#02 - ignore or chat

32.6K 2.4K 28
                                                  

Pukul 08.00 malam dan Aurora baru saja tiba di rumahnya. Dengan seragam sekolah yang masih dipakainya, tubuh terasa lengket karena belum mandi, Aurora benar-benar merasa kelelahan.

Hari ini benar-benar hari yang panjang untuknya. Menghabiskan waktu setengah hari di sekolah dengan pelajaran-pelajaran yang membuatnya muak, belum lagi kegiatan OSIS yang sedang sibuk-sibuknya mempersiapkan kepengurusan yang baru, kemudian dilanjutkan berbagai macam kursus yang harus Aurora hadapi demi persiapan kelulusannya nanti.

Tahun terakhirnya di SMA benar-benar melelahkan. And also, full of shitty drama.

Aurora meregangkan tubuh sesaat setelah tubuhnya mendarat di atas sofa di ruang keluarga. Akhirnya dia bisa berbaring, dan rasanya sangatlah nyaman. Gadis itu pun tidak dapat menahan matanya untuk tidak terpejam, terlalu lelah dan mengantuk.

Namun saat Aurora hampir saja tertidur, seseorang mendarat di sofa dan bagian tubuh orang itu menindih kaki Aurora.

"Aduh!" Aurora langsung terlonjak dan bangun dari posisi tidurnya. "Kaki gue asal ditindih," omelnya sambil menarik bebas kakinya dari tindihan seseorang yang kini sedang tertawa terpingkal-pingkal.

"Ya abisnya lo sih, masih pakai seragam gitu udah mau tidur aja."

"Tapi kaki gue jangan didudukin juga kali, Bang," dengus Aurora kesal.

Leo, satu-satunya kakak lelaki dan saudara kandung yang Aurora miliki pun hanya terkekeh pelan melihat ekspresi adik kesayangannya itu. Sang kakak menggeser posisi duduknya lebih merapat dengan sang adik. Sesi wawancara pun dimulai.

"Dari mana aja baru pulang jam segini?" Leo memulai wawancara rutinnya.

"Sekolah, kumpul OSIS, les MIPA, les bahasa Inggris," jawab Aurora seadanya.

"Pulang sama siapa?"

"Regan."

"Terus Regannya mana?"

"Udah pulang."

"Kenapa nggak disuruh mampir dulu?"

Aurora menatap Leo dengan datar. "Bang, rumahnya Regan itu cuma beberapa langkah dari rumah kita. Ngapain dia mau mampir?"

Leo kembali terkekeh geli lalu mengacak rambut Aurora yang sudah terlebih dahulu digeraikan oleh sang pemiliknya. "Kan sebagai formalitas gitu."

"Idih sok formalitas banget. Kalo Regan mau kesini juga biasanya dia tinggal masuk aja."

Tentu saja Leo sudah tahu itu, sudah sejak kecil mereka bertetangga dan berteman baik. Leo sudah mengenal Regan luar dan dalam, bahkan dia sudah menganggap Regan sebagai adik laki-laki yang tidak pernah dimilikinya. Dan Regan juga merupakan satu-satunya yang dipercaya Leo untuk menjaga Aurora.

Tidak ada lelaki lain yang Leo percaya untuk menggantikan posisi itu, bahkan kekasih Aurora sekali pun. Contohnya si Arkan, lelaki itu itu tidak bisa menjaga Aurora dengan baik. Yang ada, dia menyakiti hati Aurora dan itu pula lah yang membuat Leo semakin tidak memercayakan Aurora kepada lelaki manapun, kecuali Regan.

"Tadi Papa telepon ke nomor gue, nyariin lo," ujar Leo kemudian, "katanya udah berapa kali dia telepon ke nomor lo tapi nggak diangkat."

Aurora hanya diam dan tidak menanggapi apa yang baru saja Leo sampaikan, berlagak tidak peduli. Melihat reaksi adiknya itu, Leo menghela nafas. "Mau sampai kapan sih Dek gini terus?" Tanya Leo lembut. "Papa tuh kangen sama lo, udah tiga bulan lo nggak mau ngomong sama dia."

"Terus, harus gue peduli?" Balas Aurora dingin. "Udah lah Bang, Papa tuh udah bahagia di sana. Tanpa adanya dia, gue juga bahagia di sini."

"Jangan ngomong gitu. Mau gimana pun keadaannya, itu tetap Papa kita."

Omegle.comTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang