"KENAPA GAGAL, HAH!" bentak suara di ujung telepon, nadanya tajam dan penuh amarah.
Liora menutup matanya, berusaha menahan kesal yang mulai naik ke ubun-ubun. Ia menghela napas panjang, lalu punggungnya disandarkan ke kursi.
"Gue juga nggak nyangka bisa gagal," gumamnya pelan.
Padahal rencananya sudah disusun matang, sederhana tapi kejam. Ia menyuruh Seren untuk merekam video diam-diam, membuat seolah Stella sedang memukulinya. Lalu video itu akan dikirim di akun sosial media milik sekolah.
Dan boom. Stella pasti akan dihujat, dibully, bahkan dijauhi oleh semua orang, sampai akhirnya ia akan menangis dan hancur sendiri.
Tapi rencananya malah gagal.
"Sial…" desis Liora, menggigit bibir bawahnya dengan kesal. Ia masih bisa merasakan nyeri di bagian pantatnya akibat terjatuh tadi. "Badan mungil itu ternyata bisa bela diri," gumamnya.
"HEH, LO DENGERIN GUE NGOMONG NGGAK?" bentak suara di telepon lagi, kali ini lebih keras dari sebelumnya.
Liora menghela napas berat dan menjauhkan ponselnya dari telinga. "Denger," jawabnya malas, suaranya datar tanpa emosi.
"TERUS SEKARANG LO MAU GIMANA?" suara di seberang masih terdengar kasar.
Liora memutar bola matanya jengkel. "Terus lo mau gimana, sekarang?," tanyanya ketus, "mau diterusin atau udah?"
Suasana di seberang hening beberapa detik, hanya terdengar napas berat orang itu. Lalu terdengar decakan kesal.
"Terusin dulu. Besok lo harus ganggu dia lagi. Kalo sampe gagal lagi, lo harus balikin semua uang yang udah gue kasih. Paham!" suara itu menekan di setiap katanya.
Liora sontak menegakkan tubuhnya. Matanya membulat penuh emosi.
"APA-APAAN!" bentaknya, "nggak ada tuh yang namanya balikin uang! Uang yang udah lo kasih nggak bakal gue balikin!"
"Liora--"
Tut.
Sambungan telepon langsung terputus.
Liora menatap layar ponselnya yang kini gelap, napasnya menjadi memburu.
Brak!
Ia memukul meja belajarnya dengan keras, sekali, dua kali, hingga tumpukan buku di tepi meja jatuh berserakan ke lantai.
"Sialan!" desisnya di antara giginya yang terkatup rapat. "Uang itu nggak boleh diambil lagi sama dia…"
Ia menunduk, menatap pantulan dirinya di layar ponsel yang mati. Matanya penuh amarah bercampur kegelisahan.
Tangannya meremas ujung meja, sendi jarinya memutih. Dalam benaknya, wajah Stella kembali terbayang, senyum polos gadis itu terasa seperti ejekan di kepalanya.
Liora menegakkan tubuhnya perlahan, matanya menatap kosong ke arah dinding kamarnya.
"Oke, Stella…" ujarnya lirih tapi sarat dengan nada kebencian, "lo pikir udah menang? Besok, gue pastiin lo bakal nyesel."
•••
Keesokan harinya
Stella berjalan di sepanjang koridor sekolah dengan wajah cemberut. Sepatunya menjejak lantai dengan langkah kesal, sementara tas ranselnya bergoyang di bahunya.
"Nggak jelas banget deh," gerutunya pelan tapi penuh emosi. "Ngapain juga ngajak aku nonton film robot. Dia kira aku cowok atau apa?" gumamnya sambil manyun.
Langkahnya berhenti sejenak, "Terus ujung-ujungnya aku disuruh-suruh! Dia kira aku babu dia, hah? Emang ya, Kak Evan tuh ngeselin pake banget!"
Stella mendengus keras, rambutnya yang dikuncir ekor kuda ikut bergoyang karena gerakannya. "Untung aja utang balas budi aku tinggal satu lagi," ujarnya pelan, kali ini nada suaranya terdengar sedikit lega, meski wajahnya masih terlihat kesal.
KAMU SEDANG MEMBACA
A New Chapter
FantasyStella terkejut, kenapa dia tiba-tiba masuk kedalam dunia asing ini? Dan sialnya, kenapa harus masuk kedalam raga yang paling di bencinya? Apa karena Stella memaki karakter figuran itu atau karena apa? Cover from Pinterest
