Stella POV
"Kak, kamu sama kak Leon duduk di sini aja, ya. Aku dapet kursi yang di sana," ucapku sambil nunjuk kursi yang ada dibarisan depan.
"Tenang aja, aku nggak papa kok! Masih di ruangan yang sama juga, kan, walau tempat duduknya agak jauh."
Elara sempat membuka mulut, tapi nggak jadi karena Leon yang buka mulut duluan, dia kelihatannya mau protes.
"Lo duduk aja sebelah Elara, La. Biar gue yang di sana," ucap Leon.
Aku langsung gelengin kepala. "Nggak mau, kak! Kak Leon mending duduk di sini sama kak Elara. Kalo kalian nggak nurut..." aku melipat tangan di dada dan menatap mereka dengan tajam, "...aku bakal ngambek!"
Elara menatapku sambil menghela napas panjang. "Udah turutin aja," katanya sambil melirik ke arah Leon yang tampak heran tapi akhirnya nganggukin kepalanya. Mereka berdua lalu duduk berdampingan, dan aku langsung tersenyum puas.
"Yaudah, aku kesana, ya. Siapa tahu yang duduk di sebelah aku cogan," ujarku sambil mengedip nakal.
Elara cuma geleng-geleng kepala, sementara Leon nyengir geli. Aku membalas dengan senyum lebar dan melambaikan tangan sebelum berjalan ke kursiku, yang ada dua baris di depan mereka.
Begitu duduk, aku langsung melirik ke arah Leon dan Elara. Mereka masih kelihatan canggung.
Aku langsung senyum waktu liat itu. Perfect. Plan berjalan mulus.
Sekarang aku harus liat film horor sendirian, dan sebenarnya film horor ini sengaja banget aku pilih. Buat apa? Ya biar Elara takut, terus refleks meluk Leon. Aduh, rencana sinetron banget nggak sih aku? Tapi yaudah lah, demi cinta mereka berdua, aku rela jadi sutradara cinta dadakan.
Aku menarik napas dalam. Oke, fokus. Aku sebenarnya juga takut sih sama film horor, tapi demi misi cinta ini, aku harus kuat.
"Boncel."
Suara itu. Suara yang familiar banget. Aku langsung noleh ke samping, dan begitu lihat siapa yang berdiri di situ, aku langsung mengalihkan pandangan lagi sambil mendesah berat.
Evan.
Dia berdiri di sebelah kursiku dengan senyum lebar yang keliatan nyebelin banget. "Sendiri aja? Gue temenin, ya," ujarnya santai sambil duduk di kursi sebelahku tanpa izin.
Aku cuma diam, malas nanggepin. Mood-ku yang tadinya bagus langsung turun drastis.
Evan coba nyolek pipiku, aku dengan cepat menepis tangannya sambil melotot garang kearahnya.
Dia malah nyengir lebar, nggak kelihatan merasa bersalah sama sekali. "Ngapain nonton film horor sendiri? Emang nggak takut, Boncel?" katanya dengan nada menggoda.
Aku mendengus. "Biasa aja," jawabku datar tanpa menoleh.
Evan berdecak pelan. "Nggak percaya gue," katanya sambil nyender santai ke kursi.
Aku menatapnya sekilas dan mengangkat bahu. "Terserah." Lalu pandanganku kembali ke layar bioskop yang mulai hidup. Lampu-lampu redup, dan suara pembuka film mulai terdengar.
"Sana, kak. Jangan ganggu aku," ujarku tanpa mengalihkan pandangan.
"Dih, nggak mau. Ini kursi gue, kok," sahut Evan santai.
Aku sontak menoleh kearahnya dengan wajah terkejut. "Hah? Kok?"
Evan mengangkat tiketnya, menunjukkannya tepat di depan wajahku. "Tuh, lihat nomornya. Sama, kan?"
Aku memicingkan mata, memastikan, dan... benar. Nomor kursinya beneran sama.
"Kamu becanda, kan?" tanyaku pelan dengan nada nyaris putus asa.
KAMU SEDANG MEMBACA
A New Chapter
FantasyStella terkejut, kenapa dia tiba-tiba masuk kedalam dunia asing ini? Dan sialnya, kenapa harus masuk kedalam raga yang paling di bencinya? Apa karena Stella memaki karakter figuran itu atau karena apa? Cover from Pinterest
