BARU: Tap - cerita-cerita dari obrolan pesan singkat untuk 📲' Sekarang tersedia dalam Bahasa Indonesia
Download sekarang

SP - Chapter 3

36 4 0

Judul : Soaring Phoenix
Tahun : September 2015
Genre : romance, fantasi, wuxia, san guo/sam kok

----

Kepada adikku, Zhang Fei

Putrimu sudah tiba dengan selamat di Jingzhou, dia sangat sopan dan tidak terlalu banyak bicara. Mungkin karena dia masih belum terbiasa di sini. Kami semua sangat menyukainya, terutama Guan Xing, karena sekarang dia sudah punya teman berlatih.

Seperti dirimu, putrimu tampaknya sangat suka dengan beladiri. Kau harus melihat bagaimana dia menjadi begitu bersemangat saat kuperlihatkan koleksi senjata yang kusimpan di rumahku. Aku melihat Zhang Jingai memiliki banyak bakat, selain pandai beladiri, dia juga sangat pandai melukis dengan tinta. Saat mengetahui aku akan mengirim surat untukmu, dia cepat-cepat melukis pohon bambu di atas kertas. Kuharap engkau menyukai hasil kerja kerasnya.

Aku suka melihatnya tersenyum, dia memiliki matamu yang besar dan garang, namun cantik seperti ibunya. Dia berani dan jujur sepertimu, tapi juga tenang dan anggun seperti ibunya. Aku rasa kelak dia akan dapat menjadi permaisuri yang ideal untuk memimpin Shu mendampingi putra kakak kita, Liu Shan.

(cap stempel nama Guan Yu dalam tinta merah)

Jingzhou, 218 M ...

Kontras dengan gurunya, Guan Ping, Jingai sangat mahir menggunakan tombak maupun pedang. Gadis itu tidak bisa berhenti membuat kagum Guan Ping, bagaimana cepatnya dia menyerap pelajaran yang diberikan. Tidak hanya itu, kemampuan berkelahinya saat menunggang kuda pun tidak bisa dibilang jelek. Dia sanggup menghajar sepuluh boneka jerami yang dipasang sambil menunggang kuda dengan kecepatan tinggi. Dan diakhir putaran, dia menarik kudanya untuk bermanuver kembali ke arah Guan Ping dan Guan Xing yang sedang menonton dengan rasa kagum. Tombak di tangannya dia putar ke udara, lalu menyambar sesuatu di atas tanah. Kopiah yang digantungkan Guan Xing di atas salah satu boneka jerami.

Guan Xing menangkap kopiah itu, "bagus, Jingai!"

"Sepertinya kamu sudah tidak butuh diajariku lagi, mungkin harusnya aku yang minta kau ajari," puji Guan Ping pada gadis itu.

"Kakak Ping sangat berlebihan. Aku hanya sedang berada dalam suasana hati baik saat ini, dan sedang bermain-main saja."

"Bermain-main saja seperti itu, kau sudah siap untuk terjun ke dalam medan perang yang sesungguhnya, Jingai." Sahut Guan Xing.

"Sebentar lagi tahun baru, usiamu akan menjadi 15. Kau harus menentukan senjata apa yang akan kau gunakan seumur hidup," kata Guan Ping.

"Haruskah demikian? Aku suka semua senjata."

"Semakin dekat dengan senjatamu, semakin sakti ilmumu. Itu sudah menjadi kepercayaan di antara kami. Kalau sudah kau tentukan, bilang saja padaku agar ayah bisa memesankan senjata khusus untukmu."

Sesi latihan hari ini sudah berakhir, setelah menanggalkan pakaian pelindung kayunya, dia mengenakan pakaian santai warna merah jambu dengan corak-corak batang bambu pada ujung-ujungnya. Para dayang muda yang periang merapikan rambutnya dan menjepitnya dengan tusuk kayu berwarna hitam.

"Nah, selesai. Anda cantik seperti biasa, Nona Zhang." Puji dayang pertama.

"Aku iri sekali, anda tampak gagah waktu memegang senjata, tapi saat dirias anda tampak seperti putri kaisar yang lemah lembut. Aku jadi penasaran lelaki macam apa yang kelak akan jadi suami anda," dayang itu menutup bibirnya dengan tangan saat dia tertawa.

Pipi Zhang Jingai sedikit bersemu saat dia membayangkan warna merah. Merah menyala dari kain yang menutupi lantai, dinding dan meja makan. Dirinya akan menggunakan tirai wajah warna merah, dan jantungnya bergetar cepat saat dia membayangkan Guan Ping menyingkap tirai merah itu dan wajah gagahnya tersenyum padanya. Memang, Guan Ping sudah berusia tiga puluh tahun lebih, terlalu tua untuknya. Tapi Jingai tidak peduli mau seuzur apapun, ia akan tetap mencintai Guan Ping apa adanya. Cinta itu tidak mengenal batas.

Fragments of The TalesBaca cerita ini secara GRATIS!