CHAPTER 10

41 3 0

Maybe i've different feel to him,
But i can't realize...
.
.
.
Day 3, Week 4.

Sudah tinggal 1 minggu lagi waktu ku bersama Rain, Minggu ini pun Aku tak selalu bisa melihatnya, entah kenapa rasanya Aku sedikit kehilangan dan takut.

Hari ini rencananya sepulang sekolah Rain akan menjemputku dengan paksa, yaa....
Karna setelah saling benegosiasi tadi, sepertinya aku bilang "Nggak mau" pun dia bakal tetap bilang "Nggak apa-apa", Dan itu jadi pembicaraan yang tak ada habisnya kalau aku tidak menjawab "Iya".
.
.
Pukul 10:00 WIB.

"Selesai juga tes nya..."
Sambil merapikan meja ku, Aku lalu beranjak dari kursi tempat duduk ku dan membawa secarik kertas yang sudah terisi penuh dengan jawaban ke meja Guru di depan.

"Udah selesai, Light?"
Tanya seorang Guru yang menjaga ruang tes kami seraya melihatku mendekati meja nya.

"Iya, Pak..."
Aku memanggut dan lalu meletakkan kertasnya di atas meja. Lalu kemudian bersalim dengan Guru ku itu.

"Yaudah, Hati-hati."
Ucap Guru itu lagi.
.
.
Aku menunggu di depan halaman sekolahku, Bukan Rain yang aku tunggu tetapi teman-teman ku.
Diyah, Astuti dan Sandra. Rencananya aku akan main bersama mereka sebentar di kost tempat teman PKL mereka yang baru mereka kenal juga.
Sebenarnya sambil menunggu Rain pulang, Ia bilang akan keluar pukul 11:00.

"Woi ! Light !"
Teriak dari jauh terdengar ke telingaku. Ternyata suara bising itu dari Astuti. Dia teman sekelasku yang sering curhat tentang pacarnya denganku.
Ia juga sering dipanggil 'Hercules' karna nama nya itu seperti judul lagu yang dinyanyikan oleh penyanyi 'Agung Hercules' sesekali salah satu teman kami sengaja menyanyikan lagu itu ketika Ia masuk ke kelas.
.
.
"Yaudah Yuk !"
Ajak Astuti seketika Diyah, Sandra dan Aku sudah berkumpul.
Sambil berjalan kami pun mengobrol, tidak lain dan tidak salah lagi yang kami obrolkan hanyalah masalah 'Cowok'.
Nggak heran kalau masa remaja seperti kami masih labil-labilnya membicarakan soal itu.

"Light, emang elu mau di jemput ama siapa si ?"
Tanya penasaran Diyah yang juga sering dipanggil Tiwi, temanku yang paling mungil dan tingkahnya pecicilan ini.

"Haha, siapa yaaa..."
Aku malu-malu mengatakannya jadi sengaja menjawab sekena nya.

"Itu wi, anak PKL ehem."
Goda Astuti sambil melirik iseng kepadaku.

"Apaan sih."
Aku mengelak sambil senyum-senyum.

"Ciyeee Light, punya cemceman baru."
Diyah meringis dan melirik kepadaku.
.
.
.
Kami lalu sampai di kost dekat sekolah kami, Disana ada teman PKL mereka yang satu tempat prakerin tetapi asalnya bukan asli dari tempat kami tinggal, ada 2 wanita di kost itu yang seumuran dengan kami, mereka asik mengobrol tetapi aku hanya gelisah memandangi ponsel yang sedari tadi aku genggam.

'Mana sih, ngga ngabarin!'
Aku kesal sendiri sambil ngomel-ngomel dalam hati.

Sambil melihat kembali jam di ponselku yang menunjukan sudah pukul 12 siang.

"Light, mana katanya mau dijemput?"
Tanya Astuti memastikan.

"Jadi kan di jemput?"
Diyah ikut bertanya.

"Gatau tuh, di jalan kali."
Aku mulai kesal sendiri, ditambah lagi pertanyaan teman-temanku itu menambah kegelisahanku.

Tidak lama ponselku berkedip, ternyata ada pesan dari Rain.
Kufikir Ia sudah datang, Aku lalu tersenyum dan berkata dalam hati 'Akhirnyaaaa'.

Tetapi...

'Tunggu bentar ya.'

Isi pesan itu tak seperti yang Aku harapkan.
'Akkhhhh !!!!' Aku berteriak kecewa kembali setelah membacanya. Seketika wajah ceria ku berubah jadi suram kembali.
.
.
.
Pukul 12.30
Aku lalu memutuskan untuk menunggunya saja di depan Gang menuju sekolah ku, Karna terlalu lama di tempat tadi mungkin menganggu obrolan mereka. Sepertinya aku jadi kipas angin disana.
Setelah 10 menit yang kutunggu datang, Sambil sedari tadi celingak-celinguk menatapi motor yang lewat di hadapan ku.
Tiba-tiba yang kutunggu pun datang,
Motor hitam dihadapanku itu menghampiriku, dengan ditunggangi seorang cowok ber-helm dan memakai masker lengkap dengan jaket dan tas ransel yang Ia pakai.

Rain berhenti dan membuka kaca plastik helmnya.

"Lama ya?"

Pertanyaan macam apa itu? Sudah jelas lama, Ia janji menjemputku jam 11 tapi datang jam 12.30, kurang sabar apa aku? 'Gumamku dengan hati nuraniku'

"Nggak kok."
Aku tersenyum pasrah.
Kemudian aku naik ke motornya, Sialnya motor itu tinggi dan membuatku sulit naik karna memakai rok panjang yang kupakai ini. Ditambah lagi aku ini pendek, gabisa di ajak kompromi.
Akhirnya aku tanpa sadar memegang pundaknya untuk membantuku naik ke motor, Rain terlihat menahan motornya agar tetap seimbang.
Entah, saat itu Aku jadi tiba-tiba blushing dan melihat Rain dari spion motornya, Ia pun terdiam tanpa kata seolah ingin bicara tapi tak bisa.

Motor yang kami tunggangi sudah menyala lagi dan mulai jalan, Di jalan kecil sebelum menemui jalan raya Rain mulai bicara, Tak seperti biasanya Ia banyak diam, tetapi sekarang justru Ia banyak bicara, Mungkin ini sosok lain dirinya yang belum aku tahu.

"Light, Maaf ya. Tadi habis dari PT dulu ambil cas-an laptop jadi lama."
Ujarnya menjelaskan padaku.
Pantas saja Ia lama, dalam hati aku bicara sendiri.

"Iya, gapapa."

Di jalan raya, kecepatan motor nya mulai Ia tambah, Sial. Apa-apaan manusia ini.

Salip sana sini, Angkutan umumpun hampir Ia tabrak, tanganku kencang memegang jaket yang Ia pakai. Terpaksa kulakukan karna Aku takut sekali bakal jatuh nantinya.

"HEY !!! Rain !"
Aku teriak sambil ketakutan di sebelah telinga nya yg tertutup helm itu.

"Apa ?"
Ia menoleh ke arah wajahku, Reaksinya masih dingin saja seperti tak terjadi apa-apa.

"Gada yang lebih kenceng lagi apa."
Sindir ku padanya, agar Ia sadar bahwa kecepatanya harus segera diturunkan karna jantungku sudah hampir copot saat ini.

"Kenapa? kurang kenceng?"
Ia malah menjawab seenaknya. Seakan sindiranku itu adalah lelucon yang harus Ia bumbui.

"Hah?!!!"
Wajahku berubah kaku mendengar jawaban yg tak aku harapkan itu,
Apa-apaan ini ! benar-benar manusia ini ! Aku tak bisa berkata, Ia malah semakin tancap gas dan ngebut.

'Tuhan, Tolong aku... !'

Rain benar-benar gila hari ini, Ia tak seperti Rain yang aku kenal, Ia tersenyum melihat Aku yg sudah memucat ketakutan. Aku begitu menyukai senyumnya itu...
Tapi, untuk saat ini senyum devil nya itu membuat aku jengkel sekali padanya !

Light & RainBaca cerita ini secara GRATIS!