#01 - stranger has disconnected

42.4K 2.9K 242
                                                  

Regan mengacak rambutnya sebal, raut wajahnya kusut dan dia berjalan dengan langkah lambat di sepanjang koridor sekolah yang masih sepi. Di sampingnya, Aurora berjalan dengan ekspresi yang sangat kontras dengan Regan. Senyum Aurora mengembang dan gadis itu melangkah dengan semangat.

"Capek tau setiap hari Senin dateng kepagian mulu kayak gini," gerutu Regan pelan, namun masih terdengar jelas oleh kedua telinga Aurora.

"Bagus dong hari Senin dateng pagi gini, kan biar nggak telat upacara," jawab Aurora, dijawilnya pipi Regan sambil tertawa.

Yang menjadi korban pun hanya bisa menatap sang tersangka dengan tatapan datar. Jika orang lain melihatnya, mereka pasti akan pergi menjauh dari Regan karena terlalu menakutkan melihatnya. Namun, tatapan Regan itu tidak memberikan pengaruh apapun bagi Aurora. Malahan, Aurora merasa gemas melihatnya.

"Apa senyum-senyum?" Tanya Regan galak. Aurora tertawa lagi melihat ekspresi sok galaknya Regan, lalu tanpa menjawab pertanyaan itu, ia menarik Regan untuk berjalan lebih cepat.

Walaupun sedikit jengkel dengan kelakuan sahabatnya yang sudah dengan kejam membangunkannya pagi-pagi buta dengan alasan tidak ingin terlambat upacara hari Senin, Regan tetap tidaklah keberatan, karena Aurora tersenyum dan terlihat bahagia hari ini setelah dua hari belakangan bersedih setelah putus karena telah diselingkuhi mantan pacarnya.

Namun sayang, kelegaan Regan itu tidak berlangsung lama, sebab senyuman Aurora perlahan memudar saat keduanya melintasi lapangan sekolah yang sudah berisi petugas upacara serta anggota Paskibra sekolah. Dari beberapa orang yang ada di lapangan itu, terdapat Arkan yang merupakan penyebab dari kesedihan Aurora selama beberapa hari ini.

Regan mendengus mendapati Aurora yang memelankan langkah karena melihat Arkan. Kali ini, lengannya yang diamit oleh Aurora ia tarik hingga terlepas. Sebagai gantinya, Regan memilih untuk mengaitkan kedua tangan mereka hingga keduanya kini bergandengan.

"Udah, nggak usah diliat,” kata Regan pada Aurora. Ia terus berjalan, menarik Aurora perlahan agar terus mengikuti langkahnya tanpa berhenti sekalipun.

Aurora pun hanya menuruti Regan, meski diam-diam ia melirik Arkan yang berada di tengah lapangan dan ternyata, laki-laki itu tidak meliriknya sama sekali.

“Dia beneran nggak peduli lagi ya sama gue?” Gumam Aurora tanpa sadar. Ada sedikit rasa menyengat dalam dada yang dirasakannya saat mengatakan itu.

“Udah jelas kan faktanya gimana.” Regan menggertakkan gigi, kesal. “Lagian, ngapain lo masih ngarepin dia?”

“Bukannya masih ngarepin,” Aurora menyangkal. “Tapi kan, setidaknya dia minta penjelasan sama gue atau ngejelasin sesuatu atau apa kek setelah diputusin sepihak, ini enggak sama sekali.”

“Dia emang sebrengsek itu, Ra.”

And I trusted him so much. How stupid.

Nope, you’re not stupid. He is.

Sayangnya, apa yang dikatakan Regan itu tidak mampu untuk mengembalikan senyuman Aurora yang tadinya merekah indah. Aurora yang tadinya terlihat ceria, kini membisu selama perjalanan menuju kelasnya. Membuat Regan kembali merasa marah dengan laki-laki yang baru saja mereka lihat.

Arkan sialan.

"Gue ke kelas duluan ya, PR kimia belum selesai nih," ucap Aurora saat mereka tiba di persimpangan antara koridor kelas IPA dan IPS.

"Oke,” angguk Regan.

Saat Aurora berjalan menjauh darinya, Regan terus memerhatikan gadis itu, menyadari bahwa semangat yang tadinya ada, kini sudah kembali hilang.

Omegle.comTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang