3. Alasan ekstrem membatalkan pernikahan

211K 8.7K 255
                                                  

Apartemen Arsen minimalis. Ruang televisi dan dapurnya menjadi satu. Sofa bernuansa krem, berada di tengah-tengah ruangan.

Di dinding ada beberapa foto kedua orangtuanya. Serta foto Vanilla yang tengah tersenyum manis dan juga Nenek yang sedang tertawa. Namun yang membuatku cukup terkejut adalah, foto pernikahan kami juga terpampang di dinding.

Di foto tersebut, Arsen tersenyum; memperlihatkan gurat wajah bahagia pengantin baru. Sedangkan aku, hanya tersenyum tipis. Bahkan sangat tipis, sampai aku pikir kalau itu bukan senyuman tapi... wajah cemberut. Namun masih terlihat cute.

Apartemen Arsen terdiri dari dua kamar tidur dan dua kamar mandi. Satu di dekat dapur, satu lagi di dalam kamar utama. Lagi-lagi kami harus tidur satu kamar. Ini konyol! padahal aku bisa memakai kamar sebelah. Tapi kamar itu terkunci rapat. Arsen melarangku masuk ke dalam ruangan itu, ralat kamar misterius itu. Sempat terpikir olehku kalau kamar itu tempat penyimpanan mayat. Dan pekerjaan Arsen yang sebagai buronan tiba-tiba terlintas di kepalaku.

Tapi Arsen segera membantahnya. Ia justru menyentil jidatku dan berkata, "salat sana, otakmu dirasuki setan."

***

Bias cahaya yang masuk melalui pintu balkon, berhasil mengusik tidurku. Kulihat sofa yang jaraknya beberapa meter di sebelah tempat tidur, kosong. Kulirik jam digital di atas nakas sekilas, pukul sepuluh pagi. Jadi jam berapa Arsen sudah bangun? Pagi sekali. Kemarin aku harus bergadang sampai pagi demi melanjutkan skirpsi dan memperlihatkannya kepada Bu Lusiawati hari ini.

Dengan memakai short dress tanpa lengan bermotif bunga-bunga, aku keluar dari kamar. Aroma masakan begitu menguar hingga menggelitik cuping hidungku. Arsen ada di dapur, dan laki-laki itu memakai celemek.

Sungguh, rasanya aku ingin tertawa. Pasalnya warna celemek itu pink dan bermotif bunga-bunga. Apa jangan-jangan dia? Hm. Kutepis bayangan buruk itu saat kakiku melangkah melewati dapur.

"Pagi ...." Sapa Arsen ramah, seperti biasa, dengan senyuman menyebalkan ciri khasnya.

Jawabanku hanya deheman pendek, seraya mengelilingi ruangan mencari kunci mobil. Seketika aku baru tersadar, kalau mobilku masih tertinggal di garasi rumah Mama.

"Aku antar. Nanti sepulang kuliah baru kita jemput mobil kamu." Arsen berbicara seolah dapat membaca pikiranku.

"Nggak usah," potongku cepat.

Saat hendak berjalan menuju pintu, tubuh Arsen berhasil menghalangiku.

"Sarapan dulu, nanti kalau sakit siapa yang repot." Ia mengulurkan sepiring nasi goreng.

Hmm... wanginya. Hampir menumpahkan ilerku.

"Kamu yang masak?" tanyaku bengong. Menatap nasi goreng itu penuh minat.

"Menurutmu siapa lagi? Istriku? Dia aja tidurnya kaya mayat. Sampai ngorok dan ileran, pula."

Tatapanku berubah sengit. Dia mengejekku.

"Aku nggak lapar."

"Sarapan dulu sayang, nanti sakit. Dari kemarin malam kamu belum nyentuh makanan."

Ludahku tertelan kelat. Setiap kali dia menyebutku 'Sayang' Semua terasa sangat ganjil. Arsen menarikku menuju kitchen table dan duduk di atas kursi. Hanya butuh waktu lima menit untuk menyantap makanan ini—yang tidak kuhabiskan semua. Selera makanku hilang, meskipun masakannya enak.

Setelahnya, ia segera mengambil piring kotor dan menaruhnya di tempat pencuci piring. Cepat-cepat melepaskan celemek, Arsen berjalan menuju kamar untuk mengambil sesuatu. Aku tidak tahu.

The Perfect Husband (Sudah Terbit)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang