Chapter 1 - Ilmuwan Cinta

708 17 3

Catatan penulis --> Taksonomi : Penggolongan makhluk hidup. Contohnya : manusia dan makhluk hidup selain manusia (hewan, tumubuhan, fungi atau mikroba).

1

Ilmuwan Cinta

----------------------------------------------------------------------------------------------------

"Cinta itu gak ada," kataku serius.

Kedua alis Erin menyatu seraya menatapku. Sahabatku itu tersedu, air matanya berlinangan membasahi pipi.

"Yang orang bilang 'jatuh cinta' itu cuma reaksi kimia dari otak yang mempengaruhi kerja organ-organ tubuh kita," jelasku lagi.

Erin menyeka mata dan hidungnya dengan tisu. "Ap-apa sih, Ra?" katanya terbata.

"Jantung deg-degan, tangan keringetan, kemampuan logika menurun, itu semua kerja hormon. Gak ada istimewanya, Rin."

Pundak Erin bergerak naik-turun. Beberapa kali dia terlihat menarik dan melepas udara dengan perlahan. Matanya bengkak. Tak heran, Erin tidak berhenti menangis sejak mengetuk pintu kamar kosku sepuluh menit yang lalu. Kekasihnya kedapatan jalan bersama cewek lain untuk kesekian kalinya. Sebagai sahabat, aku pun memaksakan diri untuk mendengar keluhan Erin, tak peduli bahwa waktu tidurku harus terganggu di tengah malam buta.

Tak lama setelah Erin menenangkan diri, aku membuka suara, bertekad untuk membuatnya kembali berpikir jernih.

"Salah satu zat yang terstimulasi saat lo merasa 'jatuh cinta' itu serotonin. Reaksinya bisa membuat lo hanya terfokus pada satu hal. Ada juga dopamin, efeknya sama kayak otak yang sedang dalam pengaruh kokain. Jadi—"

"Mora, gue lagi gak mood untuk belajar, deh..." potong Erin serak.

"Jadi," ulangku dengan penekanan, tak kugubris penolakan Erin. "Gak heran kalau sekarang rasanya berat banget. Itu karena lo lagi dalam kondisi terobsesi kayak stalker dan sakaw kayak pemakai narkoba. Tapi itu kan otak lo—elo yang pegang kendali. Lo gak akan nangis kayak gini kalau tahu cara menyiasatinya."

Erin memutar bola matanya. "Mana bisa ngatur perasaan..." ujarnya dengan nada meremehkan.

"Bisa!" tegasku. Kuraih sebuah buku dari rak pendek di samping tempat tidur, kemudian kusodorkan pada Erin. Air muka sahabatku itu berubah malas saat melihat desain sampul yang sudah sangat dikenalinya. Memang bukan sekali aku merekomendasikan buku tersebut padanya, tak peduli meski dia terus menghindar.

"The Science of Love. Kitab suci lo, ya?"

"Baca deh, Rin. Disini juga dijelasin tentang asupan nutrisi dan gaya hidup yang bisa normalin hormon. Biar move on-nya gampang."

Namun sia-sia, kata-kataku malah membuat raut Erin bertambah kecut, air matanya mengalir lebih deras. Erin menggeser duduknya ke arahku, kemudian sahabatku itu melebarkan kedua tangannya—seperti yang biasa dilakukannya saat membutuhkan dukungan.

Kusambut pelukannya. Kubiarkan Erin menenangkan diri dalam dekapanku selama beberapa saat.

"Meskipun lo kayak gini, gue akan tetep jadi temen lo, Ra."

"Maksudnya apa, tuh?" Kudorong cewek itu menjauh. Tampangku sengaja kubuat curiga, meskipun dalam hati aku tahu bahwa Erin hanya bercanda.

"Lagian, orang patah hati lo hibur pake teori. Pake buku. Gak sensi banget, sih!" omel Erin dengan mata yang masih berkaca-kaca.

"Ini logis, Erin. Logika."

Erin tertawa hambar. Cewek itu mengambil selembar tisu lagi untuk menghapus air mata.

Amora Menolak Cinta (COMPLETED)Baca cerita ini secara GRATIS!