“komennya ga rame, up bulan depan di tanggal 10. minimal 100 komen aku balik lusa.”
𖥔 SELAMAT MEMBACA 𖥔
⋆⋆⋆
Ruang tengah yang riuh oleh suara teriakan meledak, umpatan kecil, dan tangis kecil Anne.
Seketika hening, hening yang terasa begitu berat.
Karena di tengah mereka yang meledak-ledak, Xiel masih berlutut. Tidak bergerak. Tidak mengelap air matanya. Tidak bersuara. Ia hanya menatap telapak tangannya yang tadi di tepis.
Sesaat, senyap benar-benar menelan ruang tengah D'Lucifer. Bahkan denting jam antik pun seperti menahan detaknya. Para anggota keluarga berdiri membatu, Amora dengan napas beratnya, Luciano dengan rahang mengeras, Anne dengan kedua tangan menutupi mulutnya.
Lalu, isak kecil itu terdengar.
Hanya satu tarikan napas patah, lirih, hampir tenggelam oleh luasnya ruangan.
Xiel menunduk lebih rendah. Bahunya yang mungil mulai bergetar tidak teratur. Goresan rasa bersalah yang belum sempat terbentuk kini merambat cepat, mencengkram tubuh kecil itu seperti bayangan.
Ia memeluk dirinya sendiri. "...X-xiel, ini semua salah Xiel..." gumamnya, nyaris tidak terdengar. "Princess... berubah karena Xiel, karena Xiel nggak ada. Princess sendirian..."
Isakan pecah dalam bentuk paling lembut, bukan jeritan, bukan tangis keras. Tapi justru suara sepi yang paling menyakitkan.
Rasa bersalah itu tumbuh dalam hitungan detik, liar, gelap, dan menyesakkan. Karena dalam benak polos Xiel hanya satu kesimpulan. “Princess berubah karena Xiel gagal jadi saudara kembarnya. Princess-nya berubah karena ia lemah. Princess-nya kesakitan sendirian karena ia yang pergi.”
Ia mengigit bibirnya sampai memerah, mencoba menahan suara patah itu, tapi justru tangis lembutnya makin dalam, bergetar seperti kaca yang perlahan mulai retak.
"Princess marah karena Xiel nggak ada, Xiel nggak bantu, Xiel nggak kuat, Xiel... Xiel salah... semua salah Xiel..." suaranya pecah, gemetar.
"P-princess berubah karena Xiel lemah... Xiel bodoh... Xiel nggak bisa jaga..." pundaknya bergetar. Tangannya menekan dadanya sendiri, seolah mencoba menahan rasa sakit yang tidak ia mengerti. "Xiel harusnya kuat... ha-harusnya jagain Princess..."
Sebelum siapapun sempat mendekat, Xavier bergerak.
Langkahnya pelan, hampir tidak menimbulkan suara. Namun aura gelap di belakang punggungnya menyebar kabut hitam, tanda bahwa ia sedang berperang dengan amarahnya sendiri.
Ketika ia sampai di depan Xiel, ia tidak langsung menyentuh tubuh kecil itu. Ia berlutut dulu. Sejajar. Lalu, dengan hati-hati, ia menarik tubuh kecil itu ke dalam dekapannya.
Dan saat tubuh Xiel bersandar di dada Xavier, tangisan itu pecah. Nyaring. Dan menyakitkan.
Tangis yang selama ini di tahan, yang selalu ia sembunyikan karena takut merepotkan siapa pun, pecah. Tubuhnya membungkuk ke depan, jatuh sepenuhnya dalam pelukan Xavier dengan suara putus asa yang baru pertama selama hidupnya terdengar.
Tangisan yang meledak. Tangisan yang seperti suara kaca yang retak lalu perlahan pecah berkeping-keping. "D-Daddy... Princess... Princess-nya Xiel Daddy. Xiel jahat, bikin Princess sedih. Xiel salah Daddy, Xiel pikir Princess baik-baik aja, Xiel pikir Princess kuat, ternyata... ternyata nggak Daddy. Xiel harusnya jagain Princess, Xiel harusnya pulang..."
Xavier memejamkan mata. Ia mengusap punggung si kecil dengan gerakan lembut, selembut yang ia bisa.
"Shhhh... breathe, baby... Daddy's here..." suara Xavier lembut, tapi terdapat luka yang menganga dibaliknya.
Xavier memeluk tubuh itu semakin erat, di lengan yang biasanya menyakiti orang lain kini menahan tubuh bayinya agar tidak runtuh, agar bayi-nya tetap baik-baik saja. Untuk pertama kalinya Xavier merasa patah. Patah melihat bagaimana bayi singa-nya mengutuk dirinya sendiri, patah melihat bayi kecil-nya terluka atas sesuatu yang bukan salahnya, dan patah melihat putri-nya yang ia pantau tumbuh kembangnya berbalik ingin menghancurkannya.
"Tidak, baby." bisiknya, "Tidak ada satu pun dari apa yang terjadi adalah salahmu. Tidak satu pun. Jika ada yang harus di salahkan maka itu adalah Daddy. Daddy yang gagal menjaga Bayi ini dan Na, Maaf Daddy."
Xiel menggeleng, masih terisak. "No! Ini semua salah Xi-"
"Tidak." nada Xavier memotong lembut, namun tegas. "Dengar Daddy baik-baik. Bayi, kamu bukan penyebab Xanara berubah. Kamu bukan sumber masalahnya. Dan kamu tidak melakukan kesalahan apapun."
Namun Xiel tidak mendengar apa pun selain suaranya sendiri yang terus mengutuk. "Daddy, lagi-lagi Xiel gagal. Gagal jadi anak, gagal jadi saudara. Kalau aja Xiel Kuat, kalau aja Xiel nggak bodoh, kalau aja Xiel nggak pergi, Princess nggak ada berubah..."
Jari-jari kecilnya mencengkram baju Xavier, seperti mencari sesuatu untuk di genggam agar tidak tenggelam.
Semua pemuda keluarga D'lucifer, serempak membuang pandangan, ikut merasakan sakit yang si kecil rasakan.
Sedangkan para tetua yang mengetahui kebenaran, menyimpan kemarahan yang besar di diri mereka. Namun terpaksa diam, untuk saat ini.
Karena kebenaran itu terlalu gelap untuk mereka katakan.
Kebenaran yang tidak boleh di ketahui oleh Xiel.
Perubahan Xanara adalah bentuk pemberontakan dan perlawanan halus terhadap keluarganya. Perlawanan atas sesuatu yang jauh lebih gelap, obsesi berbahaya yang sudah mengakar bertahun-tahun.
Obsesi terhadap Xiel, kembarannya sendiri.
Cara ia menatap Xiel. Cara ia mengikuti setiap gerak si kecil. Cara ia melukai dirinya sendiri untuk menarik perhatian Xiel tanpa membuat keluarga curiga.
Dan pemotongan rambutnya hari ini, bukan hanya pembangkangan. Melainkan pesan. Tanda bergeseran emosi yang sudah lama dia pendam.
Tapi Xiel tidak tau. Dan tetua keluarga D'Lucifer sepakat bahwa Xiel tidak perlu tahu.
Karena jika ia tahun... rasa bersalahnya yang sekarang sana sudah mematahkan dirinya. Apalagi jika ia tahu yang sesungguhnya.
Mereka lebih rela Xiel terlihat seperti idiot, yang tidak mengetahui apapun. Daripada hancur mengetahui kenyataan bahwa Princess yang ia sayangi perlahan tenggelam dalam bayang gelap yang justru di arahkan padanya.
Xavier mengusap punggung Xiel perlahan, ritmenya lembut, menahan agar Bayi-nya tidak tenggelam lebih jauh ke dalam rasa bersalahnya sendiri.
"Dia tidak membencimu," bisik Xavier. "Anak Daddy tidak akan pernah dibenci siapa pun di rumah ini. Apa yang terjadi, bukan tentang Bayi Daddy."
Xiel menggeleng keras, menolak kenyataan. "Tapi... kalau Xiel ad-"
"Cukup." kali ini Xavier memotong dengan keras. "Daddy tidak akan pernah membiarkan Prince kecil menyalahkan diri sendiri. Tidak sekarang. Tidak pernah."
"T-tapi Princess, pergi..."
"Dia tidak pergi karena kamu, bayi." Xavier memejamkan matanya kuat-kuat. "Princess... terluka karena dirinya sendiri. Dia terluka karena caranya sendiri, bayi."
☘︎☘︎☘︎
TBC..
haiiiiii...
aku balik lagi setelah sekian lama.
aku ngerasa konflik yang aku buat tuhh berat banget buat Xiel, kalau aku lanjutin terus Xiel mungkin bakal lebih tenggelam.
aku juga ga tau kenapa otak aku mikir hal-hal yang terlalu berat di bagian ini.
kaya aku ngikutin kata otak aja gitu lohh, dan berakhir kesusahan sendiri.
menurut kalian aku harus gimana?
padahal target aku book ini end di chap 30, tapi kok kayanya bakal lebih dari itu, jadi pusing sendiri💆🏻♀️
jadi aku harap kalian bisa bantu dan temenin aku buat book ini sampai selesai.
byeeeeee👋🏻
see u kapan-kapan 💐💐
KAMU SEDANG MEMBACA
Prince xiel'
Short Story[ Bromance ] *** Prince Xiel Seraphine D'Lucifer, pemuda mungil berusia 22 tahun, tumbuh di tengah keluarga yang obsesif, penuh aturan, namun membungkus segalanya dengan dalih cinta dan perlindungan. Dengan tubuh rapuh, asma dan maag yang melekat, s...
