"Li- Liza?" tanyaku

Dini mengangguk, "apakah kau mengenalnya Key?"

Aku memang tidak mengenal nama Liza, tapi aku mengenal nama Angga.

"Ti- tidak" ucapku gugup

Dini hanya menatap mataku beberapa detik, lalu ia kembali ke kasir.

Aku pun mulai menghias cupcake tersebut.

Pikiranku memang terkadang jadi kacau jika aku mendengar salah satu nama di antara sahabat sahabatku yang entah dimana itu, terutama nama Angga.

"Keyla!" seseorang menegurku

"Kerja tuh yang bener dong! Masa berantakan gitu!" ucapnya lagi

Ternyata orang itu adalah teman kerjaku yang tentu saja sudah profesional, jadi wajar saja dia menegurku.

"Ah maaf kak, aku- maksudku pikiranku sedang sedikit kacau." jelasku

"Ah baiklah, jaga konsentrasimu, jangan sampai kacau ya!" ucapnya mengingatkanku

Aku hanya mengangguk.

.

Aku ada kelas siang kali ini, tapi aku datang terlalu pagi sepertinya.

Aku memilih untuk pergi ke perpustakaan,

Diperpustakaan aku bukannya memilah milah buku yang akan di baca, aku malah duduk sambil mengotak atik ( baca : stalking) ponsel.

Hingga-

"HEY!" Seseorang menepuk bahuku dengan histeris

Aku melirik ke arah sumber suara, dan aku sangat kaget ternyata orang yang ada di depanku ini adalah Anggi.

"YAAMPUN ANGGI! LO KEMANA AJA?" Ucapku tak kalah histerisnya

"Maaf tidak sempat memberi tahu kalian, aku dan Angga sebelumnya sempat pergi ke Jerman untuk membantu mengurus bisnis papa"

"Oh baiklah, lalu dimana Angga?"

"Ah kamu malah nanyain doi kamu, ga mau nanya 'Anggi, sudah punya pacar?' gitu?"

"HAHAHAHAHA, baiklah Anggi apakah kau sudah melupakan Fikri? Kau sudah memiliki kekasih?"

"Alhamdulillah Key, aku sukses lupain dia. Haha udah dums, namanya Kelvin dia orang Jerman sih, kami bertemu saat di halte." jelasnya

"Waa gaya ae ah. Angga dimana?"

"HAHHAHAA, gausah nanyain Angga dimana. "

"Angga udah punya pacar ya?" tanyaku dengan kecewa

"Angga? Gamungkinlah, dia tuh cinta mati deh kayaknya sama kamu. Buktinya ada banyak perempuan cantik di Jerman yang deketin dia aja dia ga jatuh hati, dia cuma suka kamu."

"Cinta mati tapi kok ga nembak nembak" Batinku

Dan kami berdua sadar bahwa ada seseorang yang memandang kami,

"Sudah selesai histeris, sama ngobrolnya?" Tanyanya dengan melipatkan kedua tangannya

Kami berdua kayak batu, diem, gatau harus ngomong apa, rasanya badan tuh tiba tiba jadi kaku.

Yap, orang yang tadi berbicara tentu saja bukan mahasiswa seperti kami. Dia adalah penjaga perustakaan, yang dikenal jutek dan galak.

"Ma- maaf bu" ucapku, Lalu kami berduapun pergi, lebih tepatnya kabur.

.

"HUFT UNTUNG DEH TADI GA KENA SEMPROT BANYAK BANYAK DARI BU AMEL" ucap Anggi dengan nada yang bisa dibilang cukup keras

Stalker✨Baca cerita ini secara GRATIS!