1. Wanita Pemberontak

334K 10.3K 298
                                                  

A/N: Cerita ini terdiri sampai 5 part saja karena sebagian sudah dihapus untuk proses penerbitan.

Novel The Perfect Husband sudah tersedia di Gramedia Jabodetabek pada tgl 2 Juni 2016 dan menyusul di toko buku lainnya di kota kamu.

Disetiap part, saya hanya meninggalkan beberapa quote dan pesan-pesan tentang Arsen.

Berlaku untuk semua cerita saya. "Jangan menyimpulkan cerita tanpa membacanya hingga akhir." Jadi bagi pembaca baru, tolong jaga komentar kamu saat membaca cerita ini. Jangan berkomentar dengan merugikan orang lain. Terima kasih yaa:)

****


"Ananda Arsen Wafi Haliim Bin Yusuf Al-Haliim, aku nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri kandungku, Ayla hantara Muhti dengan mas kawinnya berupa seperangkat alat salat dan uang berjumlah sembilan belas juta rupiah di bayar tunai." Sambil menjabat tangan Arsen, Papa bersuara lantang.

"Saya terima nikahnya dan kawinnya Ayla Hantar Muhti Binti Tio Riadmojo dengan mas kawin tersebut di bayar tunai."

"Bagaimana sah?" penghulu mengedarkan pandangannya ke sekeliling.

"Sah."

"Alhamdulillah ...."

Disaat semua pengantin menitikkan air mata karena terharu bahagia, aku justru menangis karena sebentar lagi hidupku akan sangat menyedihkan setelah menikah dengan Arsen. Setelah menyematkan cincin di jari manisku, Arsen mencium keningku cukup lama.

Tanpa terasa waktu berlalu begitu cepat. Seperti yang sudah ditentukan oleh pihak keluarga kami dan menurut wasiat orangtuanya Arsen, pernikahan ini berlangsung saat umurku sudah menginjak dua puluh lima tahun—tepat pada tanggal 19 Desember. Seluruh prosesi pernikahan dilaksanakan di kediaman keluarga Arsen di Bogor. Keluarga serta teman-temanku datang menghadiri.

Malam harinya, acara sederhana telah dirangkai di halaman rumah Arsen dengan bertemakan pesta kebun. Gemerlap cahaya kuning dari lampu menyala menggantinkan posisi bintang. Seorang pemain biola yang sengaja diundang untuk memeriahkan acara, bermain dengan merdu. Sedangkan sang pengantin melakukan dansa di tenga-tengah para tamu.

Tubuh kami berdempetan, tangan saling melingkar, kaki bergerak ke kiri dan kanan. Jujur saja aku tidak ahli dalam berdansa, terbukti sejak tadi high heels yang aku kenakan menusuk sepatu Arsen sampai ia meringis menahan sakit.

"Apa liat-liat!" nadaku terdengar galak, ketika mata Arsen terus terpaku padaku.

Dia tersenyum simpul. "Memangnya salah melihat istri sendiri?"

Tanganku, yang sejak tadi melingkar di leher Arsen langsung mencekiknya. Tapi Arsen justru tertawa. Kenapa sih dia itu kelewatan sekali! Selalu buatku kesal!

"Boleh saya merubah panggilan menjadi aku-kamu? Kalau masih menggunakan saya, terlalu formal. Akan terlihat canggung sabagai suami istri."

"Terserah! Asal jangan panggil Umi-Abi!"

Akhirnya dansa berakhir saat Dilan naik ke atas panggung dan mengambil alih mikorofon.

"Tes, tes. Yuhu ...." dia menepuk-nepuk mikrofon. "Terima kasih buat para tamu undangan yang masih setia mengikuti acara sampai malam begini. Selain pernikahan yang membahagiakan ini, hari ini kita juga sedang merayakan ulang tahun pengantin baru sekaligus sahabat saya tercinta yang ke dua puluh lima. Selamat ulang tahun yayangku Ayla, muah." Dilan meniupkan ciuman kecilnya dari jauh, berhasil mencairkan suasana menjadi gelak tawa renyah.

"Terimalah persembahan kejutan dari kami," tuturnya lagi.

Viana muncul sambil membawa kue tar tingkat tiga yang dilapisi dengan white cream. Mataku berkaca-kaca, saat semua orang menyanyikan lagu selamat ulang tahun untukku. Baik keluargaku maupun keluarganya Arsen memberikan pelukan serta ucapan selamat.

The Perfect Husband (Sudah Terbit)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang