Chapter 26

14.8K 1.1K 54
                                        

"Stella." Suara panggilan itu membuat langkah Stella terhenti. Ia yang semula hendak memarkirkan sepedanya spontan menoleh ke belakang.

Di sana, terlihat seorang pria berdiri tak jauh darinya, postur tubuhnya tinggi, wajahnya terlihat gelisah, dan tangannya tampak menggenggam tali tas dengan gugup.

Stella memiringkan kepalanya, menatap pria itu dengan heran sambil menuntun sepedanya ke tempat parkir.

'Dia siapa?' batinnya bertanya-tanya.

"Iya?" sahut Stella akhirnya, nada suaranya tenang tapi raut wajahnya terlihat heran.

Stella lalu memarkirkan sepedanya dan membalikkan badan menatap kearah pria itu.

Pria itu berjalan perlahan mendekat kearah Stella. Begitu sampai di depan Stella, dia berhenti, menundukkan kepalanya, tak berani bertatap mata.

"Maaf," ujarnya pelan.

Stella menaikkan satu alisnya, pandangannya turun meneliti wajah pria itu, dan barulah ia sadar. Di pipi pria itu terdapat lebam, di sudut bibirnya sedikit robek, dan di bawah matanya tampak sembab.

"Maaf?" ulang Stella dengan dahi berkerut. "Tunggu, kenapa kamu minta maaf sama aku?"

Pria itu menghela napas panjang. Perlahan, dia mengangkat wajahnya. Mata mereka bertemu sesaat sebelum akhirnya pria itu kembali menunduk.

"Karena, gue yang masukin kecoa ke dalam tas lo," ucapnya lirih. "Dan gue juga yang gantungin sepeda lo di atas pohon."

Untuk beberapa detik, dunia Stella seperti berhenti. Mulutnya terbuka lebar tanpa suara, detik berikutnya kedua tangannya langsung menutup mulutnya yang terbuka lebar karena terkejut.

"K-kamu?" suaranya hampir tak keluar. "Kenapa…?"

Pria itu tidak langsung menjawab. Tatapannya terlihat kosong.

"Apa aku pernah buat salah sama kamu?" tanya Stella pelan tapi tajam, berusaha mencari alasan yang masuk akal.

Pria itu menggeleng lemah.

"Terus kenapa? Aku bahkan nggak kenal kamu," ucap Stella, kali ini lebih keras, nada suaranya bergetar menahan emosi. "Dan aku cewek loh! Kamu nggak malu, punya badan segede bagong tapi ngerjain cewek mungil kayak aku?"

Suasana parkiran itu seketika terasa sepi. Beberapa siswa yang lewat melirik penasaran kearah, tapi Stella tidak peduli.

Pria itu tetap diam. Hanya bibirnya yang terbuka sedikit, seperti ingin bicara tapi tak tahu harus mulai dari mana.

"Nama kamu siapa?" desis Stella akhirnya. "Aku bukan orang baik, jadi aku bakal laporin kamu ke guru BK. Biar kamu dihukum."

"Mario…" jawabnya pelan, suaranya nyaris tak terdengar. "Mario Adrian, kelas dua belas D."

"Oke, Mario Adrian kelas dua belas D," ulang Stella dengan nada datar. "Yaudah, sana. Aku nggak mau maafin kamu. Gara-gara kamu, sepeda pemberian papa aku harus masuk bengkel."

Mario menganggukkan kepalanya. "Sekali lagi gue minta maaf," katanya sebelum akhirnya membalikkan tubuhnya. "Terserah kalau lo nggak mau maafin gue."

Stella menatap punggung pria itu yang perlahan menjauh, ada sesuatu di dada Stella yang terasa aneh, bukan iba, tapi semacam kebingungan yang menekan di belakang amarahnya.

"Sayang banget," gumamnya pelan sambil menghela napas. "Padahal ganteng, tapi kelakuannya minus."

Ia lalu berjalan ke arah gedung sekolah, mencoba melupakan kejadian barusan. Tapi wajah Mario dengan lebam di pipinya terus muncul di pikirannya.

A New Chapter Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang