Chapter 29

13.7K 1K 59
                                        

"Halo, kak," sapaku cepat begitu menerima panggilan dari Elara.

"Kamu di mana?" suara Elara terdengar di seberang sana. "Dari tadi nggak balik-balik ke sini, loh. Ini udah satu jam, lama banget."

Aku langsung menutup mulutku dengan tangan kiri, mencoba menahan tawa yang hampir pecah.

Duh, ternyata udah sejam. Kirain baru setengah jam.

Aku berdehem pelan, mencoba tetap tenang.

"Oh... iya, kak. Maaf, aku lupa ngabarin," ucapku, berusaha menjaga nada suaraku agar tetap terdengar santai. "Sekarang aku lagi sama Catrin, tadi dia minta tolong sama aku."

"Catrin?" suara Elara terdengar heran. "Emangnya dia minta tolong apa?"

Aku menggigit bibir bawahku, mencoba berpikir cepat.

Kenapa otakku tiba-tiba mendadak blank sih, padahal tadi udah buat alasan yang banyak tapi kenapa nggak ada satu pun yang nyangkut.

"Ban mobilnya bocor, kak," ujarku mencoba terdengar menyakinkan.

"Lah kok... terus kenapa minta tolong sama kamu? Kan bisa telepon bengkel," balas Elara, nada suaranya terdengar heran.

Aku menepuk keningku pelan. 'Ya ampun Stella, kenapa tadi bilangnya ban bocor sih? Kan maksudnya mau bilang Catrin yang lagi bocor... oon banget aku!'

"Jadi gini kak," ujarku cepat, mencoba membuat alesan yang lebih masuk akal. "Aku tuh punya kenalan orang bengkel yang kebetulan tinggal nggak jauh dari posisi ban mobilnya Catrin yang bocor. Tapi aku... nggak punya nomor si kenalan itu. Jadi, ya, aku harus ke bengkelnya langsung."

Begitu kalimat terakhir keluar, aku langsung menutup mata rapat-rapat. Udah deh, makin nggak masuk akal aja nih alasanku.

Hening.

Di seberang sana, Elara belum menjawab. Suara pelan dari kafe tempatku duduk terasa makin jelas-- dentingan gelas, obrolan pelan, dan suara musik akustik yang menenangkan. Tapi justru bikin aku deg-degan, karena Elara belum ngomong apa-apa.

"Bloon banget sih aku…" gumamku tanpa suara.

"Oh, gitu," akhirnya Elara bicara. Nada suaranya tenang. "Ya udah, kalau gitu. Kalau ada apa-apa, langsung kabarin kakak ya."

Aku langsung menganggukkan kepala meski Elara nggak bisa lihat. "Siap, kak!" jawabku ceria, semoga terdengar meyakinkan.

"Hmm, yaudah. Hati-hati ya, dek."

"Siap, kak! Aku pulang bentar lagi kok."

Begitu panggilan terputus, aku langsung mendesah lega. Rasanya beban di dada ikut terangkat.

"Fiuh…" hembusku pelan sambil menyandarkan punggung ke kursi.
Beberapa detik kemudian, senyum lebar muncul di wajahku.

"Berhasil lagi," bisikku senang.

Aku merapikan tas kecilku, lalu meneguk sisa minuman yang udah hampir dingin, lalu berdiri dan berjalan menuju kasir. Aroma kopi dari kafe itu terasa hangat, bercampur dengan cahaya sore yang masuk lewat kaca besar di sisi kanan.

Aku lalu membayar pesananku, setelahnya aku melangkah keluar dari kafe dengan langkah ringan.

Udara sore menerpa wajahku, membuat rambutku bergoyang pelan. Aku menarik napas dalam-dalam.
Langit mulai berwarna oranye keemasan, angin berhembus lembut, dan di dadaku cuma ada satu perasaan, puas.

"Misi pertama... done!" ujarku pelan sambil tersenyum. "Tinggal nyusun misi berikutnya, misi bikin hati Leon dan Elara bersatu."

Aku berjalan di trotoar dengan langkah kecil yang ringan, sesekali bersenandung kecil.

A New Chapter Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang