4. Benteng pertahanan Bangkot

209K 8.5K 173
                                                  

Jika hatimu memang sekeras batu. Izinkan aku menjadi palu untuk menghancurkan batu itu.

***

Aku mengerti mengapa tiga hari yang lalu, Arsen memintaku untuk menjemput mobil di rumah mama. Ternyata, agar aku bisa bepergian sendiri tanpa perlu diantar oleh Arsen lagi saat dia menghilang. Kini sudah hampir lima hari Arsen pergi. Aku tidak tahu dia berada di mana, sedang apa dan bersama siapa. Yang kutahu, dia pergi ketika aku masih tertidur pulas di dalam kamar. Arsen hanya meninggalkan secarik kertas yang memberitahuku kalau dia sedang pergi bekerja.

Malam ini apartemen terlihat sangat sepi, hanya ada aku sendiri. Aku mengambil ponselku dan menghubungi mama.

"Maaa ...." Nadaku terdengar sendu.

"Kalau nelepon itu ucap salam dulu, Ayla!" Mama menegurku, mengajariku seperti anak kecil kembali.

"Lupa," jawabku singkat. "Aku kesepian tinggal sendirian di sini, Ma."

"Emangnya Arsen ke mana? Kerja ya?" tanya Mama.

"Tauk ah, minggat kali. Atau jangan-jangan Arsen diculik!" ujarku bercanda namun dengan suara yang serius.

"Hush, kamu ini kalau ngomong suka asal."

"Siapa yang asal sih, ma. Itu doa Ayla yang tersirat. Kalau misalnya Arsen beneran diculik, Ayla bakalan ngadain pesta dan mandi kembang masal tujuh hari tujuh malam."

"Ih, kamu ini ngomong apaan sih? Kapan kamu bisa bersyukur dapat suami kaya Arsen?"

"Apa yang harus disyukuri sih, punya suami kaya Arsen? Dia itu sering minggat."

Aku terdiam sedetik, merenung. Ada sebagian kecil hatiku merasa sedih. Baru saja, lima hari yang lalu aku merasakan secercah kebahagiaan saat Arsen membawaku bersenang-senang di kolam berenang. Menggodaku dengan senyuman menyebalkannya.

"Memangnya dia nggak pernah nelepon kamu?" tanya mama kembali.

"Pernah sih." Aku mencoba untuk mengingat, "tapi nggak pernah Ayla angkat. Habisnya males."

Mama menghela napas yang cukup dalam. "Ayla, Ayla. Mulut mama itu udah berbusa memberikan kamu nasihat, tapi satu pun nggak ada yang kamu dengerin."

Aku diam.

"Yasudahlah, nanti mama hubungi lagi. Mama mau sediain makan malam untuk papamu dulu. Assalamualaikum."

Kemudian sambungan terputus. Saat aku hendak berbaring di atas kasur, ponselku kembali berdering nyaring. Video call dari Arsen.

Aku berdehem, dan merasa gugup seketika. Kemudian merapikan rambutku sebelum mengangkatnya.

"Apa?" tanyaku ketus.

Aku bisa melihat wajah Arsen, meskipun sedikit buram. Dia tersenyum. "Assalamualaikum dulu."

Aku tidak menggubris.

"Kenapa teleponku nggak pernah diangkat? Nggak kangen?" Arsen bertanya.

"Enggak, tuh." Aku masih ketus.

"Cantik banget malam ini, apalagi kalau senyum," katanya menggoda.

Aku enggan menatap layar ponseku sendiri. Dan mengalihkan wajah ke arah lain.

"Lagi apa sayang?" Arsen kembali bertanya, mengubah suasana hening.

"Lagi mau tidur." Aku pura-pura menguap. "Selama lima hari tidurku nyenyak, karena penganggu di apartemen ini lagi minggat!" sindirku sarkastis.

"Bukan minggat sayangku, tapi lagi tugas. Kamu nggak mau tahu aku lagi di mana? Sedang apa dan bersama siapa?"

"Memangnya penting? Udah ah, aku mau tidur. Besok harus ketemuan sama Bu Lusiwati lagi."

The Perfect Husband (Sudah Terbit)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang