Chapter 32

12.6K 1.1K 101
                                        

Author POV

"Om," ujar Evan pelan.

Suasana yang tadinya hanya berisi percakapan formal mendadak membeku. Stella yang sejak tadi masih digandeng oleh Evan, sontak menoleh dengan dahi berkerut.

'Om? Siapa?' batin Stella bingung.

Kini mereka berdiri di depan meja tempat Jacob, Miranda, dan Haris duduk. Sedangkan di belakang Stella berdiri Elara dan Leon.

"Evan," ucap Haris dengan senyum lebar.

Evan membalas dengan senyum tipis, sedikit menunduk hormat.

Stella menatap keduanya bergantian, mencoba memahami situasinya. Tapi sebelum sempat ia berpikir lebih jauh, kursi di sisi meja bergeser keras. Jacob berdiri, wajahnya berubah terkejut begitu melihat siapa yang berdiri di depan mejanya.

"Sayang," ucap Jacob pelan, matanya membulat saat pandangannya bertemu dengan Elara.

Elara tetap diam dengan senyum tipisnya. Senyum tipisnya tak mampu menutupi hawa dingin di sekelilingnya. Ia hanya menatap Jacob tanpa mengeluarkan sepatah katapun.

Jacob dengan cepat melepaskan pelukan Miranda dari lengannya dengan kasar, membuat wanita itu mendengus kesal dan menatap ke arah Elara serta Stella dengan tatapan sinis penuh amarah.

"Kamu kok ada di sini?" tanya Jacob sambil melangkahkan kakinya mendekat ke arah Elara.

Elara tidak menjawab, hanya tersenyum tipis. Leon yang berdiri di sampingnya segera maju setengah langkah, mendorong tubuh Jacob pelan.

"Awas," ucap Jacob dengan nada rendah, menahan emosi.

"Ngapain lo di sini? Sama dia?" tanya Leon, tatapan tajamnya mengarah tepat kearah mata jacob.

Jacob tidak menjawab pertanyaan itu. Tatapannya mengarah ke arah Elara, dan meski ekspresinya datar, sorot matanya dipenuhi kekhawatiran.

"Sayang, aku di sini cuma meeting. Jadi kamu nggak perlu mikir yang nggak-nggak, ya." ucap Jacob lembut, seraya mencoba meraih tangan Elara.

Namun sebelum jarinya sempat menyentuh tangan Elara, Stella lebih dulu menepis tangan Jacob dengan kencang.

"Meeting?" suara Stella meninggi, nada ketusnya membuat semua mata beralih menatapnya. "Terus ngapain pake peluk-pelukan segala?"

Ia lalu menarik tangan kakaknya dan menyembunyikan tubuh Elara di balik tubuhnya, sekarang tubuh mungilnya berdiri kokoh didepan Elara.

Miranda menatapnya tajam. "Yaelah, cuma kayak gitu doang, lebay," sindirnya dengan nada suara yang dipenuhi oleh nada ejekan.

Tatapan Stella langsung beralih kearah Miranda, dia menatap tajam gadis itu.

Ia lalu menepis genggaman Evan yang berusaha menahannya.

"Lebay? Kamu punya otak nggak sih?" ujarnya tajam, bahkan nada suaranya sampai bergetar karena marah. "Kamu yang lebay! Udah tahu nih cowok pacar kakak aku, tapi kamu, dengan bedak dua puluh lapis itu, masih aja nempel-nempel kayak tokek!"

Beberapa orang di restoran menahan napas karena ucapan itu. Miranda langsung menggeram marah, matanya membulat. Ia hendak maju, tapi Haris lebih cepat memegang lengannya erat.

"Udah," ujar Haris datar namun tegas.

Miranda berdecih kasar. "NGGAK USAH IKUT CAMPUR, PA!" bentaknya, mencoba melepaskan genggaman Haris dari lengannya.

Evan kembali mencoba meraih tangan Stella untuk menahan, tapi Stella menepisnya lagi. "Kamu juga nggak usah ikut campur!" katanya tajam, matanya masih terpaku ke arah Miranda.

A New Chapter Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang