Mission

107 26 4

"Saat melupakan tidak lagi baik, mengingat sedikit agar kamu semakin kuat, juga dibutuhkan"

Seorang gadis dengan latar dufan adalah sebuah foto yang saat ini dipandangi Nathan. Matanya beralih ke foto yang lain, gadis yang sama dengan di foto sebelumnya terlihat hendak mengoper bola basket, rambutnya dikuncir kuda. Lalu foto berikutnya, masih dengan objek yang sama, kali dengan latar pegunungan dan sunset. Ada perasaan rindu yang kuat saat dirinya kembali melihat satu persatu foto disana. Hampir seluruhnya sama yaitu gadis bermata coklat terang itu.

Tiga tahun yang lalu dia hanya menatap kosong setiap foto disana, berpikir keras hingga kepalanya terasa pecah dan berakhir dengan menyerah. Sama sekali tidak memiliki ide tentang gadis yang menjadi objek setiap bidikan kameranya. Hanya satu hal yang disimpulkannya saat itu, gadis ini mungkin berarti untuknya.

Mengambil sketch-book bewarna cokelat pudar dengan tulisan 'Remember' di sampulnya, Nathan menggerakkan pensil dengan cepat dan pasti menyapu kertas putih itu dan muncullah siluet seorang gadis tengah duduk di seberang meja. Dia tengah mencoba mengabadikan momennya dengan Reva beberapa jam yang lalu. Posisi duduknya, cara bicaranya, sikap cueknya yang terkadang sangat acuh. Nathan ingin benar-benar memastikan bahwa semua itu terekam dalam memorinya.

Nathan menghela napas berat seolah udara di paru-parunya begitu sesak, kepalanya berdenyut. Mungkin dia terlalu memaksakan diri. Tapi hei setidaknya dia berusaha kan?

Dua tahun yang lalu, dia berusaha menghimpun satu per satu bagian dari dirinya yang hilang, setelah melihat gadis bermata cokelat terang yang terlihat sama berdiri tidak jauh darinya. Mereka sama-sama terpaku sejenak, gadis itu bahkan menyerngit bingung. Meski setelahnya gadis itu melewatinya yang masih terpaku begitu saja. Gadis itu terlihat tidak mengenalinya, atau berpura-pura tidak mengenalnya. Kesimpulan yang kedunya harus dia tahu mengapa.

Mengamatinya dari jauh, mencari informasi tentang gadis itu adalah hal yang dilakukan Nathan setelahnya. Namanya Revalisha Arega, menjelaskan mengapa terdapat coretan 'Alisha' pada lukisan siluet seorang perempuan yang tergantung di kamarnya. Semakin Nathan memperhatikannya, sketsa-sketsanya terlihat menyata. Sampai saat Reva pertama kali memanggil namanya, berbagai rekaman acak seolah bertubi-tubi menabrak batas kesadarannya, silih berganti hingga dia terhuyung tak sadarkan diri.

Sialnya saat itu dia berada di pinggiran tangga, hendak turun ke lobby bawah. Dan bisa dibayangkan apa yang setelahnya terjadi, Nathan terbangun di sebuah ruangan bewarna putih dengan selang infus di tangan kirinya dan kepala yang diperban. Semua dirasanya baik-baik saja, bersyukur tidak ada tulangnya yang patah atau retak. Hingga pintu ruangan itu bergeser terbuka, seorang perempuan yang menjadi alasan dari kondisinya saat itu masuk. Dia menampilkan senyum tidak enak, terlihat ragu melangkah mendekat.

"Lo udah baikan? Nathan kan? Sorry, gue nggak tahu kalau lo bisa sekaget itu pas gue manggil" Nathan masih ingat bagaimana Reva menampilkan raut wajah menyesalnya saat datang menjenguknya. Reva terlihat tidak sedang berpura-pura, mungkin Reva memang tidak mengenalinya. Apa dulunya dia memang punya hobby aneh? Stalker? Secret Admirer? Dan setelah denyutan hebat yang menghantam kepalanya, Nathan menemukan jawabannya.

Pelan, dia meringis menatap langit-langit kamarnya, "Apa terlalu sakit.. sampai lo bahkan nggak berusaha?"

***

"Sha.. bangun bisa kali. Gue mau ngampus, bareng nggak? seru seorang cewek membangunkan sepupunya yang sangat hobby tidur ini. Dia sudah siap dengan setelannya, blus tanpa corak bewarna biru pucat, lengkap dengan tas punggung kecil dan salah satu dari sekian koleksi sepatu kesayangannya.

Cewek itu mengguncang pelan tubuh Reva, masih berusaha membangunkannya. Dia menoleh kearah nakas, dimana ponsel Reva yang sedari tadi berdering berada. "Sha.. hape lo dari tadi bunyi tuh. Bangun nggak?" masih tidak ada respon. "Gue angkat ya?" katanya lagi, memancing Reva agar segera bangun, merelakan mimpi indahnya.

The SeasonRead this story for FREE!