Chapter 2 - Moka Stroberi

Mulai dari awal

"Kita lanjutkan pelajaran," perintah Ibu Haida setelah memastikan semua lembar jawaban sudah terkumpul.

Kalimat pendek dari dosen killer tersebut berhasil membuat ruangan kembali sepi. Aku mengambil file organizer dari dalam tas dan menegakkan duduk, siap memperhatikan dan mencatat. Tapi seseorang mengetuk mejaku dengan ujung jarinya.

Shinji.

"Ada pulpen atau pensil lagi gak? Pinjem dong. Punya gue udah sekarat nih." Shinji menunjukkan pulpen bermerek pilot miliknya.

Aku sempat bertanya-tanya dalam hati bagaimana Shinji menuliskan jawaban kuis dengan pulpen yang kehabisan tinta? Tapi aku tak mau banyak bicara. Kuambil tempat pensil milikku dan kukeluarkan sebuah pensil kayu berujung tumpul yang hampir tak pernah kugunakan, kemudian kuberikan pada Shinji.

"Thanks," ucap cowok itu seraya melempar senyum.

Aku kembali mengalihkan fokusku pada Ibu Haida, tapi tak lama kemudian, Shinji kembali mengajakku bicara.

"Ada rautan? Patah nih," Shinji berkata pelan sambil memperlihatkan ujung pensil yang tiba-tiba sudah kehilangan bagian grafit hitamnya.

Aku mengernyitkan dahiku dengan sengaja, kemudian kuberikan dia sebuah rautan kecil berbentuk bulat.

"Hehehe... maaf ya gue ngerepotin. Makasih..." balas Shinji bersopan santun, sadar bahwa tingkahnya membuatku terusik.

Kali ini aku merasa sedikit tidak enak, mengingat aku bahkan menyiram Shinji dengan susu moka kemarin sore dan aku belum sempat meminta maaf.

"Gak apa-apa, kok,"

"Asal abis ini gue jangan disiram susu aja, ya. Ampun, deh."

Sindiran dari Shinji itu sukses membuatku menoleh dan menatap tajam padanya. Shinji terlihat fokus meraut pensil yang kupinjamkan. Tapi salah satu ujung bibir cowok itu tertarik sedikit ke atas—gerak-gerik yang kuanggap sebagai rasa puas karena berhasil membuatku tersulut.

"Yaudah. Maaf ya soal kemarin."

"Gitu, dong. Gak perlu kabur, kan?" Shinji memperlihatkan sedikit barisan gigi-giginya seraya menempatkan rautan yang barusan dipinjamnya di atas mejaku.

"Kalau mau mengobrol jangan di kelas saya, ya."

Aku menoleh ke arah Ibu Haida yang masih menuliskan sesuatu pada whiteboard.

"Tolong jangan pura-pura tidak tahu. Kalian berdua yang barusan terlambat, kalau memang tidak ingin belajar, tak usah repot-repot masuk ke kelas saya."

Kali ini, sekujur tubuhku serasa dialiri listrik, nyeri lambung yang barusan sempat menghilang tiba-tiba kembali menyerangku. Spontan, aku melirik Shinji. Raut wajah cowok itu berubah lebih serius dari biasanya.

Ibu Haida meletakkan spidolnya. Wanita paruh baya itu menatapku dan Shinji, kemudian melanjutkan kata-katanya, "Berapa NIM kalian?"

Kelas yang hening membuat suasana terasa semakin mencekam. Tanpa menengok pun aku tahu bahwa berpasang-pasang mata sedang memperhatikan diriku dan Shinji.

"Kenapa diam saja?" ulang Ibu Haida.

Shinji berdiri dan menyebutkan nomor induk mahasiswanya dengan jelas, "13215081"

Ibu Haida memeriksa daftar absen. "Shinji?" ucapnya untuk memastikan. Mungkin sedikit heran dengan nama asing yang terselip di antara deretan nama-nama lokal.

"Iya, Bu," respons Shinji tenang.

"Yang perempuan?"

"1-3..." Aku membersihkan tenggorokan yang tiba-tiba terasa kering sebelum mengulang kembali kata-kata yang sempat terputus. "13215075"

Amora Menolak Cinta (COMPLETED)Baca cerita ini secara GRATIS!