Menghitung Hujan Part 13, 14

47.3K 2.1K 146

by santhy agatha

twitter @santhy_agustina

fb fanpage : Santhy Agatha

blog : anakcantikspot.blogspot.com

email : demondevile@gmail.com

13

Kalimat-kalimatmu seindah hujan di pagi hari, sehalus ungkapan hati yang tak bertepi.

Dan hatiku hanyalah setetes embun sisa hujan di malam hari, menggayutkan mimpi bisu, menunggu matahari mengeringkannya.

Hanya.....

Ragaku sendiri bukan raga yang sama, dan cintaku sendiri bukan cinta yang mudah.

Akankah aku bisa membuatmu bertahan.

Atau haruskah aku memendam perih lagi,

Menatap punggungmu yang berlalu dan kemudian pergi?

“Mungkin saya akan menjelaskan tentang orangtuamu sebelumnya, Diandra.” Ibu Dewi tersenyum lembut, meminta Diandra untuk bersabar, “Saya harap itu bisa membantumu menerima semuanya nanti.

Diandra hanya bisa menganggukkan kepalanya menunggu, meskipun hatinya penasaran setengah mati.

“Tidak seperti anak-anak lain kebanyakan di sini, sebenarnya kau cukup beruntung. Sebagian besar yang ada di sini merupakan anak buangan, tidak bisa melacak asal usulnya lagi, benar-benar tidak bisa menemukan asalnya. Tetapi aku bisa memastikan asal-usulmu.” Ibu Dewi melanjutkan, “Orangtuamu sebenarnya sangat menyayangimu,  mereka memang tidak kaya tetapi mereka berusaha mencukupimu, itulah yang kutangkap dari petugas dinas sosial ketika mengantarkan bayimu kemari, sayangnya umur mereka tidak panjang dan mereka tidak punya sanak keluarga, sama-sama sebatang kara. Karena kejadian itu, para tetangga menemui dinas sosial dan diputuskan untuk menitipkanmu di sini. ”

“Orang tua saya sudah meninggal?” Diandra merasakan dadanya ditonjok keras-keras. Meskipun sudah menduga hal ini sebagai kenyataan yang paling buruk, tetap saja informasi ini menghentak batinnya.

“Ya Diandra, maafkan saya harus menceritakan kenyataan ini kepadamu. Tetapi setidaknya kau bisa merunut asal-usulmu, kau bukan anak buangan yang tidak jelas siapa asal usulnya. Mereka mengalami kecelakaan dan meninggal, saat itu usiamu tiga bulan, dan kau selamat dari kecelakaan itu.”

Ibu Dewi lalu berdiri, dan melangkah ke laci besi besar yang ada di sudut ruangan,

“Sebentar, sepertinya arsip lamapun masih tersimpan dengan rapi di sini.” Perempuan setengah baya itu tersenyum, “Saya selalu menjaga setiap arsip sebaik mungkin supaya ketika ada yang datang dan bertanya saya bisa membantu.”

Diandra dan Axel saling bertukar pandang, Axel yang mengetahui kesedihan yang menohok hati Diandra, mengulurkan jemarinya dan meremas jemari Diandra dengan lembut, Diandra mendongakkan kepalanya dan menatap Axel, lalu tersenyum.

Meskipun pahit, Diandra bersyukur ada Axel yang mendampingi dan menopangnya di sini.

Memerlukan beberapa menit untuk mencari arsip lama itu, sampai kemudian Ibu Dewi mengeluarkan sebuah map yang berwarna biru dan membawanya ke meja.

“Ini arsip tentangmu Diandra, di sana ada foto dan nama orang tua kandungmu.”

Jemari Diandra bergetar ketika menerima map itu, dan kemudian dia membukanya. Matanya terpaku pada copy akte kelahiran lamanya, yang kertasnya sudah menguning dimakan usia.

Namanya Diandra, sama seperti namanya sekarang, rupanya orangtuanya... orangtua angkatnya memutuskan untuk tidak mengganti namanya.

Kemudian matanya menatap foto itu, foto yang tak kalah tuanya.... di sana ada ibu kandungnya yang sedang menggendongnya dalam senyuman, juga ayahnya yang merangkul ibunya.....

Menghitung HujanBaca cerita ini secara GRATIS!