Chapter 2 - Moka Stroberi

284 17 2

Seharusnya aku tahu bahwa mengonsumsi rujak sebelum tidur, terutama untuk seseorang dengan pencernaan lemah sepertiku, bukanlah ide yang bagus.

Lambungku mulas sejak subuh. Sudah berkali-kali aku buang air besar, tapi nyerinya masih saja datang dan pergi.

Masalahnya, sakit perutku ini membuatku telat berangkat ke kampus. Jam kuliah Biologi Dasar-ku sudah dimulai tapi aku baru mencapai gerbang universitas. Setelahnya, aku masih harus berlari menuju bangunan perkuliahan umum yang terletak di ujung paling timur UNB. Seakan situasiku belum cukup genting, aku bahkan terpaksa mampir sejenak di toilet terdekat untuk melakukan 'penyelamatan' darurat.

Sebuah pesan masuk ke dalam ponselku saat aku baru saja keluar dari kamar mandi. Dari Heidy.

________________________________________

heidyeita : Haida udah dateng  Kuissss!! Mampuss!!!

________________________________________

Gawat. Ibu Haida adalah dosen yang cukup ditakuti. Dia terkenal galak luar biasa, terutama pada mahasiswanya yang kurang disiplin. Itulah mengapa teman-temanku sangat takut untuk membuat kesalahan di depan Ibu Haida. Jujur, aku baru saja berniat untuk membolos, tapi sekarang diriku dirundung ragu. Rasanya sayang sekali kalau aku tidak memperjuangkan nilai kuis yang bisa membantu hasil akhir semester pertamaku ini.

Tak ada gunanya berpikir lebih lama. Aku bergegas untuk mendaki sisa dua tangga yang akan membawaku menuju lantai empat, tempat ruangan 9741 yang kutuju berada. Kebetulan sakit perutku sedikit mereda dan aku ingin memanfaatkan situasi. Aku baru saja sampai di depan ruang kuliahku saat aku mendengar derapan langkah kaki yang menggema di lorong. Refleks, aku menoleh dan tatapanku bertemu dengan Shinji yang juga terburu-buru.

Cowok itu berhenti di tidak jauh dariku. Napasnya sama sekali tidak terengah meskipun habis berlari, namun beberapa bulir keringat terlihat membasahi dahinya. Pemuda itu menatap pintu ruang 9741 yang tertutup rapat. Kurasa dia juga sedang mempertimbangkan kemungkinan untuk menyerah—mungkin membayangkan duduk-duduk di kantin sambil menunggu kelas berikutnya—tapi aku memutuskan untuk memberitahunya info penting yang barusan kudapatkan dari Heidy.

"Ada kuis mendadak."

Dari ekspresi wajahnya, aku bisa tahu bahwa sebaris kalimat itu juga membuatnya berpikir dua kali.

-----

"Taruh semua alat tulis di meja. Kumpulkan lembar jawaban dari belakang."

Kuletakkan pulpen milikku sesuai perintah Ibu Haida. Tak lama, seseorang menyentuh pundakku, memberikan beberapa helai kertas yang menghadap ke bawah. Tanpa banyak bicara, aku segera menempatkan lembar jawaban milikku di tumpukan paling atas dan mengantarnya ke meja dosen—tempat Ibu Haida sudah menunggu.

"Baris tengah kenapa lama sekali? Apa mau semua lembar jawaban kalian saya diskualifikasi?" ancam Ibu Haida tanpa mengubah intonasi ataupun ekspresi datar miliknya. Suara-suara panik mulai terdengar, menyuruh satu sama lain untuk bergerak lebih cepat. Diam-diam aku bersyukur dalam hati, untunglah tadi Ibu Haida sedang berbaik hati mengizinkanku untuk memasuki kelas dan mengikuti kuis tanpa banyak komentar.

Aku menoleh ke belakang, mencari-cari sosok Alif dan Heidy. Kedua temanku itu duduk di barisan kelima tengah, sementara aku berada di barisan terdepan kanan, dekat pintu. Sebagai mahasiswa telat, aku jelas tak bisa memilih-milih tempat duduk seperti biasanya. Alif tengah sibuk berdiskusi dengan temanku yang lain, tapi Heidy menyambutku dengan gestur yang heboh. Cewek itu menunjuk-nunjuk ke arahku dengan penuh semangat.

Aku berdecak sebal. Temanku itu. Saat seperti ini pun dia masih saja sempat mengekspresikan kekagumannya pada Shinji.

Ya, karena keterlambatannya, Shinji juga terpaksa duduk di area depan—tepat di sebelahku.

Amora Menolak Cinta (COMPLETED)Baca cerita ini secara GRATIS!