True Love

177 16 9

Fiona turun dari kamarnya dan mendekati kedua orang tuanya yang tengah menonton tv di ruang tengah. " Ma, aku berangkat dulu ya " pamit Fiona. Gadis cantik dengan matanya yang lebar dan pupilnya yang berwarna coklat terang itu mencium tangan ayah dan ibunya.

" Mau kemana kamu kok rapi banget? " tanya ibunya.

" Fiona mau ke rumah Tommy. Diajak orangtua Tommy makan siang bareng " jawab Fiona dengan wajah berseri-seri. Ibunya yang melihat anaknya sangat gembira ikut tersenyum gembira.

" Oh ya, ma, pa. Besok, mama sama papa diundang makan malam dirumah orangtua Tommy " tambah Fiona.

" Yasudah, kalau gitu sampaikan salam mama sama orangtua Tommy ya " ujar ibunya. " Salam dari papa juga " timpal sang ayah. Fiona mengangguk dan hendak kelyar rumah tapi ia berbalik lagi.

Ia memeluk kedua orangtuanya sangat erat seakan sekarang adalah pelukan terakhir yang akan ia rasakan. " Fiona titip mama ya, pa. Jagain mama. Terus kalau Fiona pergi jangan ada yang sedih " ujar Fiona masih sambil memeluk kedua orangtuanya.

Ayah Fiona melepas pelukannya lalu mengusap kepala anaknya sayang. " Iya papa janji bakal jaga mama. Kamu ini juga, kayak mau pergi kemana aja " ujar ayahnya.

" Udah sana pergi. Nanti orangtua Tommy nungguin lagi " ujar ibunya. Fiona mengangguk lalu pergi keluar rumah dan langsung menaiki mobilnya.

Ia sangat senang kali ini. Sambil menyetir ia bersenandung sedikit-sedikit. Sampai akhirnya ia melihat toko kue. Ia berfikir untuk membelikan kedua orangtua Tommy kue.

Ia masuk ke dalam toko kue itu dan mulai memilih-milih. " Mbak " ia melambaikan tangannya pasa salah satu pelayan. " Saya pesan bolu coklat lima Cheese Cakenya 5 juga ya mbak " ujarnya. Si pelayan mengangguk lalu pergi.

Ia lalu melihat-lihat kue lainnya sampai dia merasakan tepukan pada bahunya. " Cassey, hei " sapanya. Cassey sahabatnya disekolah. Sudah seperti saudaranya sendiri. Tahu betul seluk beluk dirinya.

" Kamu tumben ke toko kue? Biasanya juga buat sendiri? Ini juga.... rapi banget. Mau kemana sih emangnya? " tanya Cassey.

" Hehe, iya ini mau ke rumah Tommy. Baru kepikiran pas udah dijalan mau bawain kuenya " jawab Fiona.

" Oh jadi mau ke rumah calon mertua nih ceritanya. Aw, asik dong " goda Cassey.

" Ish, apaan sih " balas Fiona malu. Mereka berbincang-bincang sampai akhirnya pelayan yang melayani Fiona tadi menghampiri mereka.

" Mbak ini pesanannya " ujar pelayan itu memberikan bungkusan kepada Fiona. Fiona mengambil uang dari tas selempangnya dan membayar ke si pelayan. " Oh ya, terimakasih mbak. Yaudah deh, cas. Aku pergi dulu ya. Jangan sedih dan kangenin aku " ujar Fiona bercanda.

" Aduh, pdnya anak ini kayak mau pergi kemana aja " ujar Cassey sambil memutar bola matanya membuat Fiona tertawa kecil. Fiona melambaikan tangannya ke Cassey lalu keluar dari toko kue.

Cassey beranjak dan mengahmpiri salah satu pelayan. Baru saja ia ingin mengucapkan pesanannya ada bunyi keras dari luar yang membuatnya menoleh.

~~ TL ~~

Sepasang suami istri kini tengah menonton televisi berdua di ruang keluarga. Si wanita terus saja merubah posisi duduknya mencari posisi yang nyaman. Namun, tak kunjung menemukannya. Hatinya sedang resah dan gelisah entah dia pun tak tau kenapa.

" Mama kenapa sih? " tanya sang suami yang heran melihat kelakuan istrinya.

" Aduh, pa. Perasaan mama nggak enak ini " ujar sang istri akhirnya.

" Hanya perasaan mama saja mungkin " ujar sang suami sambil mengelus pundak sang istri. Si istri tersenyum lalu kembali melanjutkan menonton tv.

Kriiiinnnngggg.........

Kriiiiinnnngggg.....

Sang istri berdiri dan beranjak ke arah telpon.

" Halo "

" ....... "

~~ TL ~~

Sang ibu menghela nafasnya lagi entah sudah yang ke berapa kali. Ia menjadi pusing sendiri melihat anaknya mondar-mandir didekat pintu utama seperti itu.

" Sudahlah Tommy, duduklah. Mama jadi pusing sendiri melihatmu mondar-mandir kaya setrika rusak seperti itu " keluh sang ibu.

" Tapi, Fiona belum datang ma. Dia tidak biasanya telat seperti ini " ujar Tommy.

" Mungkin dia kejebak macet " ujar sang ayah. Tommy akhirnya menuruti perkataan orangtuanya dan duduk disamping sang ibu.

Sang ibu mengelus kepala anaknya sayang. Tak ia sangka pangeran kecilnya kini sudah tumbuh besar dan sudah mengerti arti cinta. Hanya tinggal beberapa tahun lagi mungkin ia sudah harus melepas anak semata wayangnya ini.

" Ma " ujar Tommy.

" Hm "

" Perasaan Tommy kenapa nggak enak ma, ya? " tanya Tommy menatap sang ibu.

" Mungkin hanya perasaan kamu saja " jawab sang ibu. Tommy menghel nafas perlahan.

Kringgg.... kringgggg......

" Biar Tommy saja yang ngangkat " ujar Tommy ketika melihat ibunya hendak bangkit. Ia berjalan menuju arah telepon yang tak jauh dari tempatnya duduk.

" Halo "

~~ TL ~~

Ia berlari sangat kencang tak perduli dengan orang-orang yang marah-marah karena ia tak sengaja menabraknya. Ia terus menyusuri lorong sepi didepannya. Pikirannya hanya terfokus pada satu titik. Gadisnya. Fiona.

Ia segera tancap gas menuju rumah sakit ketika mendapat telpon bahwa gadisnya kecelakaan. Mendengar berita itu rasanya jantungnya berhenti berdetak ketika itu.

Ia sampai didepan ruang ICU dan melihat kedua orangtua Fiona dan sahabat Fiona tengah duduk disana.

" Om, tante " sapanya.

Dilihatnya kini ibu Fiona dalam dekapan ayah Fiona sedang menangis. Disamping mereka berdua Cassey menumpukkan kedua tangannya pada lututnya untuk menyangga kepalanya.

" Bagaimana Fiona om? " tanya Tommy pada ayah Fiona.

" Kami masih belum tahu. Dokter belum juga keluar " jawab ayah Fiona.

Tommh menundukkan kepalanya, lalu mengacak-acak rambutnya frustasi. Ia melihat ke arah pintu ICU. Gadisnya, gadisnya berada disitu tengah mempertaruhkan nyawanya.

Tak lama dokter keluar. Semua langsung menghampiri sang dokter. " Bagaimana dok? " tanya ayah Fiona. Dokter itu terdiam dengan wajah lesu. Ia menghela nafas panjang lalu menggelengkan kepalanya.

~~ TL ~~

7 tahun kemudian........

Langit yang berawan ditambah angin yang berhembus tak terlalu kencang membuat suasana siang menjelang sore itu menjadi nyaman. Pergantian musim kali ini dilewati dengan perasaan gembira oleh semua orang.

Rekreasi bersama keluarga, hangout bareng temen, jalan-jalan bareng pacar. Namun tidak dengan pria satu ini.

Kini ia tengah duduk didepan gundukkan tanah. Ia mengelus batu nisan itu dengan sayang.

" Hai fi. Maaf lagi-lagi aku ngingkarin janji sama kamu. Kemarin aku ada rapat mendadak jadi nggak bisa kesini " ia berbicara seakan orang yang sangat ingin ia temui akan menyautinya.

" Suasana hari ini cerah banget fi. Coba kamu ada disampingku "

" Oh ya, apa kau masih ingat perkataanmu dulu? Kau ingin menikah denganku setelah lulus S1. Kita sekarang mungkin sudah punya anak umur 2 atau 3 tahun. Mungkin sekarang kita akan rekreasi ke suatu tempat bersama anak kita. Terlalu banyak kata mungkin jika aku jabarkan semuanya "

" Sekarang, aku balik dulu ya fi. Besok aku akan datang, kali ini aku nggak bakal ngingkarin janjiku. I promise, bye "

~~ SELESAI ~~

True LoveBaca cerita ini secara GRATIS!