Ali menghampiri Prilly dengan cemas. Ia segera mengecek lengan Prilly yang memerah membentuh bulat akibat gigitan.

"Ck... biru ini nanti pasti..." gumam Ali yang tidak bisa menyembunyikan nada kesalnya.

"Aduh sakit banget Li...." Eluh Prilly menahan sakit dan tak terasa sudah menangis, pun Ali bergerak segera mendekapnya. (Posisinya kepala prilly berada di perut Ali, karna Ali berlutut di kasur sementara Prilly duduk di kasur)

"Abudd gak boleh nakal donk. Liat nih, umi sakit..." ujar Ali membuat Abudd menatap Uminya dengan tatapan bersalah kemudian ikut menangis.

"Uaaaaa (bayangin anak kecil nangis aja) umiiii...." rengek Abudd di tengah tangisnya.

"Sini - sini..."

"Biarin, jangan di ambil...!" Cegah Ali mendekap Prilly membuat Abud tambah menangis kencang.

"Sini dek, sini sayang..." abud tak berani bergerak karna takut pada Ali. Hanya tangisannya semakin keras.

"Ni liat, umi sakit... nakal!!" ujar Ali lagi.

"Bi, udah ah.. kasian anaknya, jangan digituin... sini dek sini..." Ali melepaskan dekapannya dan sedetik kemudian Prilly buru - buru mengambil Abudd untuk ia dekap. "Ssshhhttt.... udah sayang, jangan nangis.."

"Kalo abudd nakal lagi sama umi, abi pukul!!" Peringat Ali yang sekali lagi membuat Abud mengeraskan tangisannya.

"Udah bi, kamu mandi aja gih!! Anak kecil jangan digituin gak boleh.."

"Orang nakal..."

"Yaudah kamu mandi aja sana!!" Dan dengan itu Ali kembali ke kamar mandi membawa rasa kesalnya.

"Udah dek, jangan nangis! Makanya gak boleh nakal lagi ya??" Abudd mengangguk sesenggukan. Prilly pun mencium anaknya penuh sayang, Mengajaknya bercanda hingga Abudd bisa terkikik lagi. Sampai saat Ali telah selesai mandi, Ali terlihat cuek. Bukan dia marah, dia hanya ingin anak nya tau kalau perbuatannya itu salah. Untuk itu dia memasang tampang marah.

"Tuh Abi udah selesai. Mandi yuk...! Yuk umi mandi'in. Lepas dulu bajunya...." ujarnya sembari melepas kaos Abud, abud hanya menurut tapi sesekali ia menoleh ke Ali takut.

"Umi...." rengek Abud manja.

"Iya sayang?"

"Umi...." panggilnya lagi sembari memeluk Prilly dan menaikkan kakinya ke tubuh prilly seolah memanjat karna rasa takutnya pada Ali.

"Bi, liatin anak nya..." kikik prilly. Ali hanya menoleh datar kemudian sibuk lagi mengenakan bajunya. "Ish... gitu amat sih.."

"Biarin, nakal.."

"Emh... Umi..." rengek abud takut. Prilly pun menggendong putranya menuju kamar mandi.

....Skip lagi....

"Abiii......." panggil prilly dari kamar mandi dan tak lama Ali pun datang. "Anak nya dulu sayang, aku mau mandi..."

"Emh... umi... tama Umi, emh..." abud mengencangkan lilitannya di leher Prilly karna masih merasa takut pada Abinya, Ali tersenyum kecil melihatnya. Selama ini memang Ali jarang sekali marah. Jadi sekalinya marah pasti membuat anaknya takut.

"Sama abi dulu sayang ya? Umi mau mandi nak!!" Prilly memberi pengertian. Abud menggeleng.

"Tama Umi..." abud mengeratkan lengan dan kakinya ke bagian tubuh Prilly. Prilly pun memperingatkan Ali agar tidak terus - terusan membuat anaknya ketakutan.

"Ayo sini, sama abi dulu..." ujar Ali sembari meraih lengan Abud perlahan.

"Nta Au,, umi... eh..." abud masih ketakutan membuat Ali terkikik geli.

"Gak papa sayang, abi udah gak marah kok. Sana....." abudd merenggangkan lilitan lengannya untuk menoleh ke arah Ali dan di saat yang sama. Ali memberikan senyuman lebar pada anaknya.

"Yuk sini sama abi... pake baju dulu biar gak masuk angin. Umi mau mandi..." ali menyodorkan tangannya.

"Sana, sama abi dulu...." dan dengan itu abud bersedia ikut abinya. Pun Ali mengajaknya keluar.

"Abud gak boleh nakal lagi ya nak? Jangan gigit umi lagi ya?" Katanya sembari mengeringkan tubuh si kecil.

"Ya abii...." balas Abudd, suara si kecil yang menggemaskan membuat Ali tersenyum kemudian mencium habis pipi putranya.

Sembari bercanda Ali melakukan kebiasaan nya tiap kali abudd selesai mandi seperti, memberikan minyak kayu putih, bedak, mengenakan pakaian dan menyisir rambut sang putra sesuka hatinya. Setelah abud sudah rapi, Ali mengajaknya bermain. Sekaligus mengontrol pekerjaannya lewat laptopnya, ali mengirimi kevin sebuah email.

"Abi..."

"Em? Kenapa?" Tanya nya tanpa menoleh, ia masih terlalu sibuk dengan laptopnya.

"Au Utcu abi..."

"Iya iya... bentar ya. Bentar lagi abi bikinin!"

"Au utcu...." rengek Abud lagi yang akhirnya berhasil membuat Ali bangkit. Dia berjalan ke dapur kecil yang memang ada di kamarnya untuk membuatkan putra nya susu.

"Hey... mainan apa itu?" Tanya prilly yang baru saja keluar kamar mandi.

"Ain ulung umi!"

"Main burung?" Abud mengangguk.

"Umi, Abudd au utcu mi..."

"Mau susu? Iya iya tunggu ya..." prilly berjalan ke dapur dan menemukan Ali disana.

"Udah selesei sayang?" Tanya Ali.

"Baru aja selesei. Kamu ngapain?"

"Mau bikinin abudd susu..." balas Ali. Prilly menghela nafas mendengar hal itu. "Kenapa?" Tanya Ali.

"Dia juga minta susu sama aku..."

Kini Ali yang terkekeh. "Sini, coba aku liat lengan kamu..." Ali menarik tangan Prilly kemudian menyingkapkan sedikit jubah mandi Prilly hingga terlihatlah memar biru bekas gigitan abud.

"Ya Alloh, sampek biru gini.." Ali merunduk kemudian mencium lengan Prilly yang membiru. "Sakit pasti ini??"

"Udah, gak papa kok. Namanya juga anak - anak...! Kamu tu, jangan keterlaluan kalo marah. Sampe takut gitu abud nya.."

"Sengaja, biar dia tau aku akan marah kalo dia nakal lagi...! Liat ni, sampek biru banget ini..."

"Yaudah. Lagian udah gak papa kok..." balas Prilly lagi, Ali menarik prilly dan melingkarkan lengan prilly pada pinggangnya kemudian mencium kening istrinya lama.

"Kamu emang special..." ujar Ali memuji.

.

To be continued...

Rada garing, biasa part awal agak bingung gitu... hihihi...
Maafkan saya yang kurang maksimal.

TYM (Two)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang