Spesial part

18.8K 505 55
                                        

"Stella."

Stella langsung menoleh kearah pemilik suara itu. Di ujung lorong, berdiri seorang siswa laki-laki berkacamata. Wajahnya terlihat tegang, matanya gelisah.

"Iya?" sahut Stella dengan nada pelan.

Cowok itu menelan ludah sebelum bicara, "L-lo disuruh pak Bima ke gudang yang ada di belakang sekolah... katanya ada yang mau dia obrolin sama lo."

Stella mengerutkan keningnya, menatapnya heran. Ada yang janggal. "Ke belakang sekolah? Kenapa nggak di ruang guru atau ruang kepala sekolah aja?" tanyanya hati-hati.

Cowok itu terlihat semakin gelisah. "G-gue nggak tahu, yaudah gue duluan ya," katanya cepat, lalu buru-buru melangkah pergi tanpa berani menatap Stella lagi.

Stella menatap punggungnya yang menjauh, alisnya makin berkerut. "Aneh banget..." gumamnya pelan. Ia melipat tangannya di depan dada, ia lalu menunduk sebentar sambil berpikir.

"Tumben-tumbenan pak Bima mau ngobrol sama aku," ucapnya lirih, masih berbicara pada dirinya sendiri.

Ia menarik napas panjang, ekspresi wajahnya menunjukkan kebimbangan. "Kesana nggak ya? Tapi... kalo ini jebakan si Liora gimana ya?" ujarnya dengan nada cemas.

Tangannya terangkat mengusap tengkuknya yang tiba-tiba terasa dingin. "Tapi kalo aku nggak dateng, terus beneran pak Bima nyariin aku, bisa runyam juga."

Stella mengerucutkan bibirnya, bahunya terkulai lemas. "Aduh, males banget. Tapi kalo nggak kesana nanti malah disangka ngelawan guru lagi..."

Hening sejenak. Angin dari jendela di ujung lorong menggerakkan rambut Stella perlahan.

Dia akhirnya mendesah panjang dan menepuk pipinya pelan.

"Yaudah deh, kesana ajalah," gumamnya dengan nada pasrah. Lalu senyum miring muncul di wajahnya. "Kalo ternyata ini ulah si Liora dan gengnya, tinggal aku tabok aja tuh muka sok cantiknya."

Suaranya pelan tapi penuh tekad. Ia merentangkan tangan dan kakinya, melakukan pemanasan kecil. "Kalo mereka beneran nyari masalah sama aku, berarti ini saatnya sabuk itemku beraksi," ujarnya sambil tersenyum lebar, meski nada suaranya setengah bercanda.

Ia mulai melangkah perlahan ke arah belakang sekolah. Langkahnya mantap, tapi di dalam hatinya masih ada sedikit rasa was-was.

Lorong semakin sepi.

"Empat tahun nggak latihan, semoga ototku masih inget caranya mukul," gumamnya pelan, sambil menyunggingkan senyum tipis.

Ketika Stella berbelok di ujung lorong, suara langkahnya bergema samar, semakin jauh, menuju arah belakang sekolah yang mulai terasa sunyi dan sedikit menyeramkan.

Begitu melewati belokan lorong yang menuju gudang di belakang sekolah, Stella bisa merasakan udara yang lebih lembap. Pepohonan rindang menutupi sebagian besar cahaya matahari. Ia melangkah perlahan, pandangannya menyapu sekeliling.

"Pak Bima?" panggilnya dengan hati-hati, suaranya sedikit menggema. Tapi tak ada jawaban.

Hanya suara burung dan gemerisik daun yang menjawab.

Stella mengerutkan kening, menoleh ke kiri dan kanan. "Aneh... nggak ada siapa-siapa."

Tiba-tiba, terdengar suara langkah kaki dari arah belakang bangunan gudang. Stella langsung memutar tubuhnya cepat, sikap tubuhnya langsung berubah siaga.

"Siapa di sana?" tanyanya lantang.

Lalu muncullah dua pria berbadan besar dari arah belakang gudang. Langkah mereka berat dan berisik, membuat Stella otomatis menghentikan gerakannya. Gadis itu menghela napas pelan, matanya menatap datar ke arah dua pria tersebut.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Nov 16, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

A New Chapter Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang