Bagian 4

17.8K 535 0

Lucy mengangkat wajahnya, melihat kewajahku. Aku masih tersenyum geli melihat matanya yang merah habis menangis.

"Loe, gak papa? Loe gak sedih? Loe gak sakit hati?" Lucy bertanya kepadaku secara beruntun.

Aku menarik nafas dalam-dalam sebelum menjawan pertanyaannya. "Bohong kalo aku bilang baik-baik aja. Bohong kalo aku bilang gak sedih. Dan bohong juga kalo aku bilang gak sakit hati. Tapi ya mau gimana lagi? Udah takdir aku kayak gini. Jadi, sekarang kamu berhenti nangis ya. Kamu gak cocok nangis. Jelek tau." Aku tersenyum kepada Lucy. Dan menghapus air matanya.

Lucy kembali memelukku. "Put, kalo loe butuh teman buat cerita, jangan segan-segan pada gue ya. Gue akan selalu ada waktu buat loe 24 jam."

Aku tertawa dengan ucapan Lucy. "Lebay kamu ah."

"Gue serius, Put. Gue akan datang buat loe dimanapun dan kapanpun loe butuh gue." Lucy kembali menegaskan perkataannya dengan wajah yang lebih serius.

"Oke. Oke. Sekarang kita belajar dulu ya. Bentar lagi jam pelajaran akan dimulai. Dan jam pertama adalah matematika. Dan akan ada kuis." Ucap ku.

"Apa? Oh my good. Loe serius kita akan kuis?" Lucy bertanya padaku, berharap aku hanya bercanda. Aku hanya menganggukkan kepalaku. Membenarkan kalau akan ada kuis sebentar lagi.

Lucy krasak-krusuk teriak gak jelas. Dan kembalilah Lucy ku. Radio rusakku. Hehehe...

Lucy memanggilku Put alias Ciput. Katanya aku lelet kayak siput. Maka jadilah dia manggil aku ciput dari zaman TK ku dulu. Oh ya, aku berteman sama Lucy dari TK. Kami selalu satu sekolah sampai SMA sekarang.

Karena itu persahabatan ku dengan Lucy makin erat. Lucy sudah seperti saudara ku yang tidak pernah ada. Jadi Ciput panggilan sayang Lucy kepada ku. Aku sih gak masalah Lucy manggil aku kayak gitu. Begitu juga Lucy gak masalah ku panggil radio rusak.

******

Pada saat istirahat aku dan Lucy pergi ke kanti sekolah. Kata Lucy sih untuk menambah energi yang terkuras karena kuis matematika tadi. Aku memesan nasi goreng dan juice jeruk. Sedangkan Lucy memesan satu mangkok mie ayam, satu piring nasi goreng, dan juice melon.

Aku kaget mendengar dia mesan banyak kayak gitu. Aku menatapnya gak percaya. Dia malah cengengesan. Katanya energinya udah terkuras abis. Jadi perlu penambahan ekstra.

Aku hanya geleng-geleng kepala dibuatnya. Walaupun makannya sebanyak itu. Tapi tubuhnya tetap langsing. Setelah pesanan kami datang, kami memakannya penuh semangat.

Ternyata aku laper banget, dari pulang sekolah kemarin aku belum makan. Tadi pagi sarapannya hanya sereal dan segelas susu. Ukhh... Ternyata kalo patah hati tu gak enak banget. Pake gak nafsu makan segala dan sampe lupa makan. Sekarang baru tau kalo sebenarnya aku laper.

*****

Teacher's ToyBaca cerita ini secara GRATIS!