru, tapi kita tidak memiliki seorang pun penerus. Haruskan keluarga Angelo jatuh karena tidak ada dari seorang pun dari putra-putra kita yang akan menikah? Kita semua tahu bahwa sejak tragedi itu.. Sir juan, Sir Dean dan Sir Marvis memiliki trauma terhadap wanita yang sampai sekarang masih belum bisa disembuhkan dan jelas saya mau pun kakak yang sudah berumur tidak mungkin lagi memiliki anak.. jika demikian bukankah masalah penerus harus kita bicarakan baik-baik?" Tutur paman Albert yang sontak membuat kami semua terdiam.

Ya, apa yang ia katakan benar.. sejak tragedi itu, aku dan para sepupu membenci kaum hawa. Bahkan Dean dan Marvis sudah dengan terang-terangan menyatakan bahwa mereka adalah gay, sedangkan aku? Aku hanya melajang tanpa menjalin hubungan dengan wanita maupun pria.

"Bagaimana dengan Miss Alexandra.. ia normal. Dia bahkan lahir setelah tragedi itu..?" Kata Marvis memecah keheningan. Ya, mereka tidak tahu bahwa adik kecilku itu sudah dengan seenaknya meninggalkan keluarga Angelo karena menolak permintaan ayah untuk memberi kami penerus.

"Miss Alexandra telah putus hubungan dengan keluarga Angelo sejak 3 tahun lalu lantaran saya memintanya melahirkan beberapa penerus." Jelas ayahku.

"Bagaimana mungkin kakak melepaskannya begitu saja? Jika ia menolak.. kita bisa mencoba cara membujuknya. Miss Alexandra satu-satunya yang bisa memberi kita penerus!" Kata paman Albert meminta penjelasan.

"Ia menangis histeris, pingsan, lalu menghilang selama sebulan dan kembali sambil menyatakan kekecewaan dan sakit hatinya kepada saya. Apa yang bisa saya lakukan sebagai seorang ayah jika melihat putri tunggal saya yang selalu tenang tiba-tiba bersikap seperti itu? Saya hanya bisa diam dan melepas kepergiannya bila itu membuatnya lebih bahagia." Terang ayahku, ya.. memang itu yang terjadi saat itu.

Suasana kembali tenang.. kami semua sibuk dengan pikiran masing-masing. Ya.. mau bagaimana lagi, adik kecilku itu terlalu kekanakan dan egois.. tapi itu tiga tahun yang lalu.. bagaimana dengan sekarang?

"Mungkin sudah saatnya membawa kembali Miss Alexandra? Saat itu ia masih anak-anak dan labil, saya rasa tidak ada salahnya jika kita mencoba berbicara kepadanya sekali lagi." Usulku yang di sambut dengan baik oleh seluruh anggota keluarga.

Setelah perbincangan panjang dua jam itu usai, satu persatu angota keluarga Angelo maninggalkan ruang rapat dan kembali ke perusahaan mereka masing-masing meninggalkan aku yang diserahi tugas mambawa adik kecilku kembali..

Tunggu saja Alexandra.. akan kuseret kamu kembali pada keluarga Angelo.

Mr. Sok Perfect Jatuh Cinta !? [END]Baca cerita ini secara GRATIS!