#05 - his number one

Mulai dari awal
                                                  

“Gak,” jawab Regan jutek.

“Dih,” Aurora hanya menggelengkan kepala mendapat jawaban tersebut, kemudian ia bangkit dari duduknya.

"Mau ke mana lo?" tanya Regan yang melihat Aurora hendak pergi.

"Ngambil minum." Jawab Aurora sebelum dirinya melangkah menuju dapur.

Saat Aurora sudah sepenuhnya meninggalkan ruang keluarga, mata Regan menangkap ponsel gadis itu yang tergeletak di atas sofa. Tanpa ragu Regan langsung mengambilnya, mengetikkan passcode yang sudah sangat ia hafal. 2701. Gabungan dari tanggal lahir mereka. Passcode di ponsel Regan juga begitu.

Hal pertama yang dilihat Regan, tentu saja notifikasi. Ada banyak notifikasi dari beberapa sosial media yang dimiliki Aurora, namun, Regan memilih untuk membuka aplikasi Kik yang mempunyai satu pesan masuk.

Cute Boy : hey chairmate😜

"Siapa nih Cute Boy? Saif? Anjir alay amat." Regan tertawa saat menyadari bahwa Cute Boy merupakan Saif si anak baru, terlihat dari foto profilnya. "Read aja ini mah."

Tanpa merasa berdosa, Regan membuka pesan dari Cute Boy, kemudian mengeluarkannya lagi tanpa memberikan balasan.

Lalu, matanya menangkap tulisan Ar yang ada di daftar nomor dua dalam conversation list di sana.

"Ar ini siapa sih?" Tanya Regan langsung saat Aurora sudah kembali ke ruang keluarga dengan dua botol air minuman rasa buah.

"Oh itu temen Omegle, lupa cerita gue," Aurora mendudukkan dirinya kembali. "Ar itu dari Indonesia, sekitar seminggu yang lalu lah gue nemu dia," jelas Aurora.

"Gue kira Arkan," komentar Regan.

"Gue juga awalnya mikir gitu, tapi untungnya bukan," Aurora mengambil botol air minumnya dan langsung menandaskan setengah dari isi botol itu.

Tiba-tiba ia jadi teringat percakapannya dengan Arkan beberapa waktu lalu yang menyangkut-pautkan Regan dalam masalah mereka. Aurora memang tidak menceritakan itu pada Regan, takut kalau laki-laki itu akan mengamuk pada Arkan jika tahu.

“Nama aslinya siapa?”.

“Entah.” Aurora menggelengkan kepala. “Dia nggak mau kasih tau, maunya dipanggil Ar aja kan sok misterius banget.”

"Misterius gitu tapi masih aja lo ladenin."

"Abis anaknya asik sih, nyambung aja ngobrol sama dia, setiap hari nggak kehabisan bahan obrolan," Aurora meletakkan botol minumannya ke atas meja. "Asal Kalimantan juga dia nya, kan keren jauh banget."

Regan hanya manggut-manggut saja mendengarnya, kemudian mereka membahas tentang beberapa hal sebelum pada akhirnya memutuskan untuk menonton film sambil makan camilan. Namun, saat di tengah-tengah film yang sedang mereka tonton, Aurora teringat sesuatu.

"Ah males banget besok tes OSIS, entar banyak alumni dateng," ujar Aurora sambil berdecak.

"Emangnya kenapa?"

"Entar ada pacarnya Arkan gimana? Terus entar mereka pacaran di depan gue gimana?"

"Gue temenin besok," jawab Regan santai.

"Beneran? Tapi kan lo mengharamkan bangun pagi di hari Minggu."

"Demi lo besok gue rela bangun pagi."

Aurora menyunggingkan senyum. Regan memang paling pengertian. Rasanya benar-benar beruntung ada seorang Regan di dalam hidupnya. Kalau besok ia datang sendirian ke acara perekrutan pengurus OSIS yang baru itu, Aurora yakin kalau dirinya tidak akan merasa baik-baik saja. Terlebih jika melihat Arkan dan kekasihnya.

Walau sudah mendeklarasikan diri membenci Arkan, tetap saja luka yang ditorehkan laki-laki itu belum sepenuhnya sembuh.

"Makasih ya, Re. Lo emang terbaik!"

Regan hanya menjawabnya dengan sebuah gumaman. Dan setelahnya, laki-laki itu kembali memfokuskan pandangan ke layar telivisi. Mereka berdua menonton dalam diam.

Hingga tidak lama kemudian, mata Aurora mulai sayu karena rasa kantuk yang menyerang. Beberapa kali gadis itu hampir tertidur dan Regan menyadarinya.

"Tidur aja gih kalo ngantuk," ujar Regan seraya mengusap kepala Aurora. "Entar kalo tante Mira sama bang Leo udah pulang, gue bangunin."

Aurora menggeleng. "Nggak mau tidur," balas sambil menahan mata untuk tetap terbuka dengan menggunakan dua jari tangannya.

Namun, usaha itu tidak membuahkan hasil. Tidak lama kemudian, Aurora sudahh menyenderkan kepalanya di bahu Regan karena daya jaganya tinggal sedikit.

"Tadi bilangnya nggak mau tidur." Regan tertawa kecil melihat wajah mengantuk Aurora. "Ujungnya nyerah juga."

"Mata tinggal lima watt kayaknya," gumam Aurora dengan mata yang sudah mulai terpejam.

"Yaudah tidur sana."

Suasana langsung hening setelahnya, hingga Regan merasa bahwa Aurora sudah tertidur. Begitu Regan meliriknya, ternyata Aurora masih membuka mata lebar dan sedang menatap kosong ke satu titik di depannya, memikirkan sesuatu.

“Re,” panggil Aurora kemudian. “Gue mau nanya deh sebelum tidur.”

“Nanya apa?”

Aurora menggaruk hidung, sedikit ragu dengan pertanyaan yang akan diajukannya. "Eum, kalau misalnya nanti lo punya pacar terus pacar lo itu minta putus karena nganggep lo ada rasa sama gue gimana?”

“Lo mau jawaban serius atau jawaban asal?” Jawab Regan dengan pertanyaan juga.

“Jawaban serius.”

Regan nampak berpikir sebentar sebelum menjawab dengan santai, “Gue biarin aja dia mutusin gue.”

“Lo nggak akan nyalahin gue?”
Kali ini Regan tertawa, menganggap lucu pertanyaan Aurora tersebut. Jawabannya sudah jelas sekali, bahkan tanpa perlu ditanyakan pun Aurora seharusnya sudah tahu.

Regan menepuk pelan kepala Aurora yang bersandar di bahunya. “Buat apa gue nyalahin lo? Pacar bisa dicari lagi. But a lifetime bestfriend mau nyari di mana? Walau nanti gue punya pacar, you’re still going to be my number one, Ra.”

Aurora tersenyum mendengar jawaban itu. “Sama, bagi gue juga lo begitu. Gimana pun caranya, lo tetap nomor satu, Re,” ujarnya, sebelum memutuskan untuk benar-benar memejamkan mata dan tertidur dengan kepada tersandar di bahu Regan.

-----

Omegle.comTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang