20➖Misi

386 47 9

RUANG rapat kali ini dalam keadaan serius. Pasalnya, semua polisi dikumpulkan untuk menjalankan suatu misi rahasia. Arif yang memang dipercayai oleh ketua kepolisian pun diberi tugas khusus dalam menjalankan misi ini.

Misi kali ini benar-benar berbeda dari sebelumnya. Beberapa pihak dari kepolisian diberi tugas untuk menjadi mata-mata dalam penangkapan bandar narkoba yang sedang dicari-cari itu.

Disanalah Arif harus mengorbankan diri. Demi tugas dan amanah, dia harus rela menjadi mata-mata dan ikut dalam sekelompok orang yang mengedarkan barang haram itu.

Dalam kata lain, Arif akan menjadi salah satu dari mereka.

"Beberapa pihak akan kami beri tugas menjadi mata-mata dalam kasus penangkapan bandar narkoba ini." ujar Pak Kurniawan selaku Ketua Kepolisian, "Mereka cukup cerdik, maka dari itu saya sangat mengharapkan kehati-hatian kalian dalam menghadapi misi kali ini. Karena bisa saja, ketika kalian ketahuan, para peredar itu akan membunuh kalian, mengerti?" lanjutnya.

"Mengerti, Pak!"

"Baiklah, Arif, mulai besok kamu akan menjadi bagian dari mereka. Kita sudah melacak beberapa tempat yang pernah mereka kunjungi, dan tugas kamu adalah menjebak ketua bandar diwaktu yang tepat, mengerti?"

"Megerti, Pak!" sahut Arif dengan tegas.

"Baiklah, semoga misi kali ini tidak gagal."

◾◾◾

Sore ini, Sydney mengajak Denaya untuk jalan-jalan. Awalnya gadis itu menolak, tapi Adesty dan Julia memaksanya. Alhasil, Denaya itupun mau.

Denaya kini mengenakan kaos putih dengan lukisan naga pada bagian depannya. Penampilan gadis itu sederhana, tapi berhasil menarik perhatian Sydney.

"Kita mau kemana sih?" tanya Denaya kepada Sydney yang sedang mengenderai motornya.

"Jalan-jalan," Sydney melirik Denaya melalui kaca spion motornya.

"Iya, gue tau mau jalan. Tapi kemana?" tanya gadis itu sedikit kesal dengan jawaban Sydney.

"Ke KUA," celetuk Sydney lalu tersenyum dibalik helmnya.

Mata Denaya melotot mendengar ucapan itu. Gadis itu pun sontak memukul helm Sydney, "Sembarangan banget ya kalo ngomong!"

Sydney tertawa. Laki-laki itu mengarahkan motornya menuju sebuah taman yang dipenuhi dengan anak-anak berusia sekitar tiga sampai tujuh tahun. Dipinggiran taman tersebut terdapat sebuah rumah bertingkat dua dengan cat putih yang terlihat sederhana.

Sydney memarkirkan motornya, lalu membuka helmnya. Laki-laki itu menyisir rambutnya dengan sela-sela jemarinya. Sore ini, Sydney mengenakan kaos putih polos berlengan pendek dengan rambut yang messy, membuat siapa saja yang melihatnya akan terpana.

Denaya ikut turun dari motor Sydney, lalu melihat kearah taman. Banyak anak-anak kecil yang sedang bermain disana.

"Kita ngapain disini?" Denaya menatap kearah Sydney yang kini sedang menatap kearah taman.

"Ikut gue, yuk!"

Sydney menarik tangan Denaya lalu menuju taman. Tepat saat mereka berada cukup dengan taman, seorang anak kecil pun meneriaki nama Sydney. Alhasil, anak-anak yang lain pun berbalik, dan menatap ke arah laki-laki itu.

"Kak Sydney datang!!!!" teriak salah satu anak laki-laki dengan girangnya dan berlari menghampiri Sydney.

Sydney pun menyambut anak laki-laki itu dengan merentangkan tangannya, hingga anak laki-laki itu pun langsung memeluknya.

SinceroBaca cerita ini secara GRATIS!