2. Lelaki menyebalkan berbulu gorilla

229K 9.1K 332
                                                  

"Arsen mana, Ay?"

Mama menghampiriku dan duduk di atas sofa tepat di sebelahku duduk. Aku meluruskan kaki di atas meja, merasakan pegal-pegal.

"Tidur di kamar," balasku sekenanya.

"Baru juga sampe udah molor aja."

"Kemarin dia nggak tidur semalaman gara-gara aku beri kopi."

Mama terkesiap. "Ha? Yang bener?"

"Hmm."

"Kasihan, pasti dia capek banget ya, Ay. Coba sana kamu ke kamar pijitin badan dia."

"Ih, Ayla juga capek kali, Ma. Jelas-jelas Ayla yang nyetir mobilnya dari Bogor sampai Jakarta tadi."

"Tapi tetap aja, secapek-capeknya istri harus ada kasih perhatian lebih sama suami. Udah sana pijitin, kasian Arsennya." Mama mendorong tubuhku.

"Males ah, memangnya aku pembantunya, tukang pijtit, si Mak Erot!"

"Yee, kamu ini. Tidak ada ikhlas-ikhlasnya melayani suami."

"Dari awal aku memang nggak mau nikah sama dia."

Mama menyipitkan matanya tajam, tatapan tidak suka. "Jangan bahas itu lagi! Sekarang kamu sama dia sudah menikah! Percuma juga karena nasi udah menjadi bubur, tidak bisa dijadiin nasi lagi. kecuali buburnya kamu kasih kecap sama ayam, jadi deh bubur ayam. Lagi pula, Mama udah bilang kalau Arsen itu adalah imam yang terbaik buat kamu. Hatinya lembut, penyayang, rajin ibadah, pinter ngaji, mapan, ganteng lagi. Duh, idaman semua calon mertua, deh. Pokoknya Mama sama Papa nggak akan jodohin kamu dengan Arsen kalau dia itu bukan anak baik-baik meskipun dia anaknya temen Papa."

Itu kalimat terakhir dari Mama yang coba kucerna dengan baik, tapi percuma saja kalau masuk dari telinga kanan keluar lagi ke telinga kiri.

***

"Ayla ...."

Lamat-lamat, suara bariton terdengar merdu sedang memanggil namaku.

"Ayla, bangun sayang."

Kini tubuhku yang masih nyaman tidur di atas kasur terasa berguncang pelan.

Sungguh, ini sangat menganggu. "Aduh, apaansih? Aku Masih ngantuk!" keluhku sebal, sembari menarik selimut hingga menutupi wajah.

"Salat dulu, sudah masuk waktu subuh."

"Salat aja sendiri, aku ngantuk."

Perlahan, suara itu pun akhirnya menghilang. Tidurku mulai tenang dan tentram. Wajah tampannya si Bruno Mars sambil menyanyikan lagu romantis, muncul begitu saja di bunga tidurku. Tapi itu tidak lama, karena lagu tersebut justru berubah menjadi lantunan ayat suci Alquran.

"Yasin ...."

Dengan enggan aku membuka mata dan melihat Arsen tengan duduk melipat kakinya, tepat di hadapanku. Ia memakai baju koko sambil memegang surat yasin.

"Kamu ngapain sih?" api membara sudah memuncak hingga ke ubun-ubun.

"Aku lagi bacain surat yasin untuk kamu, supaya setan-setan dalam tubuh kamu itu ke luar semua."

Nyaris, aku kehilangan napas. Amarah benar-benar sudah meledak di kepalaku.

"Kamu pikir aku udah mati, pake dibacain yasin segala! Ah nyebelin."

Jengkel, marah, kesal, menggebu-gebu. Semua perasaan itu bercampur menjadi satu. Menyeret langkah dengan malas, aku segera ke luar dari kamar dan membanting pintu kencang-kencang. Berpindah tidur ke kamar Mas Eza, yang sudah lama tidak di huni lagi.

The Perfect Husband (Sudah Terbit)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang