▶29.Bertahanlah..

14.6K 696 128

"Kini aku sadar, kalau kita mencintai seseorang terlalu dalam. Maka yang kita rasakan adalah rasa pahit. "

Happy reading.

⚫⚫⚫

Dua minggu sudah Kinan berubah menjadi sosok yang tak di kenal dirumah. Mengabaikan pertanyaan serta sapaan hangat dari sang istri. Kinan hanya merasa di permalukan atas kelakuan Veranda yang menurutnya terlalu kekanak - kanakan.

Ribuan maaf bahkan Veranda selalu lontarkan. Namun, hasilnya Kinan tak pernah gubris. Kinan diam, seolah tak memperhatikan. Bahkan Kinan sudah tidak pernah mengantar Gracia pergi ke TKnya dan mengantar Veranda ke kampus. Kinan seolah di liputi rasa amarah.

"Kak, mau bawa bekal ga?" Tawar Veranda yang sudah menyiapkan dua kotak bekal di pantry. Meskipun dirinya tau jawabannya pasti tidak akan mau, namun usaha apa salahnya?

"Bawa ya? Aku masak nih buat kakak makan siang nanti di kantor. Kakak kan udah lembur dua minggu ini." Veranda memasukan nasi kedalamnya. Lalu mulai mengambil kotak bekal lainnya untuk di isi dengan iga bakar bikinannya.

"Gausah. Nanti pakai cathering." Kinan berlalu pergi setelah secangkir kopi hangat ia habiskan. Tanpa mengucap salam perpisahan. Tanpa mengecup kening Veranda seperti pagi - pagi dahulu. Kemudian menghilang di balik pintu dengan deru mesin mobil yang perlahan menjauh dari perkarangan rumah.

Veranda kembali diam meruntuki sikapnya beberapa minggu lalu kepada suaminya tersebut. Segala macam cara untuk memohon maaf telah ia lakukan. Menggoda Kinan salah satunya, namun tak pernah berhasil sedikitpun.

Gracia memeluk Veranda yang mulai bergetar. Kakinya lemas tak mampu menopang tubuhnya. Sudah lebih dari seminggu Veranda mengalami penurunan berat badan yang drastis.

"Bunda gapapa?" Bocah tersebut mengusap pipi Veranda yang telah basah dengan air mata. "Bunda ga boleh nangis. Bunda kan kuat. Kasian bunda ade bayinya nanti sedih." Gracia mengecup kedua mata Veranda bergantian.

Anak itu sudah rapih dengan seragam sekolah berwarna biru pada roknya. Serta sebuah rompi dan dasi kupu - kupu yang telah rapih melingkari lehernya. "Kamu mau sekolah? Bunda anterin ya?"

Gracia mengangguk lalu kembali mengecup bibir Veranda singkat. "Bunda ga kuliah?" Veranda menggeleng cepat. "Kenapa? Bukannya anak gede harusnya selalu masuk kuliah? Nanti bunda di hukum."

"Engga, sayang. Bunda ga kuliah. Kamu mau bawa bekal?"

"Mau." Jawab Gracia antusias kemudian membiarkan bundanya berganti baju sebentar dan mengambil tasnya. Gracia hanya duduk di atas meja makan, meminum susu coklat yang telah di persiapkan Veranda dengan roti panggang berselai blueberry kesukaannya.

"Bunda udah mau jalan sekarang? Bunda udah makan?"

Veranda mengangguk. Meskipun dirinya tau dia berbohong pada anak tirinya tersebut. Sejak kemarin Veranda belum mengisi perutnya sama sekali. "Ayo, sayang. Udah jam segini nanti kamu telat." Veranda merapihkan sejenak rambut Gracia yang panjang. Lalu mulai menggandeng lembut tangan Gracia menuju mobil di garasi.

"Pagi pak.." Sapa Veranda. "Ve aja sini yang bawa. Bapak tunggu rumah aja. Sekalian mau beli perlengkapan." Sukardi kemudian mengeluarkan kunci mobilnya dari dalam saku.

Gracia duduk dengan tenang di samping kemudi menonton salah satu dvd barbie yang selalu tersedia di mobil Kinan yang sudah lama tak pernah terpakai. Bibirnya menyanyi sebuah lagu dari koleksi barbie kesukaannya.

"Udah sampai, sayang.." Veranda mengambil tas Gracia dari belakang. "Bunda anter ke dalam kelas kamu ya?"

"Ah, gamau bunda. Malu. Gre udah besar. Nanti bunda jemput Gre lagikan?" Veranda tersenyum singkat lalu mengangguk. Sebuah kecupan mendarat di kening bocah tersebut. "Makasih bunda. Bunda hati - hati di jalan ya?"

Rest of My LifeBaca cerita ini secara GRATIS!