Perempuan itu menangis di balik selimutnya. Tak terhitung seberapa banyak air matanya yang terkuras karena menghadiri pesta pernikahan itu. Pertemuannya dengan seseorang pun terlupa begitu saja ketika rasa sesak itu datang lagi. Senyumnya yang sebelumnya selalu tersampir kini telah tertutup oleh isak tangisnya.

Malam membuatnya lemah.

Perasaan sesak itu masih ada, entah sampai kapan, ia tak tau. Ia terus menyentuh dadanya yang sesak dan perutnya yang sakit. Ia sakit dan butuh seorang penyembuh.

Isakan tangisnya mulai teredam seiring detingan jarum jam yang menunjukkan malam semakin gelap. Ia lelah, lelah menangis dan menerima semuanya yang baginya terlalu cepat. Perlahan, kelopak matanya mulai menurun, menutup mata hitam itu yang terus memberikan tatapan sendu.

Ia tertidur membawa kesedihannya ke alam mimpinya.

Seorang laki-laki membuka pintu kamar perempuan itu perlahan. Menyadari perempuan itu telah tertidur, ia masuk dengan perlahan dan menghampiri tempat beradanya perempuan itu. Laki-laki itu menatap lekat wajah lelah sehabis menangis beberapa jam. Ia turut merasakan sakit ketika melihat tetesan air mata itu turun.

Ia mengelus pelan rambut perempuan itu dan tersenyum kecut.

"Nata, can I be your healer?"

Let Me Be Your HealerBaca cerita ini secara GRATIS!