#05 - his number one

25.1K 2.3K 107
                                                  

Ar : oh jadi anak baru itu temen omegle lo ya?

Senyum Aurora mengembang saat membaca balasan pesan Kik yang didapatnya. Dengan semangat, ia langsung mengetikkan balasan.

Princess A : iya, ga nyangka bisa sebangku sama dia sekarang, seneng banget gueeee

Ar : semakin kesini gue semakin yakin kalo lo itu PrincessAlay haha

Princess A : belum seminggu kenal tapi udah ga kehitung lagi berapa kali lo manggil gue gitu. Sialan banget sih-_-

Aurora menggelengkan kepala sambil mengulum senyum. Akhir-akhir ini dia selalu seperti itu setelah melihat pesan balasan Kik dari teman barunya, Ar. Iya, namanya Ar. Hanya Ar, begitulah laki-laki yang seusia dengan Aurora itu ingin dipanggil. Ar merupakan 17 m indonesia yang ditemui Aurora di Omegle beberapa hari yang lalu. Tanpa disangka ternyata Ar menyimpan username Kik milik Aurora meskipun Ar lah yang pertama kali memutuskan sambungan obrolan mereka di Omegle.

Ar : panggil sayang aja ya?  Ar : sayang 

Princess A : ye modus amat mas

"CILUKK BAA!"

Mendengar teriakan yang berasal dari arah belakang, Aurora refleks langsung berdiri dan dengan tatapan horror ia membalikkan badan, melihat orang yang sejak tadi ditunggunya sedang tertawa terpingkal-pingkal di ambang pintu ruang keluarga.

"Kampret," Aurora melempar sebuah bantal sofa kepada leaki-laki itu, tetapi sayangnya meleset.

"Ngelempar itu aja nggak bisa," Regan yang baru datang menjulurkan lidahnya kepada Aurora lalu memungut bantal sofa yang tergeletak di dekat kakinya. "Payah."

"Lo tuh ya kebiasaan banget muncul tiba-tiba kayak hantu,” gerutu Aurora sebal.

Regan berjalan mendekati Aurora dengan ekspresi geli yang terlihat jelas di wajahnya. "Gitu aja ngambek, siapa coba yang nyuruh gue ke sini minta ditemenin?"

Aurora hanya mencibir dan membiarkan Regan duduk di sebelahnya di atas sofa.

"Tante Mira sama Bang Leo kemana sih emangnya?" Tanya Regan yang memang diminta Aurora datang karena sedang ditinggal oleh mama dan abangnya.

"Kondangan," jawab Aurora singkat.

"Kenapa lo nggak ikut?"

"Like really, seorang Aurora mau ikut ke kondangan? Duh anti banget gue," kata Aurora yang memang tidak suka pergi ke pesta-pesta semacam itu.

Regan hanya menganggukkan kepala dan melirik Aurora yang kini sedang sibuk mengganti siaran televisi.

"Tumben lo nggak main Omegle," kata Regan, untuk sekadar basa-basi.

"Males ah. Ngapain main Omegle lagi kalo bule nya udah ada yang jadi temen sebangku gue?" Canda Aurora yang sukses membuat Regan memutar bola matanya malas.

Saif. Sudah hampir seminggu laki-laki itu bersekolah di tempat mereka. Sebagai penerjemah Saif, Aurora pun lebih sering menghabiskan waktunya bersama laki-laki itu saat di sekolah. Membuat Regan merasa sebal karena harus berbagi Aurora dengan orang lain.

"Lagian ngapain sih dia pindah ke sekolah kita? Harusnya kan dia masuk sekolah Internasional, bukannya sekolah negeri biasa."

"Dia bilang sih sama aja bohong kalo dia masuk sekolah Internasional, sensasi nya nggak ada," jawab Aurora. "Saif tuh pengen mempelajari tentang Indonesia secara langsung dan kerjaan orangtuanya disini juga cuma setahun, jadinya dia nekat deh masuk sekolah biasa, buat cari pengalaman gitu."

"Nekat tapi ujungnya nyusahin," gumam Regan yang masih didengar oleh Aurora.

"Lah kenapa lo yang sewot?" Aurora berbalik untuk menatap Regan.

Omegle.comTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang