Tap. Tap. Tap.
Suara langkah kaki terdengar pelan namun jelas di antara alunan musik lembut restoran. Miranda mendengus pelan, kedua matanya menatap kosong pada map cokelat di depannya yang masih belum ia sentuh.
Ia mengira suara langkah kaki itu milik Elara yang kembali, mungkin untuk melanjutkan ceramahnya.
"Apa lagi…" gerutunya malas.
Kepalanya terangkat perlahan, siap melontarkan makian, namun gerakannya langsung terhenti. Tatapannya membeku. Ternyata bukan Elara yang berdiri di seberang meja, melainkan sosok pria dengan tatapan tenang namun tajam.
"Ngapain lo?" Tanya Miranda datar, nadanya jelas penuh kejengkelan.
Orang itu menghela napas panjang, lalu tanpa banyak bicara, dia menarik kursi dan duduk di tempat yang sebelumnya diduduki Elara.
"Duduk," ucapnya pelan tapi tegas, matanya tak lepas dari wajah Miranda yang terlihat kusut.
Miranda sempat hendak pergi, tapi akhirnya menuruti ucapan itu dengan desahan kesal.
"Mau apa lagi? Gue lagi nggak mood dengerin ceramah lo," ujarnya tajam sambil menyandarkan tubuh di kursi.
Orang itu menatap Miranda datar.
"Kalau capek, udahin, kak," katanya tenang.
Miranda langsung berdecak kesal.
"Gue udah bilang berkali-kali, jangan ikut campur."
"Gue peduli sama lo," jawab orang itu tanpa ragu.
Miranda terkekeh miring, ia menatap orang itu dengan sinis.
"Gue atau dia?" tanyanya dengan nada mengejek.
Orang itu diam tidak menjawab. Tatapannya tetap fokus menatap kearah Miranda.
"Lo sama dia." Ujar orang itu, dengan raut wajah serius.
Miranda tertawa kecil, tapi tawanya terasa hambar.
"Lo emang udah kenal gue dari kecil, Evan. Tapi bukan berarti lo bisa ngatur-ngatur gue," ucapnya pelan, suaranya bergetar di akhir kalimat.
•••
"Boncel!" seru suara itu lantang.
Stella mengerjapkan matanya, kakinya langsung berhenti di tempat, membuat sepeda yang ia tuntun ikut berhenti. Penjaga keamanan baru saja membuka gerbang rumahnya.
Disana, di depan gerbang rumahnya-- terlihat Evan yang sedang duduk diatas motornya.
Evan mengangkat dagunya. "Berangkat bareng gue. Disuruh kakak lo," ujarnya santai, senyum tipisnya muncul di bibirnya.
"Disuruh kak Elara?" tanya Stella sambil menaikkan sebelah alisnya.
Evan mengangguk ringan. "Iya."
"Emang kakak kemana sih? Kenapa nggak langsung ngomong sama aku?" tanya Stella, nada suaranya heran.
Pagi ini terasa janggal, Elara tidak muncul di meja makan, tidak ada sapaan lembut seperti biasa, dan hanya ada pesan singkat di ponselnya
• "Jangan lupa sarapan."
Tanpa ada informasi ke mana gadis itu pergi.
Evan hanya mengangkat bahunya acuh. "Nggak tahu."
Ia lalu turun dari motor, ia berjalan mendekat kearah Stella yang masih termenung. Tubuhnya lalu di condongkan ke arah Stella, dan tanpa aba-aba, jemarinya langsung menyentuh ujung hidung gadis itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
A New Chapter
FantasyStella terkejut, kenapa dia tiba-tiba masuk kedalam dunia asing ini? Dan sialnya, kenapa harus masuk kedalam raga yang paling di bencinya? Apa karena Stella memaki karakter figuran itu atau karena apa? Cover from Pinterest
