Prolog

133K 7.9K 129

Aku rasa aku sedang berlari. Kakiku mati rasa karena bergerak terlalu cepat. Ya. Aku bisa merasakan otot-otot kakiku yang menegang. Namun masih bisa melangkah panjang dengan kekuatan yang kukerahkan

Lalu ini apa?

Tanganku meraba kening yang terasa basah. Ini keringat.Terlalu banyak keringat. Membanjiri tangan saat kakiku masih dengan cepat bergerak menerobos ranting-ranting kering. Tidak peduli pada apapun di sekitarku.

Aku masih terus berlari ketika tanganku yang dibanjiri keringat berubah menjadi merah pekat. Merah dengan bau besi tua yang menyengat.

Apa ini?? Apa ini???

Yang bisa kulakukan adalah terus berlari. Aku bahkan tak tahu apa yang menyebabkan aku berlari. Aku hanya berlari secepat yang kubisa. Menerobos ranting-ranting tajam yang menghalangi. Memberikan goresan panjang dan perih di sekitar tubuhku yang terbuka. Aku tidak melihat apapun di sekelilingku. Seperti jika aku berdiam diri maka sesuatu itu akan menyerapku. Membawaku pergi. Mengambil diriku.

Lalu dimana ini?

Disaat nafasku tersendat dengan kaki yang masih berlari cepat aku menoleh ke belakang. Berusaha menyeimbangkan tubuhku agar tak terjatuh.

Sekelebat bayangan hitam mengejarku!

Bayangan itu mengejarku!

Pergerakannya sangat cepat seperti ia bisa menangkapku dalam tiga langkah yang ia lakukan.

Apa ... apa... jangan!!!

Aku tak tau apa itu atau siapa itu. Naluriku mengatakan aku hanya harus pergi. Menjauh darinya. Menjauh dari tangannya yang terbuka. Berusaha meraihku. Berusaha menggapaiku. Namun kekuatan berlariku seakan terus meninggi. Aku hanya harus terus berlari.

Sesuatu yang basah kembali hadir melalui sela pori di tubuhku namun kali ini lebih banyak. Sangat banyak hingga rasanya seperti disiram. Rasa basah yang pekat dan lengket. Berwarna merah yang membuatku terbelalak ketakutan lebih dari yang aku mampu...

Darah.

seluruh tubuhku berlumuran darah.

Tidak... tidak...

Bayangan hitam di belakangku semakin mendekat dan hampir menggapaiku. Bahkan setelah usaha kerasku berlari ia tetap berada dekat dengan punggungku. Bayangan hitam itu semakin mendekat dan semakin memudar. Kini menampakkan sesosok bentuk menyerupai wajah. Semakin lama aku semakin bisa dengan jelas melihat sepasang mata tajam berwarna biru terang memandangku.

Aku merinding. Aku bergetar ditatap mata sedingin es itu. Aku tak perduli jika nantinya aku akan tersandung lalu terjatuh terjerembab. Hell, Aku benar-benar tak peduli. Aku hanya terus mencoba berlari agar itu tidak terjadi. Aku butuh berlari

Hingga pijakan padat yang kurasakan di bawah kakiku ... menghilang.

Dan grafitasi menarikku masuk kedalam lembah yang sangat hitam dan pekat.

Aku terduduk di tengah selimut. Nafasku tersengal. Keringatku membanjir bahkan membasahi baju kaus dan bantal yang kugunakan. Tanganku bergetar dan kepalaku bergejolak. Detak jantungku sangat cepat hingga perlu kutahan dengan tangan. Seperti jika tidak kulakukan jantungku akan berlari keluar lalu menontonku yang tersengal.

Itu adalah mimpi teraneh sepanjang 18 tahun perjalanan hidupku. Yang sudah menggangguku seminggu penuh. Meski mimpi itu terus berulang, aku masih saja merasakan takut. Kutangkupkan tanganku ke wajah. Membuyarkan kilasan balik tentang mimpi mengerikan tadi.

Memangnya siapa yang senang dikejar oleh sesuatu yang bahkan tak jelas apa itu. Bahkan di dalam mimpi sekalipun.

Aku mengatur tarikan nafas yang perlahan memelan dan teratur. Seharusnya aku memiliki tidur yang nyenyak untuk menghadapi hari baru sebagai mahasiswa yang sering dibully. Berhadapan dengan mereka mengharuskanku memiliki fisik yang cukup kuat. Setidaknya dengan cukup tidur. Dan mimpi buruk tadi bukanlah pilihan yang bagus untukku.

Aku membawa kepalaku ke atas dengan mata tertutup. Menatap langit dan melemaskan leherku yang menegang sampai aku menangkap sebuah bayangan di ujung mataku. Sosoknya membelakangi cahaya jendela. Membuatnya hanya seperti siluit seorang... laki-laki, yang tengah duduk di sudut sofa kamarku.

Mataku membulat. Kemudian aku menjerit...!!!

Mengambil sebanyak mungkin langkah mundur hingga punggungku menghantam keras ujung tempat tidurku. Detak jantungku yang semula beradu kencang kini kembali berdetak cepat seperti ia akan keluar dalam waktu tiga detik.

Siapa dia?

Kenapa dia bisa memasuki kamarku?

Aku tak pernah lupa mengunci pintu saat aku akan tidur. Tidak ada siapapun di rumah ini yang bisa mempersilahkan ia masuk. Saat ini, aku tak bisa membuka mulut karena terlalu sibuk mengatasi gemetar di seluruh tubuh.

Tapi... intinya... siapa laki-laki yang tengah duduk dikamarku ini. Ia tak bicara. Bahkan tidak menjelaskan alasan keberadaannya disini. Ia hanya menyilangkan tangannya di depan dada dan menatapku tajam.

Aku terus mengamatinya sampai pandanganku jatuh pada matanya yang tengah menatapku lekat. Walau wajahnya tertutupi kegelapan, namun warna terang di matanya tertangkap jelas olehku.

Seketika tubuhku membeku. Seluruh darah di tubuhku mengalir ke kepala. Menimbulkan pening yang berdentam kuat. Serta menampilkan kembali kilas balik bayangan dari mimpi burukku...

Aku kembali menatap laki-laki itu. Memastikan sekali lagi kedalaman matanya. Aku yakin... aku yakin sekali...

Ia memiliki mata berwarna biru terang. Terlalu terang bahkan bisa membuatku tak bergerak karena aura dingin yang dikirimkannya. Tajam dan tenang. Seolah kau hanya perlu memandangnya lalu seluruh kehangatan dalam tubuhmu menghilang.

Mata yang sama dengan bayangan yang mengejarku didalam mimpi.

***

TBC

BOOM. Di repost ya. Hehe

Faradita
Penulis Amatir yang masih amatir

Shadow Kiss [Completed]Baca cerita ini secara GRATIS!