Mei

135 5 0

Dibulan Mei aku bertemu dengannya. Pria berkacamata hitam, berjas parlente. Aku dengan sengaja menubruknya dibandara. Saat itu aku sedang menunggu kedatangan Juli sahabatku yang pulang dari Swiss.

Pria itu berjalan tergesa-gesa seperti ada yang mengejarnya dengan tangan kanan digunakan melindungi wajahnya, seperti menutupi diri takut ketahuan oleh seseorang. Sesekali dia celingak celinguk. Membuatku tertarik akan tingkahnya (selain fisiknya) sejak pertama melihat dia keluar dari ruang kedatangan penumpang.

Segera saja aku menubruknya saat dia sudah ada diluar area penumpang, mumpung si Juli yang sejak tadi kutunggu belum muncul juga.
Dengan alasan bahwa tubrukan itu akan menjadi awal menyambungnya takdir atau jalan awal takdir percintaanku, aku pun nekat tanpa rasa malu.

"Aww.." teriakku, sebagai sirine awal tubrukan cinta telah terlaksana.

Tapi apa yang kudapat?? Seperti bayanganku. Pria itu marah marah dengan wajah memerah dan mengeras.

"Hei..nona dimana mata mu?"
Kupandangi wajahnya yang sangat sempurna dengan dagu yang ditutupi brewok machonya. Segera aku tersadar saat mataku ditusuknya dengan tatapan elangnya. Wataaawww!!!

"Hei tuan...dandanan mu itu yg seharusnya kau perhatikan" alis seksinya terangkat demi mendengar kata2 konyolku. Ingin ku terkam saja dia itu. Roaaarr!!!

Dalam 1 tarikan nafas, aku mendampratnya.
"Untuk apa kaca mata hitam aneh itu ada diwajahmu (yang sangat menggoda itu)...dan lagi kau menutupi pandanganmu dengan tangan (yang aku yakin kekar dan berotot itu *aku sudah gila*). Jalanmu juga tergesa gesa dan itulah penyebab tubrukan ini terjadi..." ku tarik nafas yang sudah menipis ditengah tengah kebingungannya melihat wanita secerewet aku.

"Nathan Prawira"
Suara teriakan itu menunda ocehan yang sudah siap akan aku luncurkan. Kami menoleh padanya dan segera sipangeran pun lari dari hadapanku menghindari si wanita yang memanggilnya tadi.

"Hei Nathan tunggu" wanita berpakaian ketat dengan rambut pirang coklat lembut itu pun mengejar pangeran impianku keluar. Dan itu sukses membuat aku mengutuknya dengan sumpah serapah. Sang pangeran impian sudah berlalu.

Walau pun mendapatkan nama pangeranku itu, tapi aku belum sempat menjabat tangan kekarnya. Uuugh...! Awas kau pirang coklat!!!
***

Yeyeye ini cerita ketiga ku... :D
Selamat membaca.

Bulan MeyBaca cerita ini secara GRATIS!