Love Is Hurts (Part 4)

33 2 1

Pagi harinya, seperti biasa aku siap siap berangkat sekolah.
Tapi, tunggu!
Oh sial! Aku lupa hari ini adalah hari Minggu.
Mungkin karena pikiran ku kacau dari sejak kemarin, sampai lupa hari libur.
Huufftt, sudahlahh.

****

Tok..tok..tok..

Tok..tok..tok..

"Ya sebentaaar" teriakku dari ruang tengah.
"Siapa sih, ganggu aja" dengus ku.

Tok..tok..tok..

Kubuka pintu, dan ternyata..

"Cha.. Lama banget sih!"
"Ihh, Ryan, aku kira siapa, yuk masuk dulu" ajakku.

Aku pun memasuki rumah dengan diikuti Ryan di belakang.
Kita berdua duduk di sofa ruang tamu.

"Eh, ada Ryan" sambut a Gio, saudaraku.
"Eh, a Gio, apa kabar a?" balas Ryan menyalami a Gio.
"Baik, baik, kmu gimana?" tanya balik a Gio.
"Alhamdulillah baik a, hehe" jawab Ryan.

"Yaudah, kalian ngobrol dulu aja ya, aku mau bikin minum" ucapku akan pergi namun tanganku ditahan oleh a Gio.
"Gpp, kmu aja yang temenin Ryan, biar aku yang bikinin" serunya menarikku duduk disebelah Ryan.

"Eh? Tumben nih" ledekku.
"Gpp, buat sodara gue yang tersayang mah apa sihh yang engga ah" ucapnya menahan tawa sambil mengacak ngacak rambutku.
"Ihh apaan sih alay banget, jijik tau ga?! Udah ahh jadi berantakan tuhh" protes ku sambil membenarkan rambutku.
Ryan hanya tertawa.
Sedangkan a Gio kabur ke dapur.

"Udahh ketawanya" bete ku sambil menarik tangan Ryan.
"Hahahha, iya iya udah kok udah" ucapnya.

"Nahh, ini minum nya buat Ryan dan Chaca, es jeruk segar" seru a Gio yang tiba tiba datang membawa minuman segar.
"Haha, makasih a" ucapku dan Ryan.
"Yaudah, aku tinggal ya" seru a Gio kabur ke kamar.

"Ada apa, Ryan?" tanyaku.
"Ngga ada apa apa sih, cuma ingin main aja. Ke taman yuk?" ajak Ryan.
"Ah kebetulan aku lagi bete, yuk!" seruku.
"Yaudah yuk" Ryan menarik tanganku.
"Eits, bentar, aku mau ganti baju dulu, bentar ya" ucap ku melesat ke kamar.

****
Tak sampai 1 jam, 2 menit juga jadi.
"Yuk!" ajakku.
"Eh? Udah? Ciee cantik amat sih:D" puji Ryan.
"Apaan sih ah, yuk ah" ucapku malu.

"A Gioooo... Aku main bareng Ryan ke luar yaa" teriakku.
"Yaa, hati hati" balas a Gio.

"Kita kesana jalan? Atau mau naik sepeda lagi? Yuk balap sepeda lagi" tanya sekaligus ajakku.
"Ngga lah, aku bawa motor kok" jawab Ryan.

****

Setelah sampai, aku dan Ryan segera masuk taman favorit aku, Ryan dan Ibay dulu.

"Fiuhhh, udaranya segar ya?" ucapku.
"Iya, begitulah, jadi ingat masa kecil deh" balas Ryan duduk menyender pada pohon besar.
"Ehiya, ya. Kira kira Ibay lagi ngapain ya?" tanya ku menyenderkan kepala ku pada bahu Ryan.
"Hmm, ntahlah.. Masih ingat ga ya sama kita?" tanya balik Ryan.

Kita berdua pun mengobrol, tertawa, saling meledek, kejar kejaran, dll.

Tak terasa waktu sudah hampir sore, kita masih asyik bermain di taman ini.

"Eh udah sore aja nih" ucap Ryan.
"Iya ya, mmm, pulang yuk" ajakku.
"Iya ayo" seru Ryan.

****

Malam harinya, aku sedang membaca novel karena bete.
Tiba tiba hp ku bergetar.

Drrttt...

Hmm, rupanya ada sebuah pesan masuk.

'Dari siapa ya? Kok deg deg an gini sihh ah?' gumam ku dalam hati..

Via SMS

- : Ca?

*****

*to be continues*

Love Is HurtsBaca cerita ini secara GRATIS!