Wonderfull

31.5K 374 2

Sudah dua hari aku dan mervin menghabiskan waktu berasama. Jalan-jalan sepanjang pantai kuta hingga mengelilingi kota Bali. Mervin orangnya humoris, pandai berbicara terlebih merayu dan yang terakhir menggairagkan. Aku tidak mengerti apa yang kurasakan ketika bersamanya. Ada saat aku kesal, marah tetapi juga ingin memiliki terlebih jika dia dan senyum manisnya menyapa setiap orang yang kami ketemui. Baik itu kenalannya atau hanya sekedar baru dikenal seperti waitress, resepsionist dsb. Well, itu menyebalkan saat melihat wanita yang benar-benar wow dengan body fantastis menggodanya baik hanya dengan tatapab atau cara berbicara dengan desahan. Dan aku langsung membandingkan betapa buruk rupanya aku dibandingkan dengan wanita-wanita itu. Oh ya, dan satu lagi yang membuatku kesal sama mervin adalah ketidaksanggupannya untuk tidak telat ketika kami berjanji untuk ketemu, seperti saat ini. Aku sudah menunggunya selama hampir 1 jam di lobi hotel dan dia belum muncul juga. Sms bahkan telponku tidak berbalas sama sekali. Tentu saja aku kesal, kalau memang dia gk mau ikut pergi atau gk bisa ikut pergi yah seharusnya kabari saja supaya aku tahu dan tidak menghabiskan waktuku hanya dengan mendengarkan musik melow patah hati di handphone. Aku bahkan sudah lupa kapan terakhir kali aku memperbaharui daftar lagu di handphoneku sejak beberapa tahun lalu. Dan ini semakin membuatu bertambah kesal. Aku mencabut headset dari telingaku dan memasukkannya kedalam tas selempang mini khas oleh2 balik yang aku beli kemaren dengan paksaan mervin, hitung-hitung sebagai hadiah pertemuan katanya. Aku beranjak dari sofa yang kududuki dan melangkahkan kakiku menuju pintu keluar saat kulihat mervin masuk dengan 4 orang laki-laki berbadan tegap dibelakangnya. Well, ini sedikit mengherankan karna setahuku mervin tidak terlalu menyukai pakaian formal seperti jas, kemeja dan sepatu sejenis pantofel. Setidaknya itu yang dia bilang kemaren saat mereka makan malam di restoran hotel. Aku berlari dan mengahadiahkannya cubitan di lengan kanannya.

"Yah, aku menunggumu sudah satu jam lamanya. Kemana saja sih?" Ujarku kesal. Kulihat sekilas mervin terkejut dan memandangku tajam seraya mengangkat tangan kanannya ketika kulihat lelaki berseragam hitam dibelakangnya hendak berjalan kearahku.

"Kenapa diam saja? Kau tidak merasa bersalah?" Tanyaku saat kulihat dia hanya menatapku tajam dan tidak berniat membalas ucapanku.

" apa aku mengenalmu,nona?" Ujarnya dengan suara serak dan seketika membuatku merinding.

"Ini tidak lucu mervin!" Bagaimana bisa dia lupa padaku padahal baru saja semalam kami keluar dan tadi pagi berjanji untuk ketemu. Mervin mengernyitkan dahinya lalu tersenyum sinis ketika ia memahami perkataanku. Seketika itu juga dia memandangku dari atas kebawah dan itu membuatku risih hanya dengan celana pendek setengah paha dan kaos longgar bewarna putig kebanggaanku. Aku menyesal menggunakan celana ini, hanya karna berpikiran bahwa akan lebih mudah jika berjalan jalan di pantai dengan menggunakannya. Tatapannya membuat tubuhku merinding dan seketika merasa takut.

"Ikut denganku" katanya sambil menarik tanganku kearahnya. Sesat aku terpana dan kemudian memukuli lengan kanannya yang mencengkeram lenganku dengan kuat. Aku bahkan tidak tahu bahwa mervin memiliki tenaga sekuat ini dan telapak tangannya yg sedikit kasar.

" apa-apan kau ini. Lepas!!" Teriakku kesal dan dia semakin mencengkeram tanganku lebih keras dari sebelumnya dan sukses membuatku meringis kesakitan. Dia berbalik menuju pintu keluar dan berkata dengan lelaki dibelakangnya bahkan tanpa menoleh sekalipun.

"Urus semuanya. Kalian tahu apa yang kumaksud."

***

"Siapa namamu?" Aku meringis dan semakin merapatkan tubuhku kearah pintu. Aku menoleh bingung dan menatapnya tidak percaya.

" apa kau bercanda? Well, aku tahu kita belum lama kenal tapi aku rasa ini sudah benar-benar keterlaluan kalau kau tidak mengingatku sama sekali mervin. Kau tahu itu tidak sopan dan tidak lucu!" Jawabku kesal.

"Kau kenal dengan mervin? Dmna dia skarang?" Tanya mengacuhkan kekesalanku.

"Well, aku mengenalmu dan kau dihadapanku sekarang. Berhenti berpura-pura sebelum aku kesal dan berpura-pura tidak mengenalmu juga." Ucapku kesal sambil menatap kearahnya. Dia menatapku tajam dan seketika aku merasa sedikit takut dengan tatapannya. Dia menarikku hingga terjatuh kearahnya. Jarak kami benar-benar dekat dan itu membuatku melihat kearah mata birunya yang membuatku bingung. Seingatku mata mervin lebih cenderung kearah hitam dan bukan biru

"Apa kau memakai contact lens,vin?"tanyaku lupa dengan kondisi tubuhku yang hanya berjarak sejengkal dari wajahnya. Dia tidak menanggapi ucapanku. Tibatiba dia menarik leherku dengan tangan kananya yang bebas dan membawa bibirku menempel ke arahnya. Aku terkejut dan terpana sampai saat aku sadar dan aku memberontak didalam pelukannya yang bahkan tanpa aku sadari tangan kirinya sudah melingkar di pinganggku dengan erat."hmmmph.." teriakku tertahan dan menggelengkan kepalaku kekiri dan kekanan dengan harapan menjauhkan bibirnya dari bibirku. Tiba-tiba aku merasa sakit pada bibir bawahku saat dia ternyata mengigitnya dan seketika memanfaatkan mulutku yang terbuka untuk memasukkan lidahnya ke dalam mulutku. Dia menciumku dengan keras dan tanpa terlewat satupun. Dia menaruk lidahku dan melumatnya dengan kasar. Aku bahkan tidak tahu harus seperti apa karna ini pertamakalinya aku diciun seperti ini. Aku pasrah dan hanya bisa diam meski sesekali aku mendengar suara erangannya yang aku bahkan tidak tahu apa itu suaraku atau bukan. Lama sudah dia menciumku hingga aku merasa kehabisan nafas dan memukul lemah pundaknya. Seakan tersadar, dia melepaskan bibirku dan menatapku tajam.

"Seharusnya kau berhati-hati, nona. Aku bukan adikku mervin yang bisa memperlakukan wanita dengan baik juga dengan rayuan manis." Katanya tajam dan seketika membuatku diam dan merasa udara disekitarku terlalu sesak hingga aku tidak sadarkan diri.

***

Dark SideBaca cerita ini secara GRATIS!