Chapter 27

13.3K 1.2K 84
                                        

Stella memasukkan buku pelajarannya satu per satu ke dalam tasnya. Setelah itu, tangannya meraih kotak bekal berwarna biru muda yang sejak pagi ia siapkan, bukan untuk dirinya, tapi untuk Evan.

Catrin, yang sedari tadi duduk di kursi sebelahnya sambil menggulung kabel earphone, menatap ke arah kotak bekal itu dengan kening berkerut.

"Lo nggak ke kantin?" tanyanya dengan raut wajah heran.

Stella menoleh dan berusaha menampilkan senyum santai.
"Nggak, Cat. Aku mau makan di taman aja," jawabnya sambil menutup resleting tas.

Bohong.

Dia hanya tak ingin Catrin tahu bekal itu sebenarnya bukan untuk dirinya. Ia bahkan sengaja membuat satu porsi supaya tidak menimbulkan kecurigaan.

Catrin menganggukkan kepalanya. "Yaudah, gue beli makanan di kantin dulu, nanti langsung nyusul ke taman."

Mendengar itu, Stella langsung berdiri dengan wajah paniknya.

"Nggak usah, Cat! Nanti kamu repot. Udah, kamu makan di kantin aja," ujarnya cepat, nada suaranya agak tinggi.

Catrin langsung mengerutkan keningnya, menatap Stella dengan pandangan menyipit.

"Lah, kenapa? Gue nggak repot kok," sahutnya dengan ekspresi heran.

Sedetik kemudian tatapannya berubah tajam. "Lo lagi nyembunyiin sesuatu dari gue, ya?"

Stella terkekeh gugup, mencoba terlihat santai tapi malah semakin terlihat mencurigakan.

"N-nggak kok, Cat! Kamu tuh... Terlalu nethink sama aku,” ujarnya seraya mengerucut bibirnya.

Catrin berdecak pelan, tapi sorot matanya tetap menatap menyelidik kearah Stella.

"Cat, udah ih... jangan liat aku kayak gitu," ucap Stella panik, menundukkan kepalanya sambil memainkan resleting tasnya.

Catrin akhirnya menghela napas panjang, lalu berdiri. Senyum lembutnya terukir ketika tangannya terulur mengusap puncak kepala Stella.

"Oke. Mungkin sekarang lo nggak mau ngasih tau gue, nggak apa-apa. Tapi kalau lo udah siap, lo harus cerita ke gue, ya?"

Stella mendongak dan tersenyum lega. "Siap, Cat! Dan abis makan aku langsung balik ke kelas, janji!"

Catrin ikut tersenyum, mengangguk pelan. "Oke, tapi inget... kalau ada apa-apa langsung telepon gue. Gue nggak mau lo kenapa-kenapa, ngerti?"

"Siap, kapten!" ujar Stella sambil memberi hormat dengan gaya konyolnya.

Catrin terkekeh. "Yaudah, gue ke kantin dulu. Jangan kelamaan di taman."

"Iyaaa," sahut Stella, melambaikan tangan dengan senyum lebar.

Setelah Catrin menghilang di balik pintu kelas, Stella langsung menarik napas panjang dan tersenyum kecil.
"Sayang Catrin banyak-banyak," gumamnya pelan.

Ia kemudian meraih kotak bekalnya, memeluknya erat, lalu berjalan keluar dari kelas sambil bersenandung kecil. Koridor sekolah terasa lengang, hanya suara langkahnya yang terdengar bergema pelan.

Stella menunduk, matanya fokus pada kotak bekal yang dibawanya. Tapi begitu dia berbelok--

Brug!

Kakinya menabrak sepasang sepatu. Ia langsung mendongakkan kepalanya, menatap pemilik sepatu itu.

"Maaf," ucap Stella cepat, lalu menundukkan kepalanya lagi.

Tak ada balasan. Ia pun mendongak perlahan. Di hadapannya berdiri seorang gadis berambut panjang, wajahnya cantik tapi sorot matanya tajam.

A New Chapter Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang