Chapter 33

14K 1.1K 108
                                        

"MIRANDA! KAMU BENAR-BENAR KETERLALUAN!" bentak Haris keras begitu mereka masuk ke ruang tamu.

Miranda, yang sejak tadi lengannya digenggam erat oleh sang papa, dia langsung menepis tangan Haris dengan kasar. Rambutnya sedikit terlihat berantakan, bibirnya terkatup tegang menahan emosi.

"Keterlaluan dalam hal apa, pa?" tanyanya dengan nada dingin, penuh sinis. "Aku cuma lagi coba dapetin apa yang aku mau."

Haris memejamkan matanya, mencoba menahan emosi. "Apa yang kamu mau? Jacob? Atau menarik rambut orang? Di depan umum?" suaranya bergetar karena marah, tapi tetap berusaha menahan diri.

Miranda mendengus keras. "KENAPA PAPA MARAH? APA KARENA AKU NARIK RAMBUT PUTRI KESAYANGAN PAPA ITU, HAH?" Nada suaranya meninggi, Miranda menatap menantang kearah Haris.

"MIRANDA!" bentak Haris sampai wajahnya mulai memerah.

Miranda tersenyum getir. "Apa? Papa mau tampar aku? Silakan," ucapnya sambil menundukkan kepalanya, dia lalu kembali menatap Haris dengan mata berkaca-kaca. "TAPI YANG AKU OMONGIN ITU BENER KAN? PAPA MARAH SAMPE SEGININYA CUMA KARENA BOCAH SIALAN ITU!"

Nada suaranya meninggi, membelah keheningan ruangan tamu.

"JAGA UCAPAN KAMU!" desis Haris dengan mata yang berkilat semakin tajam.

Miranda langsung tertawa sarkastik, tawa yang terdengar seperti teriakan kesakitan. "PA, AKU CUMA NARIK RAMBUT DIA, BUKAN NGERUSAK HIDUP DIA! JANGAN BERLEBIHAN. DIA BAHKAN NGGAK TAHU KALAU PAPA ITU PAPANYA! SEDANGKAN AKU..." suaranya mulai bergetar. "Aku yang dari dulu di sini. Tapi apa? Papa bahkan nggak pernah nganggep aku ada."

Haris menatap Miranda dengan rahang mengeras. Kedua tangannya mengepal di kedua sisi tubuhnya.

"Dia nggak tahu apa-apa, Miranda." suara Haris melemah, tapi tetap dingin.

Miranda mengangguk pelan, namun senyum getir masih menempel di bibirnya. "IYA, DIA NGGAK TAHU APA-APA. DAN ITU YANG BUAT AKU SEMAKIN BENCI SAMA DIA!" bentaknya, suaranya pecah di akhir kalimat.

"MIRANDA!" bentak Haris lagi, tapi kali ini Miranda langsung memotong dengan suara yang lebih lirih.

"Dia nggak pernah tahu papa ada... tapi kenapa papa segitu pedulinya sama dia?" suaranya melemah, tatapannya mengarah kelantai. "Dan... apa papa sadar, kalau ini pertama kalinya papa mau ngobrol lama sama aku? Berdua. Karena dia." Miranda menunjuk ke arah pintu rumah dengan tangannya bergetar.

Air matanya akhirnya jatuh.

"Aku dari kecil hidup di rumah ini, pa. Tapi papa nggak pernah lihat aku. Papa cuma kerja, kerja, kerja. Pulang, langsung ke kamar, atau ke ruang kerja. Kita bahkan nggak pernah makan bareng... hal kecil, tapi nggak pernah kita lakuin. Bahkan waktu mama masih ada..." suaranya nyaris seperti bisikan, namun penuh luka.

Haris tetap diam.

Miranda mengusap air matanya dengan kasar. "Dan tadi... untuk pertama kalinya juga aku ngikutin papa. Aku cuma mau dapetin apa yang aku mau. Tapi yang aku dapet, papa lebih belain dia daripada aku." Ia menatap papanya dengan mata sembab. "Jujur pa, papa pasti juga nggak punya keinginan buat belain aku, kan?"

Haris menarik napas panjang. "Karena kamu yang salah, Miranda. Pak Jacob sudah--"

"AKU TAHU!" potong Miranda cepat, nada suaranya tinggi tapi melemah di akhir. "Aku tahu Jacob udah punya pacar. Aku tahu dia punya Elara. Tapi apa salahnya aku berjuang buat dapetin cowok yang aku mau, pa? Apa itu salah?" ucapnya pelan.

Haris menatap putrinya tajam, lalu menggeleng pelan. "Kamu sudah dewasa, Miranda. Seharusnya kamu tahu mana yang benar dan mana yang salah." Nadanya dingin, tapi terselip nada lelah. "Dan jangan limpahkan amarah dan kekecewaan kamu pada putri saya. Ini semua salah saya."

A New Chapter Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang