29. ࿔prince xiel࿔

4K 282 31
                                        

Haiiiiiiiiiii🙌🏻
setelah sekian lama akhirnya aku balik lagi.
sesuai sama yang aku janjiin tanggal 10.

aku rasanya makin berat buat lanjutin book ini
terlalu rumit sampe bikin aku pusing sendiri
harusnya book ini buat senang-senang aja
tapi kok.... malah kaya giniiiiiiii
ga sesuai sama ekspektasi aku huhuhuuu(⁠╥⁠﹏⁠╥⁠)
udah dehh lupain aja, malesssssss
[sa malas sekali tolongggg]

Part kali ini tentang Xanara🧏🏻‍♀️

𖥔 SELAMAT MEMBACA 𖥔

⋆⋆⋆

[Flashback]

Kamar itu terlihat begitu megah, amat sangat megah dan indah. Namun, seseorang yang berada di dalamnya merasa tercekik, tidak bukan hanya tercekik tapi ia memperbudak siapa pun yang harus tumbuh di dalamnya.

Bahkan jika biasanya di sebuah ruangan hanya terdapat satu lampu gantung kristal yang berkilau, maka berbeda dengan kamar ini tak tanggung-tanggung terdapat tiga lampu gantung kristal dengan cahaya yang terlalu terang. Seolah sengaja dibuat agar tidak ada sudut ruangan yang bisa menjadi tempat sembunyi dari penghakiman. Cermin raksasa menghiasi dinding tapi bukan untuk kecantikan, melainkan untuk memastikan setiap sudut diri Xanara terlihat, dinilai, dikoreksi.

Tidak ada yang luput dari perhatian. Mulai dari cara ia duduk, cara ia tersenyum, arah pandang matanya, sampai ritme napasnya tidak luput. Segalanya harus terukur, seimbang, sempurna.

Xanara dipaksa untuk patuh, untuk tunduk pada garis lurus kesempurnaan yang  telah di bentuk sedemikian rupa oleh keluarga-nya.

Daddy Xavier berdiri tegak, tubuh tinggi dengan jas hitam membalut tubuhnya dengan sempurna. Tatapannya tidak marah, tidak lembut, tapi lebih buruk dari keduanya: dingin tanpa pilihan.

"Ulangi," suara baritonnya bergema di ruangan besar itu.

Xanara mengangkat dagu lebih tinggi, suaranya keras. "Perempuan D'Lucifer tidak menyimpang dari garis kesempurnaan. Tidak lemah dalam tekanan. Tidak menunjukkan luka."

Baru setelah ia selesai, Xavier kembali bicara. Tidak untuk memuji. Tidak untuk mengoreksi. Hanya untuk memaku kesempurnaan yang ia inginkan. "Kau dilahirkan bukan untuk seni, bukan untuk mimpi sepele, bukan untuk menjadi manusia rendahan. Kau dilahirkan untuk sempurna karena kau memiliki nama keluarga ini."

Kata memiliki menggema jauh lebih menakutkan dari ancaman apa pun. Karena di rumah ini, kepemilikan bukan metafora — ini literal.

Jika Xanara patah, keluarga akan memperbaiki tapi bukan dengan pertolongan, melainkan dengan paksaan. Jika Xanara lelah, mereka tidak akan berhenti, karena D'Lucifer tidak mengenal kata cukup.

Keluarga ini tidak pernah mengucapkan, “Apa tugasmu berat? Jika ya, kau boleh istirahat.” Tidak pernah, “Jika kau lelah, katakan.”

Yang ada hanya, “Luruskan bahumu.” “Ulangi langkahmu.” Senyummu terlalu lembut, perbaiki.” “Tatapanmu terlalu teduh untuk nama ini.”

Bahkan setiap paginya tidak lebih dari rangkaian instruksi. Punggung tegak, langkah tegas, dan pandangan tidak boleh jatuh ke lantai karena itu simbol ketundukan, kelemahan, dan ketakutan.

Dan ketika malam tiba, bukannya tidur, ia kembali di temani buku tebal tentang dunia fashion, tata panggung bisnis, hingga cara tersenyum yang dianggap tidak berlebihan tetapi memikat.

Ia baru boleh memejamkan mata setelah catatan memenuhi tiga halaman buku latihan. Jika kurang, ia harus mengulang.

Yang membuatnya tercekik bukan kerasnya latihan, bukan kata tajam Daddy-nya. Melainkan tidak adanya ruang kosong di antara semuanya, ketika ia menyadari bahwa dirinya tidak pernah didenger, tidak pernah ditanya, tidak pernah dipandang sebagai anak.

Prince xiel' Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang