CHAPTER 1 : AWALNYA DARI SINI

43 3 2

" Pernahkah kamu merasa sendiri dan kesepian ?"

Itulah yang gue rasakan ketika pulang dari sekolah dan menganggur selain memainkan HP. Terutama saat malam hari tiba. Kadang sebelum tidur di malam hari gue merenung mencari cara agar hari esok gue lebih hidup dan berwarna. Jujur saja, hari sebelumnya kelam butek kayak air kali ciliwung. Pada akhirnya, justru gue yang nggak bisa tidur mikirin hari esok yang mungkin lebih jauh suram daripada tampang gue.

Segala jenis cara gue luncurkan. Seperti menghitung bulu domba di spring bed kasur gue yang bertemakan Shaun The Sheep, menghitung hari dalam 50 tahun kedepan, menghitung banyaknya hutang gue, sampai menghitung dosa. Dosa gue terlalu banyak, sampai terpaksa nggak jadi tidur.

Esok paginya gue memutuskan untuk melakukan pekerjaan yang ringan demi mengusir rasa bosan pada diri gue yang malang ini. Mulai dari mengepel lantai, mencuci piring, nyuci baju sendiri, benerin kasur, rapiin rak buku, nyapu halaman rumah plus lantai. Emak gue sampai bingung, kiranya gue ada salah makan racun tikus atau kepala gue terbentur sesuatu. Dan, gue hanya bisa berkecil hati karena dikira tetangga sebagai pembantu baru saat beli micin ke warung. Peduli amat. Amat aja nggak peduli.

Teman-teman gue mendukung untuk mencari seorang yang bisa disebut dengan "pacar". Gak tahu deh, orang tua gue sih nggak peduli sama yang begituan pastinya. Yang ada, kalo orangtua gue tahu gue punya pacar...,

"Cowok kamu enggak buta tuh ?"

"Idih anak mama main jampi-jampi"

"Lihat kenyataan nak ! Lihat !"

"Mungkin saja kamu lagi hoki menang taruhan ama temen di sekolah"

Rasanya serba salah punya pacar, yah. Tujuan gue nyari pacar biar punya kerjaan yang lebih terhormat. Misalnya, meladeni curhatannya kalo lagi kalah main game, nemenin malming, jadi penyemangat kayak team cheerleader saat dia lagi badmood, atau mungkin bisa jadi sandaran bahu buat dia kalau lagi sedih (maaf, jadi menghayal). Gue capcus langsung saja minta pertolongan teman seperjuangan, sebut saja Dagang lumpia, untuk mendekatkanku pada seorang cowok.

"Eh, kenalin aku sama cowok dong !", ucapku.

"Lo jahat ama gue yah....", sahut Dagang Lumpia.

"Lah, kok gitu ?" tanya gue.

"HEH, GUE KAN JUGA JONES COEG ! KENALAN COWOK AJA GUE NGGA PUNYA !", sahut Dagang Lumpia yang gue yakini rupanya senasib denganku. Nyesel gue minta tolong cuk.

Pada akhirnya, niat gue buat mencari pacar kandas di tengah jalan sudah. Gue rasa belum saatnya gue mikirin pacar (tepatnya tampang sama dompet gue belum siap buat mengadu nasib). Jaman sekarang cewek atau cowok, uang itu juga diperlukan, bukan hanya cowok saja yang ngebet bilang nggak punya duit. At least, gue mencari cara lain biar ada kerjaan. Kerjaan apa saja itu akan gue lakukan. Meskipun, itu sifatnya memaksa. Maksa banget loh, guys !

Entah angin darimana teman sebangku gue, sebut saja namanya Dojin. Nah, si Dojin ini ngajak gue hangout bareng ke suatu acara je-jepangan. Bagi para Otaku atau Wibu sejenisnya pastinya sudah tidak asing lagi dengan acara seperti itu, termasuk saya sendiri. Mari kita beri nama acara itu, "Seishun no Matsuri". Memang begitu nama acaranya. Gue lupa kapan dan dimana acara itu diadakan. Yang pasti seinget gue, acara kayak itu diadakan oleh sebuah fakultas jepang di provinsi gue mungkin(?).

Sumpah gue kalap mati gaya di sana. Sebelumnya, gue ini bisa dibilang seseorang yang belum sepenuhnya mengerti tentang Otaku seperti itu. Anggap saja gue ada di kelas menengah, kebawah sedikit lagi. Yak ! Di situ ! Ini adalah yang pertama kalinya bagi gue buat pergi ke acara yang kekinian. Benar-benar menakjubkan acaranya ! Sayangnya, gue Cuma bisa jadi anak hilang(nyariin temen). Setelah beberapa saat membaca mantra guna-guna, akhirnya gue baru ketemu sama temen gue. Dojin.

"Eh, lo kemana aja ? Gue bingung nih mau kemana", sahut gue.

"Eleh, lelet banget. Udah cepetan masuk. Hajar aja, hayuk !", sahutnya ala tante-tante mau reunian.

Pertama kalinya buat orang yang newbie kayak gue ini tampil di depan umum. Mencoba berbaur dengan orang-orang yang jomblo sejenis. Jujur aja waktu itu gue pemalu tapi malu-maluin banget. Dapat digambarkan seperti, temen gue si Dojin itu emak gue. Dan gue, jadi anaknya. Kemana-mana gue selalu buntutin tuh anak. Takutnya kesasar nanti ketemu om-om pedofil. Ih, ngga banget deh.

Menurut gue penampilan waktu itu udah rapi. Pake kacamata (hiasan), celana leggings panjang warna coklat agak tua, pake sepatu sporty warna hitam-ungu (merk precious), dan baju ber-strips merah muda dan merah tua. Setidaknya penampilan gue nggak terlihat ndeso. Dan gue, berusaha menutupi aura fujoshi milik gue.

Hal pertama yang gue lakuin ketika sampai di sana adalah, Hunting ke beberapa stand-stand yang menjual beberapa pernak pernik ala je-jepangan. Ada salah satu stand yang rame banget. Pastinya, kaki gue jadi korban kekerasan di sana (keinjak-injak). Sebut saja nama stand itu "Lazy RazyProject". Gue hampir ngehabisin satu jam buat ngantri ngambil barang. Lagi-lagi diri ini beradu nasib. Bagi badannya yang masuk kategori gede dan tinggi memiliki hak kuasa. Sedangkan yang pendek dan kecil, jika tidak sedang hoki maka anda akan terjepit bahkan terinjak. At least, gue selalu bad luck di sini. Jadi kalian tahulah, gue kategori yang mana. Hayati ini lelah, mas.

Pada akhirnya, pengorbanan gue terbalaskan. Keadaan yang mulai sepi, sehingga gue dapat leluasa memilih belanjaan. Lagi-lagi gue dihadang kendala yang memilukan (kebanyakan dosa gini nih). "Ini harganya berapaan ya?", gerangan dalam hati gue. Gue bener-bener kebingungan dan sempat terdiam membatu sejenak. Karena hayati ini sudah lelah dan gue nggak mau berlama-lama lagi, akhirnya gue memberanikan diri untuk bertanya kepada si mbak-mbak penjual.

"Mbak, ini ganci anime Seni Pedang Online berapaan ya?", tanya gue.

"Oh, itu 8000 dik...", sahut si mbak layaknya kasir di Indomaret.

"Kalau, ganci anime Susanto dari Tokyo?", tanya gue.

"Kalau ganci di sebelah kanan 8000. Dan, kalau yang di kiri 10.000", sahut si mbak yang gue pikir mulai kzl,kzl,kzl.

Mending gue tanya harga pin-nya deh.

"Mbak, harga pin anime Arek - arek Ndeso-nya berapaan ya?", tanya gue.

"Oh, kalau pin 10.000 dik", sahut mbaknya kembali ramah.

"Kalau pin anime Duarduarduar! Berapaan mbak?", tanya gue lagi.

"Sama", sahut si mbak singkat.

Pada akhirnya, gue membelidua buah ganci dan satu pin. Gue akui bahwa gue ini anak baru. Jadi wajar aja,pengetahuan gue belum seberapa dari mastah-mastah yang ada di sekeliling gue sekarang. Terkadang rasa minder dan ngga pede itu ada. Maklumi saja. Setelah puas berbelanja pernak-pernik, gue kelupaan sesuatu. Kemanakah pergi si Dojin ? Apa perlu gue masang iklan dicari anak hilang ? Sedih banget deh gue.

Bruhh!!Baca cerita ini secara GRATIS!