Final

37 1 0

Aku duduk merenung menatap ruangan ini yang terlalu sepi. Yah, ruangan ini sepi sejak yeoja itu pergi. Biasanya, rumah ini selalu ramai dengan teriakannya, dengan tawanya maupun dengan omelannya. Jujur saja, aku merindukannya! Sangat merindukannya! Harus aku akui, ini semua salahku! Jika bukan karena aku, dirinya pasti masih disini! Aku bangkit dari kursiku dan berjalan menuju meja kecil dekat kasurku. Mataku menangkap sebuah kotak kecil. Tanganku bergerak mengambil kotak kecil itu dan akupun menjatuhkan pantatku ke kasur. Kubuka kotak kecil itu dan kulihat sebuah cincin, sebuah cincin yang biasa saja, tapi menurutku sangat indah. Sebuah cincin yang kuberikan saat resminya hubungan kami berdua. Kuambil cincin itu dari kotaknya dan kuusap dengan pelan. Cincin ini, seharusnya tidak berada disini. Cincin ini, harusnya masih terpasang dijari manisnya. Akupun menggenggam cincin itu dan menundukkan kepalaku. Andai saja aku bisa memutar kembali waktu, aku pasti akan melakukannya dan aku akan memperbaiki kesalahanku.
"Prank!"
Terdengar suara barang pecah dari arah ruang tengah. Akupun segera bangkit dan menuju ruang tengah. Kulihat pecahan gelas berserakan dilantai dan kudengar suara kucing yang mengeong. Aku menghela nafas. Akupun segera menunduk dan mengambil pecahan gelas itu. Begitu aku berdiri dan hendak pergi, mataku menangkap sebuah benda yang terpajang dimeja. Segera kuurungkan niatku dan mendekati benda itu. Kuletakkan pecahan kaca itu dimeja dan segera kusentuh benda itu. Sand glass. Mau tak mau, aku teringat dengannya lagi. Yeoja itu yang meletakannya disana. Masih teringat jelas apa yang diucapkan yeoja itu saat itu.
"Oppa! Kau tau, jika kau membalikkan sand glass ini, kau akan bisa memutar kembali waktu!"
Konyol! Itulah yang kupikirkan saat itu. Aku tertawa yang membuatnya kesal. Tapi, saat ini, aku berharap itu bukanlah sebuah kekonyolan. Aku harap, itu benar-benar bisa terjadi. Akupun menggerakkan tanganku untuk membalik sand glass itu. Kulihat, tabung bagian atas yang kini berisi pasir mulai menjatuhkan butiran-butiran pasir itu dengan sangat lambat. Bisa kudengar suaranya yang sangat pelan. Aku memejamkan mataku, berharap semuanya akan kembali seperti dulu. Cukup lama, akupun membuka mataku. Kulihat semuanya masih sama! Aku tersenyum miris. Bodohnya aku berharap akan cerita konyol itu. Aku lalu mengambil pecahan kaca itu dan membuangnya ketempat sampah didepan rumah. Sinar matahari yang menerpa wajahku terasa menyilaukan. Aku lalu kembali memasuki rumah dan menutup pintu. Begitu kubalikkan badanku, aku terpaku. Apa ini nyata? Kulihat yeoja itu berada didepanku sambil menyunggingkan senyumnya.
"Soojung-ah!"
Aku segera berlari untuk memeluknya, namun hanya udara kosong yang kudapat. Apa ini hanya halusinasiku?
"Oppa!"
Sebuah suara yang aku kenal masuk kedalam indera pendengaranku membuatku membalikkan badanku. Lagi. Kulihat dirinya tersenyum padaku. Apakah ini sebuah ilusi lagi?
"Kau nggak merindukanku,oppa?"
"Aku merindukanmu, Soojung-ah! sangat merindukanmu!"
Dia tersenyum. Senyum yang sangat aku sukai. Dia lalu merentangkan kedua tangannya. Aku tersenyum dan segera memeluknya. Tapi, lagi-lagi hanya kekosangan yang aku dapat. Aku menjatuhkan tubuhku kusofa. Kusandarkan bahuku pada sandaran sofa dan kupejamkan mataku.
"Kembalilah, Soojung-ah! Kau bisa membuatku gila!"
Ingin rasanya kuteriakan itu, tapi mulutku tak mau berkompromi sehingga hanya menghasilkan ucapan lirih. Tiba-tiba kurasakan sebuah sentuhan dibahuku. Akupun terjaga. Kulihat dia duduk disebelahku menatapku dengan tatapan khasnya. Tatapan yang selalu membuatku luluh. Kugerakkan tanganku untuk menyentuh wajahnya, namun dirinya menghilang dan digantikan 2 sosok yang sedang asyik duduk tak jauh dariku. Raut kebahagian tergambar diwajah keduanya. Tangan namja itu merangkul bahu yeoja itu sedangkan kepala yeoja itu bersandar pada namja itu. Mereka berdua sedang asyik menatap layar televisi sambil tertawa. Kulihat lagi keduanya yang penuh kebahagiaan. Namja itu adalah aku, dan yeoja itu adalah Soojung. Itu kenangan kami berdua. Mau tak mau rasa sesak memenuhi dadaku. Rasanya benar-benar menyesakkan!
Suara pasir yang berjatuhan terdengar ditelingaku dan membuyarkan bayangan itu. Kenapa aku bisa mendengar suara pasir yang berjatuhan? Aku lalu memutuskan untuk kedapur. Sepertinya aku butuh air untuk menghilangkan rasa sesak dalam dada ini. Akupun melangkahkan diriku kedapur dengan desain terbuka. Begitu memasuki dapur, langkahkupun terhenti ketika kulihat dirinya berdiri ditempat memasak dengan celemek ditubuhnya dan membiarkan rambutnya terikat. Dia terlihat yeoppo! Sangat yeoppo! Dia tampak sedang asyik dengan masakannya. Ketika dia menatap kedepan, diapun tersenyum kearahku. Ingin rasanya aku berjalan mendekat, tapi langkahku tertahan saat seorang namja memeluk pinggangnya dari belakang membuatnya terkejut tapi kemudian tersenyum juga.
"Oppa! Kau mengagetkanku!"
Namja itu tersenyum dan meletakkan dagunya kebahu Soojung. Soojung segera memukul kepala namja itu dengan sendok sayur ditangannya.
"Oppa! Aku ingin memasak! minggir!"
Namja itu tak bergerak dan justru makin mengeratkan pelukannya.
"Oppa! Kau nggak lapar? Nggak ingin makan?"
"Anio! Aku sudah cukup kenyang hanya dengan memelukmu seperti ini!"
Soojung mendengus.
"Kotjimal!"
"Anio! Aku jujur Soojung-ah! kau sudah membuatku kenyang!"
Soojung melepaskan pelukan namja itu.
"Kau pikir aku makanan?! kalau oppa nggak lapar, aku yang lapar!"
Namja itu terkekeh melihat Soojung yang tampak kesal.
"Kau terlihat makin yeoppo saat kesal, chagiya!"
Soojung menatap namja itu kesal.
"Ya! oppa! Berhenti menggangguku!"
Namja itu memberikan tanda V dengan jarinya dan mundur menjauhi tempat memasak. soojung lalu kembali pada kegiatan memasaknya.
"Soojung-ah!"
Soojung menoleh.
"Masaklah yang enak! Walaupun aku tau, kau tetap yang paling enak!"
"Oppa!"
Soojung melempar tahu ditangannya, sedangkan namja itu terkekeh dan berlari keluar dari dapur.
Aku terhenyak saat sebuah kain lap jatuh disampingku seiring dengan menghilangnya bayangan itu. Aku menyentuh dadaku. Rasanya semakin sesak saja didalam sana. Namja itu diriku. Kenangan itu muncul lagi dihadapanku. Rasanya air mata ingin sekali memaksa keluar dari mataku. Akupun segera meninggalkan dapur mengurungkan niatku untuk minum. Akupun melangkahkan kakiku lagi dengan lemas. Aku benar-benar merasakan pusing dikepalaku. Semuanya terasa aneh bagiku. Hampir saja aku terjatuh saat kurasakan sebuah tangan menahan tubuhku. Dia lagi. Kali ini dengan wajahnya yang terlihat sangat khawatir. Aku mengerjapkan mataku dan bayangannya menghilang dari hadapanku dan kini sedang memapah seorang namja yang tak lain diriku kesofa.
"Oppa! Kenapa kau bisa sakit seperti ini?"
Aku tersenyum.
"Gwenchana, Soojung-ah! aku hanya terlalu lelah!"
Kuusap rambutnya dan dia menggenggam tanganku lembut.
"Sembuhlah, oppa! Aku takut kau meninggalkanku!"
Aku kembali tersenyum lemah.
"Siapa yang akan meninggalkanmu? Kau pikir aku akan melepaskanmu begitu saja?"
Dia pun tersenyum.
"Aku senang mendengarnya oppa! Yaksoke?!"
Dia memberikan kelingkingnya. Akupun tersenyum dan menyambut kelingkingnya.
"Yaksoke!"
Aku terpaku. Janji itu! Ya, aku telah berjanji padanya untuk tidak meninggalkannya. Tapi, apa yang terjadi sekarang? Aku membiarkannya pergi. Setetes air mata membasahi pipiku. Mianhe, Soojung-ah! mianhe, oppa nggak menepati janji!
Aku lalu segera menuju kamarku. Aku ingin tidur sekarang! Aku benar-benar nggak kuat! Aku membuka pintu kamarku dan segera menjatuhkan tubuhku kekasur. Aku memejamkan mataku. Tapi indera pendengaranku menangkap sebuah tangisan. Suaranya sangat dekat. Aku pun membuka mataku dan terkejut melihat Soojung yang berada disebelahku menekuk kedua kakinya dan membenamkan kepalannya. Dia menangis. Aku segera bangkit untuk duduk.
"Soojung-ah!"
Hatiku serasa tersayat melihatnya menangis seperti ini. Apa yang membuatnya menangis seperti ini? siapa yang membuatnya begini?. Baru saja, aku handak mengelus kepalanya untuk menenangkan, pintu kamar terbuka dengan kerasnya. Namja itu lagi, yang kini tampak menunjukkan kemarahannya. Soojung mengangkat kepalanya menoleh pada namja itu. Reflek aku turun dari kasur saat bayangan itu mulai muncul.
"Oppa!" lirih Soojung.
"Kenapa kau melakukan ini, Soojung-ah?" tanya namja itu dingin.
"Oppa! Kamu salah paham! Ini nggak seperti yang kamu pikirkan!"
Namja itu tertawa sarkatis.
"Salah paham?! Jadi kamu bilang kamu nggak berpelukan dengannya? Apa yang aku lihat nggak nyata?"
"Bukan begitu oppa! Aku memang memeluknya, tapi..."
"Tapi apa?! Jadi yang kulihat benarkan?!"
Soojung menangis.
"Dengarkan dulu, oppa! Jebal! Ray hanya menenangkanku!"
Namja itu kembali tertawa sarkatis.
"Dan kamu menyukainya? Kamu nyaman dengannya? Aku lihat dengan jelas kalian berpelukan sangat lama!"
"Oppa! Bukan begitu...."
"Kau memang nggak pernah mencintaiku, Soojung-ah! kau hanya mencintainya! Kau nggak pernah berhenti mencintai cinta pertamamu itu!"
"Oppa! Aku mencintaimu! Ray adalah masa laluku!"
"Yeh, dia masa lalumu! Tapi, juga hatimu sekarang dan masa depanmu!"
Soojung mengambil tangan namja itu. Tangisnya bertambah deras.
"Oppa! Kau salah! Kau salah oppa!"
"Aku memang salah! Aku salah, berpikir bahwa kau akan mencintaiku!" teriak namja itu. "Selama ini aku salah membiarkan kalian terus dekat! Sahabat?" namja itu tersenyum sinis."Harusnya aku tahu, cinta nggak akan berubah menjadi sahabat! Bulshit!"
Namja itu menghentakkan tangan Soojung dengan kasar membuat yeoja itu kehilangan keseimbangannya dan terjatuh di lantai. Namja itu membalikkan badannya.
"Pergilah, Soojung-ah! Aku nggak ingin melihatmu lagi!"
Soojung tampak terkejut. Dia segera menghampiri namja itu dan memegang tangannya.
"Oppa! Jangan lakukan ini oppa! Aku benar-benar nggak punya hubungan apa-apa dengan Ray, Oppa! Percayalah!"
Namja itu diam tak merespon.
"Oppa! Ray bahkan sudah mempunyai yeojachingu, dan aku sudah mempunyaimu, oppa! Apa alasanku harus bersamanya?"
"Karena kamu masih mencintainya!"
"Berapa kali lagi, aku harus menjelaskannya. Oppa, aku nggak mencintainya! Aku hanya mencintaimu!" teriak Soojung.
Namja itu menatapnya dingin.
"Aku nggak bisa percaya kata-katamu lagi, Soojung-ah! Aku sudah sering memperhatikanmu dengan Ray dan aku tau, kalau kau dan Ray memiliki hubungan yang sangat dekat! Aku nggak bisa menjalaninya jika kamu bahkan nggak mencintaiku!"
"Jika itu nggak membuatmu nyaman, aku akan menjauhinya oppa! Aku nggak akan berhubungann lagi dengannya! Tapi, jangan seperti ini, oppa! Jebal!" pinta Soojung.
"Anio! Kau nggak perlu melakukannya! Karena aku sudah terlalu kecewa denganmu! Aku sudah merasa sakit dengan ini semua!"
"Tapi oppa..."
Soojung kembali menahan tangan namja itu.
"Cukup Soojung-ah! Semua yang kulihat dengan mataku, sudah cukup menjelaskan semuanya!" bentak namja itu. "Ka, Soojung-ah! KA!"
Namja itu lalu menghentakkannya dengan keras sehingga membuat Soojung terdorong dan menabrak lemari yang didekat pintu. Soojung benar-benar terkejut. Dia menatap namja itu dengan tatapan terluka.
"Keureo, oppa! Jika itu bisa membuatmu lebih baik, aku akan pergi!"
Soojung melepaskan cincin yang ada dijarinya, mengambil tangan namja itu dan meletakkan cincin itu ditangannya. Dia lalu mengambil kopernya, mengemasi semua bajunya dengan sembarangan. Begitu selesai, dia menatap namja itu.
"Belajarlah satu hal, oppa! Semua yang kau lihat dengan mata belum sepenuhnya benar! jika kau menyayangi seseorang, lihatlah dia dengan mata hatimu!"
Namja itu hanya diam tak merespon.
"Hiduplah dengan baik, oppa! Jangan pernah menyesali keputusanmu, atau kau akan merasakan sakit!" Soojung menyeret kopernya. "Good bye, oppa!"
Aku terpaku menatap punggungnya yang menjauh. Aku menatap tak percaya pada namja itu yang tak lain adalah diriku sendiri. Apakah itu benar-benar aku? Air matakupun turun tanpa bisa menahannya lagi. Aku terduduk di lantai.
"Wae? Bagaimana bisa aku melakukan itu?! Bagaimana bisa aku menyakitinya?!" teriakku.
Tak ada jawaban, karena memang nggak ada yang bisa menjawabnya selain diriku sendiri.
"Kenangan itu terlalu menyakitkan buatku!" teriakku lagi.
Aku nggak mengerti kenapa bayang-bayang ini kembali muncul. Kulihat kearah pintu, kulihat dirinya yang berdiri tanpa senyuman. Menatapku dengan iba. Itu hanya sebuah ilusi! Itu nggak nyata!
"Sudah aku bilang, oppa! Jangan pernah menyesali keputusanmu!" ucapnya.
"Mianhe, Soojung-ah! mianhe!" ucapku.
"Jangan mengatakan itu oppa! Jangan menyesali keputusanmu!"
"Soojung-ah!"
Dia kembali menatapku dengan tatapan yang tidak aku kenali. Iba dan juga terluka. Perlahan bayangannya menjauh.
"Soojung-ah!"
Aku bangkit dan mengejarnya. Aku nggak ingin kehilangannya! Nggak!
"Soojung-ah!"
Dia terus berjalan menjauh, tapi langkahnya terhenti diruang tengah dimana sand glass itu berada. Dia menatapku terakhir kali sebelum bayangannya menghilang.
"Soojung-ah!"
Aku berteriak mencoba menahan kepergiannya, tapi semuanya sia-sia. Aku kembali jatuh terduduk. Kulihat pasir dalam sand glass itu telah jatuh semuanya kebawah. Aku tergugu melihatnya. Aku tertawa. Bodohnya aku berpikir bahwa aku bisa memutar kembali waktu dengan benda konyol itu. Bodohnya aku percaya akan cerita itu. Sand glass itu hanya membuatku menjadi gila akan kenangan itu.
"Kau salah melepaskannya, hyung! kau terlalu buta untuk melihat seberapa besar cintanya padamu! Percayalah! Kau akan menyesal, hyung! kau akan menyesal telah melepaskan orang yang berharga untukmu! Dan saat itu terjadi, kau nggak akan bisa kembali! Sebesar apapun usahamu, saat itu, kau nggak akan bisa kembali lagi mendapatkannya! Bahkan, jika kamu membalikkan waktumu, kau tetap nggak akan mendapatkannya lagi. Yang kau dapatkan hanya sebuah ilusi. Karena pasir yang jatuh kebawah, akan berbeda saat kau membaliknya!"
Ucapan Ray terngiang dalam kepalaku. Aku meratapi diriku yang menyedihkan. Ya, Ray benar! aku nggak akan bisa membalikkan waktu itu! Ini semua omong kosong!
Aku lalu berdiri dan menghampiri sand glass itu. Aku mengambilnya dan membantingnya hingga menabrak dinding. Kaca-kacapun berserakan begitu juga dengan pasirnya. Aku merosot menyesali kebodohanku. Aku tergugu, aku mengacak rambutku frustasi dan aku rasa aku menjadi gila karena ini. tiba-tiba kudengar suara bel. Aku mengacuhkannya. Tak lama, bel itu berbunyi lagi dan aku acuhkan lagi hingga tiga kali. Akhirnya, dengan malas, aku bangkit dan berjalan menuju kearah pintu. Aku membuka pintu itu dan aku terpaku. Aku rasa aku benar-benar gila sekarang! Ilusi itu muncul lagi. Bayangannya muncul dihadapanku lagi. Akupun terjatuh, kakiku terlalu lemah untuk menopang badanku sendiri. Tapi sebuah tangan sekuat tenaga menyangga tubuhku.
"Myungsoo oppa! Gwechanayo?"
Suara itu, raut kekhawatiran itu, kenapa semuanya terlihat nyata bagiku? Aku rasa, aku benar-benar menjadi gila sekarang. Perlahan, pandanganku kabur dan menggelap. Tapi, sebelum kesadaranku benar-benar hilang sepenuhnya, suara itu samar-samar terdengar.
"Myungsoo oppa! Sadarlah!"
~end~

ILLUSIONBaca cerita ini secara GRATIS!