Saat ini Stella sedang duduk sendirian di ruang tamu. Tatapannya kosong, menembus udara tanpa arah. Sesekali ujung jarinya mengetuk lutut, tapi pikirannya sedang pergi entah ke mana.
Dia menghela napas panjang, lalu menepuk pipinya dengan kedua tangannya.
"Stella, jangan ngelamun terus," ujarnya pelan, mencoba menyadarkan dirinya sendiri.
Lalu dia mulai mengedarkan pandangannya, mengelilingi seisi ruangan.
"Yang lain mana, ya?" gumamnya bingung.
"Tadi kak Elara sama mama masih di sini. Sekarang ke mana mereka?"
Ia mendengus kecil lalu mengerucutkam bibir.
"Tuh kan, gara-gara kebanyakan ngelamun, jadinya ditinggal," ucapnya dengan nada kesal bercampur geli.
Pandangannya lalu terhenti saat melihat seorang wanita paruh baya yang hendak lewat didepannya, seraya membawa nampan kosong.
"Bi!" seru Stella sambil tersenyum lebar.
Wanita itu segera berhenti dan menatap Stella sopan.
"Iya, nona. Ada yang bisa saya bantu?" tanyanya lembut.
"Bi, bibi lihat mama sama kak Elara nggak?" tanya Stella sambil mencondongkan tubuh.
Wanita paruh baya itu menganggukkan kepalanya.
"Nona Elara tadi naik ke kamar, dan nyonya sekarang ada di taman belakang," jawabnya.
Stella mengangguk pelan.
"Oke, makasih ya, bi."
"Sama-sama, nona," balas wanita itu sambil berlalu pergi.
Begitu wanita itu menghilang di balik dinding, Stella menatap kosong ke depan lalu mengusap dagunya dengan jari telunjuk.
"Aku nggak mau ke kamar. Kalau ke kamar, pasti ngelamun lagi."
"Aku butuh orang buat diajak ngomong," gumamnya sambil melipat tangan di depan dada.
Lalu dia menatap langit-langit.
"Ya iyalah aku butuh orang, yang bisa diajak ngomong kan cuma orang, bukan benda mati," ujarnya kepada dirinya sendiri sambil memukul pelan kepalanya. "Dasar Stella."
"Ke mama atau ke kak Elara ya?" tanyanya lagi, seraya berpikir sejenak.
"Ah, ke mama aja deh," ujarnya akhirnya, kemudian dia mulai berjalan menuju halaman belakang sambil bersenandung pelan.
Udara di luar terasa sejuk, angin sore meniup pelan rambutnya yang terurai. Stella melangkah ringan di antara tanaman bunga yang tumbuh rapi di pinggir jalan setapak menuju taman belakang.
Langkahnya ringan, bahkan sesekali dia bersenandung kecil.
"Nah, itu dia," ujarnya pelan ketika melihat Dania duduk di kursi taman,
Posisi Dania sedang duduk membelakangi dirinya.
Lalu senyum nakal muncul di wajahnya.
"Aku kagetin, ah," katanya pelan dengan mata berbinar.
Namun niatnya langsung terhenti begitu mendengar suara Dania yang sedang menelpon, nada suaranya keras dan tegas, jauh dari lembut seperti biasanya.
"Anda kehilangan akal atau bagaimana? Saya menghubungi anda bukan berarti saya ingin menyerahkan hak asuh Stella pada anda!"
Stella langsung mematung di tempat. Jantungnya berdetak cepat, dan napasnya tiba-tiba terasa berat.
'Hak asuh? Maksud mama... apa?' batinnya bingung.
KAMU SEDANG MEMBACA
A New Chapter
FantasyStella terkejut, kenapa dia tiba-tiba masuk kedalam dunia asing ini? Dan sialnya, kenapa harus masuk kedalam raga yang paling di bencinya? Apa karena Stella memaki karakter figuran itu atau karena apa? Cover from Pinterest
