Rizal pov

"Assalamualaikum" ucapku ketika membuka pintu rumah, namun tidak terdengar ada jawaban dari salamku.

Jam sekarang sudah menunjukan pukul sembilan malam, mungkin Shofa sudah tidur. Aku terlalu asik ngobrol dengan pak RT -pak wahyu- di komplek ini di masjid. walaupun aku baru mengenlnya, tetapi aku seperti sudah dekat dengannya lama.

Aku juga memberi tau kepada pak Wahyu, jika aku disini tinggal bersama Shofa, sebagai istriku. Dan sedikit menceritakan tentang hubunganku dan Shofa, pak Wahyu juga memberikan sedikit nasehat untukku.

Sepertinya feeling ku benar, kalo Shofa sudah tidur, soalnya aku gak melihat Shofa berkeliaran di dalam rumah. Aku segera naik kelantai dua menuju kamarku, yah tepatnya kita -aku dan Shofa-. Karena abi hanya membelikan satu kasur disini.

Aku mengerutkan keningku ketika melihat pintu kamarnya belum tertutup. Aku segera masuk ke dalam kamar, Shofa sudah berbaring di atas kasur dengan selimut yang menutupi tubuhnya, dia mungkin terlalu lelah.

Aku melepas baju koko ku dan mengantinya dengan kaos biasa. Mataku sudah sangat mengantuk sekarang, badanku juga seperti mau Rontok. Aku duduk di sisi kasur untuk melepas jam tanganku, dan mengambil polisi tidur di kasur untuk mengistirahatkan tubuhku.

"Rizal!! Kamu ngapain disini?!"
Ucap Shofa membuatku kembali duduk dari posisi tidurku.

"Aku mau tidurlah Shof" ucapku malas, bahkan sekarang Shofa ikut duduk dari tidurnya.

"Kenapa segitu kagetnya sih Shof? Aku kan manusia, bukannya hantu di film horor yang sering kamu tonton" ucapku. Shofa memang paling penakut di kelas jika menonton
Film horor saat freeclass.

"Tapi kenapa harus disini?" ucapnya, merasa kamar ini hanya milik dia seorang.

"Tadi kan abi ngebeli kasurnya cuma satu untuk kita, lagi pula kasurnya besar kok," aku tak mau kalah darinya.

"Tapi kamu kan bisa tidur di sofa!" Shofa melempakan guling kewajahku. Ah, padahal aku sudah mengantuk, jadi melek lagi kan.

"Yasudah, aku tidur di sofa saja."
Aku mengalah dan turun dari kasur lalu menjauh dari Shofa.

"Tapi jangan salahkan aku, kalo hantu hantu di rumah ini ikut tidur bersamamu di kasur." Aku tersenyum miring setelah mengucapkan kalimat itu, Shofa hanya melihatku dengan tatapan mengutuk karena ucapaanku.

JLEEB..

Tiba tiba semua ruangan ini menjadi gelap, tak ada cahaya lagi kecuali sinar bulan yang menyusup dari ventilasi kamar, Aku rasa ini mati lampu.

"AAAAAA..!!"
Aku yakin, suara keras itu dapat merusak indra pendengaranku.

Aku merasakan sepasang tangan memeluku erat, dan meletakan kepalanya di bahuku. Aku baru merasakan ini.

"Nyalain lampunya Rizal" ucapnya pelan, bahkan mungkin jika kepalanya tidak berada di bahuku, aku tidak bisa mendengar ucapannya.

"Gak bisa dinyalain Shof, ini mati lampu." ucapku. Sekarang dia semakin mengeratkan pelukannya, kini aku bisa merasakan getaran hebat dari tubuhnya, dan detak jantungnya tidak beraturan.

"Kamu kenapa Shof?" ujarku panik, Aku segera mengambil ponselku dan menyalakan senter untuk memberi sedikit cahaya untuknya.

"Gelap banget zal," jawabnya dengan suara yang tak kalah gemetar.

"Nih aku udah nyalain senter, buka matamu." ucapku, Shofa sedikit melonggarkan pelukannya dan membuka matanya.

Mataku kini terpaku dengannya, mata yang sebenarnya sudah ku kenal lama, namun matanya yang seperti ini baru aku lihat dua kali, dan ini ketiga kali aku melihatnya. peratama ketika ibunya meninggal, kedua saat ayahnya meninggal, dan yang ketiga adalah ketika saat ini. Mata yang penuh dengan rasa takut, rasa kehilangan, mata yang butuh ketenangan, mata yang siapapun melihatnya akan ikut merasakan apa yang sedang dirasakan pemilik mata.

Ya Allah, Aku Ingin Bersama Yang Tak Berakhir [Achieve Happiness] [ COMPLETED]Baca cerita ini secara GRATIS!