Hati-hati typo⚠️
*
*
*
Happy reading😇
*****
Udara malam semakin menusuk kulit,suara burung hantu kian terdengar di telinga keenam manusia yang masih setia menyusuri gelapnya hutan.
Ya,Leya dan tim nya masih belum menemukan jalan kembali ke kamp. Entah perasaan mereka saja atau memang kenyataan,mereka merasa semakin jauh dari tempat mereka berkemah.
“Ini dimana sih sebenernya kita?!” Leya berucap kesal karena daritadi mereka seperti berputar-putar saja.
“Di hutan.”
Jawaban yang terlampau pintar itu keluar dari mulut Gavan. Leya mendengus tak suka mendengar sahutan kakak kelasnya itu.
“Apasih!gue gak nanya lo.”
“Diem aja napa sih..gue udah kena sial disuruh gendong lo,mana congor lo gak berenti ngoceh daritadi ngedumel mulu sakit kuping gue.” ketus Gavan.
Jangan lupakan Leya masih digendongan Gavan karena insiden terkilirnya kaki Leya.
“Berantem mulu deh kalian,gak capek apa debat terus,gue yang dengerin aja sampe muak.” ucap Dhika yang diam-diam disetujui ketiga orang lainnya.
“Yaudah copot aja kuping lo.” sewot Gavan.
Dhika diam tidak membalas daripada kena omel Gavan jadi panjang ceritanya.Lebih baik diam.
DORR!
“Aakkh”
Teriakan dan bunyi tembakan itu membuat mereka menoleh ke asal suara.Leya tampak merintih kesakitan dibalik punggung Gavan sambil memegang lengannya.
Chaewon dan Minju langsung mendekat ke arah Leya memeriksa keadaannya. Dhika,Theo,juga Gavan langsung memasang sikap waspada sambil melihat sekeliling.
“Ale gapapa?” tanya Minju khawatir.
“Gapapa,berdarah dikit doang..pelurunya nyerempet lengan gue.”
sahut Leya sambil menahan telapak tangan di lengannya yang tertembak supaya darahnya tidak merembes walaupun itu tidak membantu banyak.
Chaewon yang melihat itu tanpa basa basi langsung merobek pita panjang yang menempel dibajunya.Setidaknya itu lebih baik daripada ditahan dengan tangan saja.
Terdengar langkah kaki mendekat ke arah mereka. Mereka langsung memasang wajah serius penuh kewaspadaan,kecuali Minju yang nampak ketakutan dan bergetar.
Lalu muncul 4 orang laki-laki berbadan besar seperti preman dengan salah satunya memegang pistol digenggamannya sedangkan yang lainnya memegang senjata tajam lainnya. Berhenti didepan mereka dengan jarak 2 meter dari mereka berdiri.
“Siapa kalian?” Theo yang membuka suara lebih dulu.
“Malaikat maut kalian.”. Jawab salah satu orang itu disertai gelakan tawa rekannya yang lain.
“Malaikat maut kok buruk rupa..minimal seganteng Cha Eunwoo kalo mau ngaku malaikat.”
Celetukan ngawur gak tau tempat itu tercetus dari mulut korban tembak beberapa saat lalu,seakan tidak sadar bahwa dia mengantarkan nyawanya dan teman-temannya.
Chaewon dan Minju merutuki mulut besar Leya yang gak difilter itu,seenggaknya tidak untuk sekarang bisa tidak sih?
Sedangkan ketiga lelaki lainnya hanya diam tidak mau komentar,mereka sudah pernah melihat sendiri betapa beraninya mulut Leya bahkan ketika lawannya seorang yang bertubuh lebih besar berkali lipat lebih besar darinya.
“Apa?beraninya gadis ingusan sepertimu menghina kami!”
Seseorang yang memegang pistol itu nampak marah dan memerintahkan anak buahnya yang lain untuk mengepung dan menyerang mereka.
KAMU SEDANG MEMBACA
A to BarBar
Teen FictionGimana jadinya jika gadis yang gak ada kalem-kalemnya transmigrasi ke gadis yang suka berpakaian seksi dan kadang suka membully. Typo bertebaran🙏🏻 Bahasa non baku dan kasar🙏🏻 Update tidak menentu🐼
